RADARSOLO.COM - Penyakit autoimun kini makin banyak dibicarakan masyarakat karena efeknya. Tanpa disadari, tak sedikit orang di sekitar Anda yang akhirnya meninggal karena autoimun.
Kasus terbaru di Solo Raya yang cukup menyita perhatian publik yakni meninggalnya Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sragen dr. Finuril Hidayati karena autoimun pada Selasa (1/10).
Lantas, apa dan bagaimana gejala awal autoimun itu?
Penyakit autoimun memang jarang diketahui karena kondisi awal yang tak tampak.
Secara umum, penyakit autoimun adalah kondisi sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh, tapi malah menyerang sel-sel sehat tubuh sendiri.
Biasanya, sistem kekebalan berfungsi melindungi tubuh dari bakteri dan virus penyebab penyakit.
Namun, pada penyakit autoimun, sistem kekebalan justru menganggap bagian tubuh yang sehat sebagai ancaman dan menyerangnya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa prevalensi penyakit autoimun terus meningkat secara global, dengan lebih dari 80 jenis penyakit autoimun yang telah diidentifikasi.
Gejala Awal Penyakit Autoimun
Gejala awal dari berbagai jenis penyakit autoimun sering kali serupa, sehingga sulit didiagnosis pada tahap awal.
Berikut beberapa gejala yang perlu diwaspadai:
- Kelelahan berkepanjangan
- Nyeri otot dan persendian
- Pembengkakan serta kemerahan pada kulit
- Demam ringan yang tidak kunjung reda
- Kesulitan berkonsentrasi
- Mati rasa dan kesemutan di tangan dan kaki
- Rambut rontok
- Ruam pada kulit
Baca Juga: Waspada Sakit Tenggorokan di Musim Pancaroba: Hindari Asap Rokok, Cukup Air Putih
Setiap jenis penyakit autoimun bisa memiliki gejala unik.
Sebagai contoh, diabetes tipe 1 menyebabkan rasa haus berlebih, penurunan berat badan, dan kelelahan.
Sementara itu, penyakit peradangan usus sering ditandai dengan sakit perut, kembung, dan diare.
Pada kondisi autoimun seperti psoriasis atau rheumatoid arthritis, gejala biasanya muncul dan menghilang secara periodik.
Suatu periode gejala disebut dengan flare-up.
Sedangkan periode ketika gejala mereda disebut dengan remisi.
Oleh karena itu, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami beberapa gejala tersebut.
Faktor Risiko Penyakit Autoimun
Meski penyebab pasti penyakit autoimun belum diketahui, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya, antara lain:
1. Faktor Genetik
Penyakit autoimun cenderung diwariskan dalam keluarga.
Memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit autoimun dapat meningkatkan risiko, meski tidak selalu menyebabkan seseorang pasti akan terkena.
2. Kelebihan Berat Badan
Obesitas dapat meningkatkan risiko terkena rheumatoid arthritis atau psoriatic arthritis.
Ini disebabkan karena jaringan lemak menghasilkan zat yang dapat memicu peradangan.
3. Kebiasaan Merokok
Merokok dapat memicu atau memperburuk kondisi autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis, hipertiroidisme, dan multiple sclerosis.
Menghentikan kebiasaan merokok dapat membantu menurunkan risiko tersebut.
4. Obat-obatan Tertentu
Penggunaan beberapa jenis obat seperti obat tekanan darah tinggi atau antibiotik tertentu dapat memicu lupus yang diinduksi obat (drug-induced lupus).
Yaitu kondisi lupus yang umumnya lebih ringan dan sementara.
Selain itu, obat statin yang biasa digunakan untuk menurunkan kolesterol juga dapat menyebabkan miopati yang diinduksi statin (statin-induced myopathy).
Yaitu kondisi langka yang menyebabkan kelemahan otot. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria