RADARSOLO.COM - Kehilangan pendengaran merupakan tantangan medis global yang serius.
Sejak lama, berbagai metode pengobatan telah dicoba, namun belum ada yang benar-benar mampu memberikan solusi permanen.
Sebelum tahun 2019, kondisi tuli yang disebabkan oleh kerusakan permanen pada bagian dalam telinga tidak memiliki harapan untuk disembuhkan.
Namun, semua itu berubah berkat terobosan inovatif dari seorang dokter bedah asal Afrika Selatan bernama Dr. Mashudu Tshifularo.
Pada tanggal 13 Maret 2019, dunia kedokteran mencatat sejarah penting.
Di Steve Biko Academic Hospital, Afrika Selatan, tim dokter bedah yang dipimpin oleh Dr. Mashudu Tshifularo melakukan operasi transplantasi telinga tengah pertama di dunia.
Operasi revolusioner ini menggunakan teknologi 3D printer untuk menciptakan tulang telinga tengah yang baru, menggantikan tulang yang rusak akibat kecelakaan.
Pasien yang menerima operasi ini adalah seorang pria berusia 35 tahun yang kehilangan kemampuan pendengaran akibat kecelakaan mobil parah yang menyebabkan kerusakan permanen pada struktur dalam telinganya.
Para dokter sebelumnya menyatakan bahwa tidak ada harapan baginya untuk bisa mendengar kembali.
Namun, berkat inovasi Dr. Tshifularo, kondisi tersebut berhasil diatasi.
Operasi tersebut berlangsung selama satu setengah jam.
Tim dokter menggunakan teknologi 3D untuk mencetak tulang-tulang kecil di telinga tengah, yang dikenal sebagai ossicles (ossikula).
Tulang-tulang ini terdiri dari tiga bagian kecil yang sangat penting dalam proses transmisi suara ke dalam telinga bagian dalam.
Dengan mencetak tulang-tulang tersebut secara khusus sesuai dengan anatomi pasien, Dr. Tshifularo berhasil menggantikan tulang rusak dan memulihkan fungsi pendengaran pasien secara permanen.
Inovasi Dr. Tshifularo tidak datang secara tiba-tiba.
Inspirasi dari terobosan medis ini berakar dari penelitian mendalam yang ia lakukan sejak masa studi doktoralnya.
Dalam riset tersebut, ia mendalami tentang gangguan pendengaran konduktif, suatu kondisi di mana suara tidak mampu dihantarkan dengan baik ke telinga bagian dalam karena kerusakan pada tulang-tulang kecil di telinga tengah.
Dari sanalah Dr. Tshifularo mulai mengeksplorasi potensi pencetakan 3D sebagai solusi pengobatan, mengingat kemampuan teknologi ini untuk mencetak bagian tubuh dengan detail tinggi dan presisi yang luar biasa.
Seiring waktu, riset dan upaya Dr. Tshifularo membuahkan hasil yang mengejutkan dunia kedokteran.
Ia menyadari bahwa dengan teknologi 3D, tulang telinga yang rusak bisa direplikasi secara akurat dan dipasang kembali ke dalam telinga pasien, memperbaiki transmisi suara dan menyembuhkan gangguan pendengaran secara permanen.
Dr. Tshifularo menjelaskan bahwa keunggulan dari metode transplantasi menggunakan teknologi 3D adalah minimnya risiko dibandingkan dengan operasi konvensional menggunakan prostesis standar.
Menurutnya, transplantasi yang ia kembangkan hanya mengganti tulang-tulang kecil yang rusak, sehingga operasi berlangsung lebih cepat, aman, dan jauh lebih efektif.
Seperti yang dilansir dari postnewsgroup.com, Dalam sebuah wawancara dengan Radio Nigeria usai operasi, Dr. Tshifularo menyampaikan optimismenya.
"Dengan mengganti hanya ossikula yang tidak berfungsi, prosedur ini memiliki risiko yang jauh lebih rendah dibandingkan prostesis yang sudah ada serta metode bedah tradisional lainnya," katanya.
Ia menambahkan bahwa teknologi ini berpotensi menjadi solusi bagi semua penderita gangguan pendengaran, tanpa batasan usia pasien. "Pendengaran pasien akan segera pulih setelah operasi, namun efek optimal baru akan dirasakan setelah perban dilepas dua minggu kemudian."
Profil Dr. Mashudu Tshifularo tidak kalah menarik dibandingkan prestasi medisnya.
Ia lahir di sebuah desa kecil bernama Mbahela, dekat Thohoyandou di Venda, Afrika Selatan. Kehidupan masa kecilnya jauh dari fasilitas modern; ia tumbuh sebagai penggembala yang menghabiskan hari-harinya di padang rumput.
Meskipun hidup dalam keterbatasan, sejak usia 13 tahun, ia telah memiliki impian besar untuk menjadi seorang dokter.
Dr. Tshifularo mengenyam pendidikan menengah di Mbilwi Secondary School, kemudian melanjutkan ke Universitas Natal untuk mempelajari ilmu kedokteran.
Ia menjadi dokter praktisi pada tahun 1990 di Rumah Sakit Tshilidzini. Karier akademiknya melejit saat pada tahun 1995 ia diangkat menjadi profesor dan kepala Departemen Otorinolaringologi (THT) di Universitas Pretoria.
Pada tahun 2000, ia tercatat sebagai profesor kulit hitam pertama dan termuda di Afrika Selatan dalam spesialisasi THT.
Selain bidang kedokteran, Dr. Tshifularo juga dikenal sebagai seorang tokoh agama yang karismatik.
Ia mendirikan dan menjadi pastor senior di gereja Christ Revealed Fellowship di Pretoria. Selain itu, ia adalah seorang penulis aktif yang telah menerbitkan berbagai buku rohani.
Dengan pencapaian ini, Dr. Tshifularo telah membuka era baru dalam dunia kedokteran.
Terobosan transplantasi telinga tengah menggunakan teknologi 3D memberikan harapan baru bagi jutaan orang di seluruh dunia yang menderita gangguan pendengaran permanen. (per)
Editor : Perdana Bayu Saputra