Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Dokter RSCH Klaten Beberkan Cara Mencegah agar Tak Keracunan Makanan

Angga Purenda • Senin, 21 April 2025 | 02:24 WIB
Kepala Instalasi IGD RSCH Klaten dr. Endang Sulistyawati saat memeriksa salah satu pasien keracunan makanan di rumah sakit setempat.
Kepala Instalasi IGD RSCH Klaten dr. Endang Sulistyawati saat memeriksa salah satu pasien keracunan makanan di rumah sakit setempat.

RADARSOLO.COM-Peristiwa keracunan massal di Gantiwarno, Kabupaten Klaten menjadi perhatian nasional.

Kejadian itu perlu diwaspadai karena bisa terjadi di mana saja.

Ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan agar hal itu tidak menimpa pada diri sendiri.

Menurut Kepala Instalasi IGD Rumah Sakit Cakra Husada (RSCH) Klaten dr. Endang Sulistyawati, keracunan makanan adalah suatu kondisi seseorang merasakan sejumlah gejala.

Seperti mual, muntah, diare, kram perut, demam tinggi, gemetaran hingga kejang.

“Dikarenakan makanan itu terkontaminasi baik secara biologis, fisika dan kimia. Kalau secara biologi bisa disebabkan karena bakteri, virus, parasit atau racun," terang Endang.

"Sedangkan secara fisika bisa terjadi kesalahan dalam pemasakan. Secara biologis karena adanya bahan-bahan berbahaya pada makanan yang secara kadar tidak pas,” imbuhnya.

Untuk mencegah agar tidak keracunan makanan, bisa dilakukan dalam sejumlah tahapan.

Bisa diawali dari pemilihan bahan makanan yang tidak busuk dan layak konsumsi.

Sedangkan bahan makanan dalam kemasan bisa dilihat masa kadaluarsanya.

Bisa juga dalam membeli bahan makanan mempertimbangkan kondisi lingkungan.

Kemudian dalam penyimpanan bahan makanan juga harus diperhatikan karena setiap jenisnya memiliki cara penyimpanan yang berbeda.

Baca Juga: Pengaruh Jansen Manansang Direktur Taman Safari Indonesia Enggak Kaleng-kaleng: Disegani Asing, Dianugerahi Medali Presiden SBY

Seperti daging, sayur dan buah yang penyimpanannya juga harus terpisah.

“Dalam menyimpan bahan makanan itu, yang pertama pastikan tangannya bersih. Jangan sampai ada bakteri yang masuk. Pastikan cuci tangan dengan bersih dan tidak memegang hewan,” beber Endang.

Di sisi lain, cara memasak bahan makanan yang sebelumnya disimpan di lemari pendingin perlu diperhatikan.

Begitu juga peralatan yang digunakan untuk memasak harus dipastikan kebersihannya.

Termasuk penggunaan air untuk memasak dipastikan layak konsumsi.

“Kuncinya di cuci tangan dengan bersih terus menerus dilakukan di setiap tahapan. Mulai dari menyiapkan bahanan makanan hingga menyajikan hidangan ke orang lain. Pokoknya setelah memegang apa pun harus cuci tangan,” tambah Endang.

Menurut Endang ada tiga cara yang bisa diterapkan masyarakat agar tidak keracunan makanan.

Seperti melihat bentuk makanan yang hendak disantap. Apakah masih segar dan layak konsumsi.

“Setelah itu bisa dicium, apakah baunnya berbeda. Dikarenakan kita sudah tahu bau makanan sebelumnya, jadi kalau baunya sudah berbeda, kita harus mulai tanda tanya. Ini layak dikonsumsi atau tidak,” ujar Endang.

Seletah dilihat dan mencium baunya, bisa meraba makanan tersebut.

Apakah konsistensinya berubah? Misalnya buah apel itu kan seharusnya keras, kalau kenyal maka ada sesuatu yang harus kita tanya, ini layak atau tidak,” ujar Endang.

Endang mengungkapkan, apabila setelah menyantap makanan dalam hitungan 1-24 jam terasa ada mual, muntah hingga demam tinggi, bisa dicurigai terkena keracunan makanan.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebelum mendatangi fasilitas kesehatan (Faskes).

Baca Juga: Tudingan Ijazah Palsu Jokowi, Pengamat Unisri Solo: Harusnya PDI Perjuangan dan KPU Ikut Digugat

Yakni memperbanyak minum air putih maupun oralit untuk menggantikan cairan pada tubuh sehingga tidak dehidrasi.

“Sambil minum oralit itu segera ke faskes untuk mencari pertolongan. Jangan sampai mengalami dehidrasi berat karena bisa berdebar-debar jantungnya, nyeri dada dan tidak sadarkan diri," pesannya.

"Jangan sampai dehidrasinya dari stadium sedang ke berat, lebih baik kita mencegah sehingga tidak sampai di stadium berat karena penanganannya akan lebih susah,” pungkasnya.(ren/wa)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#keracunan #penanganan #pencegahan #rsch klaten