RADARSOLO.COM – Anak yang mengalami depresi, sering kali tidak dapat terdeteksi orang tua.
Itu diungkapkan Konselor Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKB P3A) Wonogiri Afrilin Dewi Purnama.
"Karena anak-anak belum bisa menyampaikan perasaannya dengan baik," ujar Dewi, sapaan akrab Afrilin Dewi Purnama.
Terkadang, anak juga merasa lebih takut kepada orang tuanya.
Mereka takut menyampaikan emosionalnya dan akhirnya memendam perasaannya.
Diungkapkan Dewi, anak lebih mudah menyampaikan perasaan yang dipendam kepada temannya.
Saat anak sulit menyampaikan perasaannya kepada teman atau orang tuanya, bisa jadi itu menjadi akar munculnya depresi pada anak.
Sebelum depresi, muncul kecemasan pada anak.
Yang ditakutkan, saat anak depresi bisa berakibat fatal dimana anak memilih jalan pintas melakukan hal tak diinginkan.
Itu karena anak merasa tak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
"Depresi ini ada gejala fisik dan nonfisiknya," kata dia.
Gejala fisik atau yang bisa nampak di antaranya adalah nafsu makan berkurang atau meningkat.
Baca Juga: Menikmati Speedboat Ala Sarangan dengan Harga Miring di Sukoharjo! Ini Dia Lokasinya
Bisa sulit tidur atau malah lebih suka tidur terus. Lalu menarik diri dari lingkungan sosial.
Sementara gejala nonfisik diantaranya anak merasa bersalah, sulit konsentrasi, sulit berkomunikasi atau bahkan anak beranggapan dirinya sudah tidak berharga.
"Bisa juga muncul rasa sedih yang berlebihan. Tidak ada keinginan melanjutkan kehidupan dan lebih memilih mengurung diri," papar Dewi.
Anak-anak yang mengalami depresi cenderung mudah gelisah.
Jika dilihat dari sudut pandang orang tua, masalah itu bisa diselesaikan
"Tapi karena tidak diungkapkan, perasaannya ditutupi rasa gelisah. Jadi anak seringkali saat ditanya orang tua 'kamu kenapa?' dijawab 'tidak apa-apa'. Anak berbohong padahal membutuhkan bantuan (menyelesaikan masalah,red)," beber dia.
Dewi menambahkan, depresi jangan dilihat dari sebesar apa masalahnya.
Tapi dilihat dampak kepada diri anak sebesar apa.
Menurut dia, untuk mencegah anak mengalami depresi, sistem di dalam keluarga atau pola asuh keluarga yang tinggal di satu rumah dengan anak harus ikut berkontribusi menangani masalah anak.
Contohnya, orang tua harus menjadi orang tua yang supportif.
Dalam hal ini, saat anak mengalami masalah tidak dilihat dari besar atau kecil masalah yang dialami anak.
"Tapi dilihat dari dampak masalah yang dialami terhadap anak," jelasnya.
Lalu, orang tua harus memahami anak. Jangan terus memaksakan anak untuk memahami orang tua.
Saat anak beranjak remaja, anak terkadang malu menceritakan masalah yang dialaminya kepada orang tua.
Saat sudah memahami anak, orang tua bisa menyelami akar masalah anak.
"Setelah itu memberikan intervensi. Intervensinya, saat anak sudah mengalami depresi, langkah tercepatnya bisa dibawa ke psikolog atau psikiater. Penanganan oleh profesional lebih tepat," ungkap Dewi.
Langkah yang bisa dilakukan dengan orang tua yakni bisa meluangkan waktu untuk berbicara dan lebih dekat dengan anak.
Fokus mendengarkan anak daripada memberikan ceramah.
Saat anak sedang bercerita, hindari mendikte anak. Lalu berikan hal-hal positif. Misalnya pujian saat anak bercerita pada orang tua.
"Sampaikan kekhawatiran orang tua dengan bahasa yang baik dan mudah dimengerti. Sampaikan sebagai orang tua sayang kepada anak," kata dia.
Bisa juga melakukan hobi bersama anak untuk mendekatkan hubungan orang tua dan anak. Orang tua juga harus memantau media apa yang sedang diakses anak.
"Mau tidak mau, orang tua mengikuti perkembangan zaman. Beri kepercayaan pada anak namun juga dipantau dengan cara tanpa membuatnya risih," pungkas Dewi. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono