RADARSOLO.COM- Gangguan bipolar semakin banyak dialami kawula muda. Termasuk mahasiswa.
Kondisi ini memiliki kaitan erat dengan risiko mengakhiri hidup.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (Kaprodi PPDS) Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dr. Rohmaningtyas HS, Sp.KJ.
Menurutnya, pasien bipolar umumnya baru mencari pertolongan saat berada dalam fase depresi.
Ketika mereka merasa putus asa dan tidak berharga, yang kemudian memicu ide untuk mengakhiri hidup.
“Risiko mengakhiri hidup pada penderita bipolar meningkat 20–30 kali lipat dibanding populasi umum,” ujarnya, Minggu (24/8).
Rohmaningtyas menegaskan, bahwa diagnosis bipolar hanya dapat ditegakkan oleh profesional, bukan melalui diagnosis mandiri.
Gangguan ini ditandai oleh dua fase mood ekstrem: sedih berlebihan dan semangat berlebihan.
“Jadi, kalau di fase depresi di mana dia merasa putus asa, tidak berguna, tidak berharga, jadi ada ide mengakhiri hidup,” imbuhnya.
Pentingnya Pengobatan Jangka Panjang dan Dukungan Keluarga
Pasien yang terdiagnosis bipolar memerlukan pengobatan jangka panjang yang terpadu.
Mencakup kombinasi obat, psikoterapi, serta dukungan penuh dari keluarga.
"Kontrol rutin sangat penting. Jika berhenti minum obat, risiko kekambuhan dan munculnya ide bunuh diri meningkat,” katanya.
Ia mengingatkan pentingnya deteksi dini oleh keluarga dan lingkungan sekitar. Perubahan perilaku yang mencurigakan, seperti tiba-tiba menjadi sangat murung atau sangat konsumtif tanpa tujuan, harus menjadi perhatian. “Jangan beri stigma. Dukungan justru sangat dibutuhkan agar pasien bisa stabil,” tegasnya. (zia)
Editor : Tri wahyu Cahyono