RADARSOLO.COM - Ada banyak metode diet atau pengaturan pola makan yang bisa diterapkan, guna meningkatkan kebugaran, kesehatan, status gizi, berat badan ideal, dan proses penyembuhan penyakit.
Dari berbagai pilihan diet itu, ada diet keto atau ketogenik dan diet mediterania.
Di mana dua metode diet itu memiliki perbedaan dalam pelakasaannya. Terutama terkait apa yang harus dimakan dan apa makanan yang harus dihindari.
Dilansir dari halodoc, diet keto dilakukan dengan mengonsumsi makanan tinggi lemak, protein dalam jumlah sedang, dan rendah karbohidrat.
Sedangkan diet mediterania mengacu pada pola makan penduduk kawasan Mediterania.
Yakni berfokus pada konsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan lemak sehat.
Diet Keto atau Mediterania, Mana yang Lebih Sehat?
Sama-sama sebagai metode diet atau pengaturan pola makan, baik diet keto dan mediterania memiliki tujuan yang baik dan menyehatkan bagi tubuh.
Di sisi lain, kedua metode diet itu juga memiliki kekurangan masing-masing. Tergantung siapa dan bagaimana melakukannya.
Diet Ketogenik (Diet Keto)
Diet keto atau ketogenik dilakukan dengan meningkatkan konsumsi lemak dan membatasi asupan karbohidrat secara ketat untuk memasuki proses ketosis.
Sehingga metabolisme tubuh menggunakan lemak sebagai bahan bakar, bukan gula.
Oleh karena itu, pelaku diet keto perlu membatasi asupan karbohidrat, termasuk dari buah-buahan, sayuran bertepung, biji-bijian, dan kacang-kacangan.
Sebaliknya, utamakan makanan tinggi lemak, seperti protein hewani, produk susu, sayuran, dan minyak atau mentega.
Sementara, dari segi peningkatan kolesterol jahat atau low density lipoprotein (LDL), diet ketogenik meningkatkan kadarnya setinggi 10 persen.
Diet mediterania
Pelaku diet mediterania sejatinya boleh makan makanan apa saja. Karena tidak ada makanan yang dikecualikan.
Namun, ada asupan tertentu yang harus dibatasi. Seperti daging merah, seperti daging sapi, babi, dan domba.
Serta sebisa mungkin mengurangi konsumsi makanan olahan dan makanan manis, termasuk biji-bijian olahan, produk daging olahan, makanan ringan, dan makanan tinggi gula.
Pelaku diet ini dianjurkan konsumsi lebih banyak sumber protein, seperti unggas, makanan laut, dan kacang-kacangan.
Berbanding terbalik dengan diet keto, diet mediterania mampu menurunkan kadar kolesterol jahat atau low density lipoprotein (LDL) sebanyak 5 persen.
Efek Samping Diet Keto dan Diet Mediterania
Diet Ketogenik
Diet keto jauh lebih ketat dan lebih sulit ketimbang diet mediterania.
Karena harus melacak asupan karbohidrat dengan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Saat proses penyesuaian diri, pelaku diet ini akan mengalami flu keto.
Ditandai dengan gejala berupa sakit kepala, mual, kelelahan, pusing, dan tidak bisa berpikir jernih.
Jika tak dijalankan dengan baik dan disiplin, diet ketogenik dapat meningkatkan risiko penyakit hati berlemak, sembelit, dan batu ginjal. Serta menimbulkan risiko kekurangan vitamin dan mineral dalam tubuh.
Diet mediterania
Diet mediterania sejatinya lebih fleksibel karena tak memiliki aturan ketat.
Pelaku diet ini masih diperbolehkan konsumsi yang manis. Namun harus memperhatikan jumlahnya dan lakukan pembatasan. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria