Psikolog Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Setiyo Purwanto menegaskan bahwa skizofrenia bukan sekadar stres berat. Gangguan ini menyebabkan penderitanya kehilangan kemampuan membedakan kenyataan dan khayalan.
“Gejalanya bisa berupa halusinasi, waham, atau merasa menjadi sosok lain,” jelas Setiyo, Sabtu (24/5).
Ia menjelaskan, skizofrenia bisa dipicu sejak kecil oleh faktor genetik, pola asuh, maupun trauma. Lingkungan kampus pun bisa menjadi pemicu, terutama akibat tekanan akademik atau masalah pribadi seperti putus cinta atau skripsi ditolak.
Setiyo juga menyoroti maraknya self-diagnosis di media sosial yang kerap menyesatkan. “Boleh merasa ada gejala, tapi harus tetap dikonsultasikan ke profesional,” tegasnya.
Ia menambahkan, stigma yang mengaitkan gangguan jiwa dengan kurangnya iman adalah keliru. Skizofrenia merupakan gangguan sistem saraf otak dan perlu penanganan medis.
Di UMS, mahasiswa bisa mengakses layanan kesehatan mental seperti Student Mental Health & Wellbeing Support (SMHWS), Biro Konsultasi dan Pemeriksaan Psikologis (BKPP), dan Muhammadiyah Medical Center (MMC).
“Jangan pendam stres. Ceritakan, itu bisa meringankan,” pesannya di momen Hari Skizofrenia Sedunia, 24 Mei. (zia/bun)
Editor : Kabun Triyatno