Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Mengenal Post Holiday Blues: Fenomena Psikologis yang Sering Muncul Usai Libur Panjang

Damianus Bram • Jumat, 4 April 2025 | 17:38 WIB
Pekerja kantoran dengan jam kerja dan gaji yang stabil perlu merencanakan keuangan untuk masa depan.
Pekerja kantoran dengan jam kerja dan gaji yang stabil perlu merencanakan keuangan untuk masa depan.

RADARSOLO.COM – Kembali bekerja setelah libur panjang bisa memicu kondisi psikologis yang disebut post holiday blues.

Fenomena ini ditandai dengan rasa malas, kurang bersemangat, hingga stres akibat perbedaan drastis antara suasana liburan yang bebas dan rutinitas kerja yang penuh tanggung jawab.

Menurut psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, M.Psi., Psikolog, efek positif liburan tidak bertahan lama setelah seseorang kembali ke aktivitas harian.

“Banyak orang mengalami post holiday blues, yaitu rasa malas, kurang motivasi, hingga stres saat kembali ke rutinitas kerja atau sekolah. Ini wajar karena ada kesenjangan emosional antara suasana libur dan tekanan rutinitas,” ujar Teresa, dikutip dari ANTARA, Jumat (4/4/2025).

Teresa menjelaskan, liburan memberikan euforia emosional karena suasana hati yang positif, kebersamaan dengan keluarga, dan kebebasan dari jadwal ketat.

Namun, saat kembali ke realitas, perubahan mendadak tersebut dapat menimbulkan gejolak psikologis.

“Liburan sering kali membawa excitement tinggi, apalagi jika itu momen impian atau bertemu keluarga jauh. Setelah kembali, muncul gap emosional yang memicu rasa hampa atau kehilangan,” tambahnya.

Beberapa faktor pemicu antara lain:

Walau umumnya bersifat sementara, Teresa memperingatkan bahwa post holiday blues bisa berkembang menjadi gangguan kesehatan mental serius seperti depresi, kecemasan, hingga burnout, jika tidak ditangani.

Gejala yang patut diwaspadai antara lain:

Imbauan dari Kemenkes

Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, juga menyoroti post holiday blues sebagai ancaman nyata bagi pekerja setelah libur Lebaran.

Ia menyebut transisi dari liburan ke rutinitas tidak selalu mulus dan bisa menimbulkan stres hingga kecemasan, terutama bagi pekerja usia 30–45 tahun.

“Kelompok usia produktif ini cenderung menghadapi tekanan mental lebih besar karena ekspektasi tinggi dan target kerja yang padat,” ujarnya, dikutip dari Tempo.

Imran menambahkan bahwa pekerja dari sektor ekonomi menengah ke bawah lebih rentan karena keterbatasan akses pada layanan konseling atau pendampingan psikologis.

Sektor dengan tekanan tinggi seperti layanan pelanggan, ritel, dan industri jasa juga menunjukkan gejala burnout lebih cepat.

Data dan Fakta Terkait

Kesimpulan

Post holiday blues adalah kondisi yang nyata dan umum dialami setelah libur panjang, terutama setelah Lebaran. Kesadaran akan gejala dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah berkembangnya gangguan mental lebih serius.

Dukungan dari lingkungan kerja, fleksibilitas dalam transisi, serta akses pada layanan kesehatan mental dapat menjadi solusi efektif. (dam)

Editor : Damianus Bram
#liburan #libur lebaran #post holiday blues #libur panjang