RADARSOLO.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) instruksikan Kementerian Kesehatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk lakukan penelitian mendalam terkait tanaman atau daun kratom.
Ya, hingga kini memang masih ada perbedaan pandangan beberapa instansi pemerintah mengenai tanaman kratom.
Ada instansi yang berpandangan tanaman itu bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan.
Di sisi lain, ada hasil penelitian yang menyebut soal tingkat candu kratom, seperti halnya narkotika.
Adapun sejauh ini, kratom tidak masuk dalam golongan narkotika. Seperti yang tertuang di Permenkes Nomor 36 Tahun 2022 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.
Terlepas dari dua pandangan berbeda mengenai kratom, dari sisi medis tanaman ini memang dinilai memiliki khasiat untuk pengobatan.
Fakta Kratom
Tanaman daun masih termasuk dalam keluarga tanaman kopi asli Asia Tenggara.
Tanaman ini banyak ditemukan di Thailand, Malaysia, dan Indonesia.
Kratom sudah lama dikenal dalam pengobatan tradisional, terutama banyak dikonsumsi oleh masyarakat Kalimantan.
Daun kratom kering bisa dimanfaatkan untuk membuat teh atau diolah jadi suplemen, yang bermanfaat untuk mengurangi rasa nyeri, meningkatkan kesehatan kulit hingga menaikkan libido.
Berikut beberapa fakta penting tentang kratom, dilansir dari halodoc:
1. Mengandung senyawa alkaloid
Daun kratom mengandung beberapa jenis senyawa alkaloid. Di mana masing-masing senyawa memiliki khasiat:
- Mitragynine: kandungannya memiliki efek 13 kali lebih kuat ketimbang morfin
- 7-hydroxymitragynine: memiliki efek sebagai obat analgesik atau pereda rasa sakit
- Speciociliatine: mampu meningkatkan energi, meningkatkan suasana hati, dan menurunkan intensitas rasa sakit
- Corynanthe Idine: bekerja dengan menghambat kontraksi kedutan
- Speciogynine: memiliki peran penting dalam menciptakan efek analgesik
- Paynantheine: menciptakan efek penghilang rasa nyeri
- Mitraphylline: kandungan untuk mengobati radang sendi, penyakit jantung, kanker, dan peradangan lainnya
2. Untuk pereda nyeri
Ada tiga jenis kratom, yang semuanya bisa menjadi pereda nyeri kronis.
Tiga jenis itu, yakni vena putih, vena hijau, dan vena merah.
Tiga jenis kratom ini efektif sebagai pereda nyeri dengan menempel pada reseptor opioid.
Khasiat dari meredakan nyeri ini didapat berkat senyawa 7-hidroksi mitraginin pada daun.
3. Sebagai antidepresen
Penggunaan kratom sebagai pengobatan tradisional, di antaranya ditujujan bagi orang-orang yang kecanduan opioid.
Yakni membantu meringankan gejala penarikan morfin dan etanol.
Daun kratom juga berpotensi sebagai antidepresan.
Di mana kandungan dalam daun kratom dapat menurunkan kadar kortikosteron, yang berkaitan dengan depresi.
4. Beragam cara konsumsi kratom
Daun kratom bisa dikonsumsi dengan berbagai cara.
Mulai dari dikunyah langsung, digerus, diasapi, atau diseduh jadi teh.
Selain itu, teknologi saat ini juga memungkinkan mengolah daun ini menjadi suplemen berbentuk pil atau bubuk.
5. Punya risiko efek samping
Konsumdi kratom dalam dosis kecil jarang berdampak pada kesehatan.
Namun, pada dosis yang lebih besar bisa memicu efek samping.
Umumnya, konsumsi dalam dosis besar menyebabkan munculnya efek samping ringan, seperti mual dan sembelit.
Meski begitu, beberapa orang mungkin mengalami efek kratom, seperti berkeringat, gatal, pusing, mulut kering, halusinasi, kejang, hingga kerusakan hati.
Selain itu, ada juga efek jangka panjang yang mungkin bisa terjadi. Seperti kulit wajah menjadi gelap, mulut kering, sering buang air kecil, anoreksia, penurunan berat badan, dan sembelit.
6. Beri efek memabukkan
Faktanya, daun kratom memang bisa memabukkan.
Kandungan zat aktif berupa mitragin dapat mempengaruhi otak dan sistem saraf.
Efek kratom bervariasi tergantung pada dosis dan jenis daunnya.
Pada dosis rendah, efek yang ditimbulkan seperti kafein.
Yakni memberikan energi dan meningkatkan mood.
Sementara pada dosis tinggi, kratom menyebabkan efek psikoaktif yang mirip dengan opioid.
Efek psikoaktif ini berpotensi menyebabkan ketergantungan.
Gejala yang ditimbulkan, seperti perasaan euforia, rileks, dan penekanan rasa nyeri.
Bukan Pilihan Utama
Fakta lain kratom adalah terkait penelitian terkait manfaatnya yang masih sangat terbatas.
Sehingga sebaiknya tak mengandalkan penggunaan kratom sebagai pengobatan utama untuk masalah kesehatan.
Pilih opsi lain yang lebih aman dan sesuai petunjuk dokter untuk pengobatan.
Apalagi cukup sulit untuk menentukan dosis secara pasti penggunaan daun kratom ini.
Belum lagi risiko efek samping yang bisa terjadi akibat daun ini yang perlu diwaspadai. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria