RADARSOLO.COM-Kerapuhan tulang atau osteoporosis menjadi penyakit yang dialami hampir semua orang.
Terutama ketika memasuki lanjut usia (lansia).
Penyakit ini masuk sebagai silent diseases karena tidak ada gejala.
Dokter spesialis ortopedi Rumah Sakit Pandan Arang (RSPA) Boyolali dr. Haryo Wicaksono menerangkan, pengeroposan tulang mulai menyerang di usia 45 tahun.
Penyakit ini tidak memiliki gejala, sehingga tiba-tiba tulang menjadi rapuh.
Padahal, begitu terkena penyakit ini, tulang menjadi lebih rawan patah.
Pasien akan merasakan pengeroposan tulang ini ketika sudah lansia.
Seperti kasus patah tulang yang ternyata penyebabnya karena jatuh pelan.
Padahal umumnya, bagi usia remaja dan dewasa, terjatuh pelan hanya menimbulkan nyeri dan memar.
"Memang gejalanya tidak ada yang pasti. Tapi kita bisa waspada, semakin berusia lanjut, kita juga bisa merasakannya,” terang Haryo, Jumat (2/8/2024).
“Karena massa tulang terpadat itu puncaknya usia 30 tahun. Lalu muncul gejala, misal ada yang bilang, kok dulu tinggi, sekarang kelihatan pendek. Kelihatan membungkuk dan lainnya," lanjut dia.
Antisipasi penyakit ini bisa dengan pemenuhan nutrisi tubuh.
Seperti pemenuhan kebutuhan kalsium, vitamin D, aktivitas sesuai porsinya, dan berhati-hati jangan sampai terjatuh.
Kebutuhan kalsium tubuh minimal 500 miligram per hari.
Bisa didapat dari mengonsumsi susu, yogurt, sari kedelai dan lainnya.
Sedangkan kebutuhan vitamin D untuk dewasa 1.000- 2.000 IU per hari.
Pemenuhan vitamin D tak melulu dengan mengonsumsi suplemen multivitamin.
Justru di wilayah tropis seperti Indonesia, berjemur menjadi cara yang manjur.
Cukup berjemur pada pagi hari, yakni pukul 09.00. Durasi berjemur cukup 15 menit.
Usahakan bagian lengan dan kaki terpapar cahaya matahari.
"Selain itu, bagi penderita osteoporosis harus tetap bergerak sesuai porsinya. Karena orang dengan osteoporosis kalau tidak bergerak massa otot akan mengecil," ungkap Haryo.
Secara primer, osteoporosis menyerang lansia. Namun, pada kasus sekunder, juga bisa menyerang usia muda.
Haryo menyontohkan, karena faktor-faktor tertentu. Misalnya terserang penyakit yang mengharuskan mengonsumsi obat dalam jangka panjang.
"Lalu efek sampingnya menurunkan supresi imun dan menekan pembentukan tulang baru. Sehingga membuat tulang lebih mudah keropos," tandasnya. (rgl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono