RADARSOLO.COM - Tingkat menyusui di Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
UNICEF dan WHO menyerukan agar lebih banyak upaya dilakukan untuk melindungi, mempromosikan, dan mendukung pemberian ASI, dengan fokus utama membantu para ibu yang bekerja.
Angka kesenjangan pengetahuan mengenai pentingnya menyusui secara langsung masih tinggi, khususnya bagi ibu pekerja, baik di perusahaan maupun instansi pemerintahan. Padahal, ASI sangat penting bagi bayi yang baru lahir.
Aktivis perempuan melakukan berbagai kegiatan sosialisasi kepada anak-anak muda untuk meningkatkan kesadaran mereka, mengingat mereka juga akan menjadi calon ibu di masa depan.
Selain menggelar seminar, sejumlah perempuan yang tergabung dalam Ikatan Konselor Menyusui Indonesia (IKMI) melakukan pembinaan terhadap remaja.
"Untuk menutup kesenjangan pengetahuan menyusui pada kelompok-kelompok rentan tersebut, dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan komunitas," terang pakar kesehatan Dr. Khusnul Dwi Tyasari dalam seminar Generasi Berencana, Generasi Melek Literasi yang digelar di Pendapa Rumah Dinas Bupati Karanganyar, baru-baru ini.
Dr. Khusnul mengungkapkan, minimnya asupan ASI pada bayi setelah lahir dapat mempengaruhi pertumbuhan anak. Kehamilan di usia remaja dan rendahnya tingkat keberhasilan menyusui di usia remaja juga berkontribusi pada rendahnya cakupan ASI eksklusif.
"Oleh karena itu, penting untuk memberikan informasi tentang persiapan dan keberhasilan menyusui serta kesehatan bayi sejak dini kepada remaja," jelas Khusnul.
Kegiatan seminar ini juga merupakan bagian dari peringatan Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week, 1-7 Agustus). (rud/nik)
Baca Juga: Gibran Buka Suara Soal Kontroversi Aksi Bagi-bagi Susu UHT: yang Tidak ASI Lagi
Editor : Damianus Bram