RADARSOLO.COM - Ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia semakin menjadi perhatian serius, terutama terkait jalur masuknya melalui pernapasan. Dampak bahaya mikroplastik tidak bisa dianggap sepele, mengingat partikelnya dapat memicu penyakit paru kronik dan gangguan sistem organ lainnya.
“Mikroplastik ini sedang booming. Indonesia saat ini peringkat ketiga populasi plastik di dunia. Plastik menjadi sesuatu yang sangat membantu, tetapi dampaknya luar biasa besar terhadap kesehatan,” ujar dr. Hendrastutik Apriningsih, Sp. P(K), pakar spesialis paru Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Kamis kemarin (27/11).
Hendrastutik menjelaskan, mikroplastik yang berukuran di bawah 5 milimeter berasal dari berbagai sumber seperti serpihan plastik yang terurai, serat pakaian sintetis, abrasi ban kendaraan, dan pembakaran sampah plastik.
Partikel ini berterbangan di udara dan dapat dihirup manusia. Hendras memperingatkan bahwa partikel berukuran 1–5 mikron bisa langsung masuk ke saluran darah.
"Ukuran partikel 1–5 mikron bisa langsung masuk ke saluran darah, memicu peradangan paru, bronkitis akut, ISPA akut, atau batuk pilek yang tidak sembuh-sembuh," jelasnya.
Lebih lanjut, partikel ultra kecil di bawah 1 mikron berpotensi memasuki aliran darah, menyebabkan penyakit paru kronik, kanker paru, dan gangguan sistem organ lain dalam jangka panjang. Paparan udara yang mengandung mikroplastik ini, menurutnya, setara dengan menghirup zat berbahaya.
Hendrastutik menekankan pentingnya tiga langkah pencegahan yang harus dilakukan masyarakat dan pemerintah. Pertama, pencegahan primer. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai melalui gerakan 3R (reduce, reuse, recycle), menghindari sedotan plastik, botol minum sekali pakai, dan memperhatikan plastik dalam kemasan kosmetik.
Kedua, pencegahan sekunder. Melakukan deteksi dini dengan memahami gejala gangguan pernapasan, pemeriksaan kesehatan rutin, memakai masker berstandar, dan memantau lingkungan kerja.
Ketiga, pencegahan tersier. Penanganan dan terapi bagi pasien yang sudah mengalami gangguan paru agar tidak semakin parah.
Hendrastutik juga mengingatkan masyarakat yang tinggal di kota industri untuk tidak membakar sampah plastik, menjaga asupan gizi seimbang, dan menggunakan masker berstandar untuk menurunkan risiko polusi masuk ke dalam tubuh. (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno