RADARSOLO.COM - Kejang pada anak menjadi perhatian serius bagi para orang tua. Lantaran berpotensi pada gangguan tumbuh kembang.
Selain itu petugas medis perlu bisa membedakan antara kejang sakit dan masalah psikologis.
Dokter spesialis anak Istika Wulandari menjelaskan, kejang sebenarnya adalah aktivitas listrik di otak yang tidak normal, mirip seperti korsleting pada listrik.
Hal ini dapat menyebabkan gerakan tubuh yang tidak terkendali dan gangguan kesadaran.
“Kejang pada anak bisa disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah demam tinggi. Namun, tidak semua kejang disebabkan oleh demam. Ada juga kejang yang disebabkan oleh gangguan neurologis, cedera kepala, atau bahkan faktor psikologis,” ungkap dr Istika Wulandarai Sp A.
Dokter Istika menekankan pentingnya membedakan antara kejang yang sebenarnya dan kondisi yang tampak seperti kejang, terutama pada remaja.
“Terkadang, remaja putri yang mengalami tekanan psikologis, seperti putus cinta atau stres ujian, bisa menunjukkan gejala yang mirip dengan kejang. Namun, sebenarnya ini lebih kepada gangguan psikologis yang memerlukan penanganan psikiatri,” jelasnya.
Dia menyampaikan ciri-ciri kejang yang perlu diwaspadai. Di antaranya datang tiba-tiba, tanpa peringatan.
Selain itu, anak akan kehilangan kesadaran atau tampak linglung. Lantas akan ada gerakan berulang. Terjadi gerakan otot yang tidak terkendali, berulang, dan bersifat ritmis.
Kejang demam sering terjadi pada anak berusia 0-5 tahun akibat kenaikan suhu tubuh yang tinggi.
Namun, dr. Istika mengingatkan jika kejang terjadi di luar rentang usia tersebut atau disertai gejala lain seperti kejang yang kompleks atau kejang vokal, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter.
Kejang demam juga bisa menjadi indikasi adanya gangguan tumbuh kembang pada anak. “Misalnya, jika anak berusia 1 tahun belum bisa duduk atau berdiri, perlu dicurigai adanya gangguan neurologis,” tambah dr. Istika.
Orang tua perlu waspada terhadap tanda-tanda kejang pada anak. Jika anak mengalami kejang, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Selain itu, penting untuk menjaga kesehatan anak, memberikan imunisasi lengkap, dan memberikan dukungan emosional yang baik. (din/bun)
Editor : Damianus Bram