Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Skizofrenia di Jateng Tertinggi Kedua, Psikolog UMS: Jangan Salah Diagnosis

Fauziah Akmal • Senin, 26 Mei 2025 | 00:02 WIB

Foto Ilustrasi (Arief Budiman/Radar Solo)
Foto Ilustrasi (Arief Budiman/Radar Solo)
RADARSOLO.COM – Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi kedua tertinggi di Indonesia dalam kasus gangguan jiwa psikosis atau skizofrenia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 6,51 persen rumah tangga di Jateng memiliki anggota keluarga dengan gangguan tersebut, hanya kalah dari DI Yogyakarta.

Psikolog Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Setiyo Purwanto menegaskan bahwa skizofrenia bukan sekadar stres berat. Gangguan ini menyebabkan penderitanya kehilangan kemampuan membedakan kenyataan dan khayalan.

“Gejalanya bisa berupa halusinasi, waham, atau merasa menjadi sosok lain,” jelas Setiyo, Sabtu (24/5).

Ia menjelaskan, skizofrenia bisa dipicu sejak kecil oleh faktor genetik, pola asuh, maupun trauma. Lingkungan kampus pun bisa menjadi pemicu, terutama akibat tekanan akademik atau masalah pribadi seperti putus cinta atau skripsi ditolak.

Setiyo juga menyoroti maraknya self-diagnosis di media sosial yang kerap menyesatkan. “Boleh merasa ada gejala, tapi harus tetap dikonsultasikan ke profesional,” tegasnya.

Ia menambahkan, stigma yang mengaitkan gangguan jiwa dengan kurangnya iman adalah keliru. Skizofrenia merupakan gangguan sistem saraf otak dan perlu penanganan medis.

Di UMS, mahasiswa bisa mengakses layanan kesehatan mental seperti Student Mental Health & Wellbeing Support (SMHWS), Biro Konsultasi dan Pemeriksaan Psikologis (BKPP), dan Muhammadiyah Medical Center (MMC).

“Jangan pendam stres. Ceritakan, itu bisa meringankan,” pesannya di momen Hari Skizofrenia Sedunia, 24 Mei. (zia/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#gangguan jiwa #genetik #survei kesehatan #jawa tengah