Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Waspada Santap Olahan Daging Kurban Berlebihan, Imbangi Konsumsi Buah dan Rutin Olahraga

Angga Purenda • Selasa, 25 Juni 2024 | 00:17 WIB
CEK KESEHATAN: Warga mengecek tensi pada saat acara sambang warga di Desa Gatak, Kecamatan Ngawen, Klaten.
CEK KESEHATAN: Warga mengecek tensi pada saat acara sambang warga di Desa Gatak, Kecamatan Ngawen, Klaten.

RADARSOLO.COM - Momen Idul Adha identik dengan tradisi menyantap olahan daging kurban.

Tetapi apabila dikonsumsi secara berlebihan dapat memicu beragam risiko masalah kesehatan. Mengingat daging mengandung zat kolesterol serta lemak jenuh yang tinggi.

Ahli Gizi Puskesmas Bayat Dessy Sandra Dewi mengatakan, daging sapi memiliki kandungan kolesterol dan lemak lebih banyak daripada daging kambing.

Hanya saja saat diolah menjadi berbagai masakan seperti gulai membuat kandungan lemak dan protein semakin tinggi.

Dessy memiliki sejumlah saran yang bisa diterapkan untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit pasca mengonsumsi daging kurban secara berlebihan.

Diawali ketika hendak mengolah daging kurban yang ada di rumah untuk dikonsumsi kembali.

“Ketika hendak mengolah daging kurban kembali, dimasak dengan kandungan lemak dan garam yang lebih rendah. Kami sarankan untuk mengolahnya dengan tidak berlemak tinggi seperti dimasak gulai. Tetapi bisa mengolahnya dengan dipanggang,” ujar Dessy yang juga wakil ketua DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Klaten ini, Jumat (21/6/2024).

Dessy juga menyarankan agar tidak menyantap daging kurban baik sapi maupun kambing yang memiliki kandungan tinggi lemak. Salah satunya mengonsumsi jeroan, karena bisa berdampak pada kesehatan.

“Bagi mereka yang berusia 40 tahun ke atas perlu dipertimbangkan untuk tidak mengonsumsi bagian-bagian yang berlemak tinggi,” tambah Dessy.

Dessy juga menyarankan, ketika mengonsumsi daging kurban tidak melebihi porsi harian. Dalam sekali makan disarankan hanya 50 gram sampai 100 gram. Hal itu setara tiga sampai empat tusuk sate saja.

“Biasanya karena banyak stok, pagi, siang dan sore makan sate yang berlebihan. Belum lagi diolah tinggi garam seperti kecapnya banyak dan bumbu bermacam-macam. Itu yang membuat seseorang menjadi hipertensi,” ujar Dessy.

Cara mengolah daging kurban menjadi beragam masakan memicu munculnya beberapa penyakit. Padahal daging sebelum diolah sudah berasa asin sehingga cukup diolah dengan direbus bersama berbagai rempah.

Selain itu, setelah mengonsumsi daging kurban yang berlebihan, Dessy menyarankan untuk menyeimbangkan dengan mengonsumsi sayur dan buah dengan jumlah sesuai kebutuhan tubuh. Ada pun porsi sayur dan buah yakni setengah dari piring.

“Kebanyakan masyarakat tidak makan sayur. Jadi akhirnya ketika mengecek ke puskesmas, kolesterolnya naik. Syaratnya itu memperbanyak konsumsi sayur setelah menyantap daging. Untuk buahnya seperti jeruk yang mengandung vitamin C tinggi, membantu penyerapan penghancuran lemak, perlu juga,” ujar Dessy.

Dessy juga menyarankan agar setelah menyantap daging kurban dengan berbagai olahan masakan selama satu minggu juga dibakar dengan berolahraga. Salah satunya dengan jalan kaki dengan waktu tertentu secara rutin.

“Kalau makan daging kurban yang berlebihan biasanya kolesterolnya tinggi. Kemudian tekanan darahnya naik. Maka itu disarankan cek tensi. Untuk gejalanya seperti pusing, bagian tengkuk belakang tegang dan telapak kaki sakit saat berjalan. Kalau sudah keluar tanda gejala-gejala itu, kami sarankan untuk segera periksa dokter,” ucap Dessy.

Dia mengungkapkan, dampak dari berlebihan mengkonsumsi daging kurban yang diolah menjadi masakah tidak bisa dianggap sepele. Mengingat bisa memicu sakit stroke bagi mereka yang memiliki riwayat hipertensi dan tidak terkontrol tetapi nekat menyantap daging kurban secara berlebihan. (ren/bun)

Editor : Damianus Bram
#daging sapi #idul adha #ahli gizi #daging kambing #daging kurban #puskesmas bayat