RADARSOLO.COM - Tren aktivitas lari tengah digandrungi kalangan anak muda hingga lansia sebagai gaya hidup.
Biasa disebut dengan pelari kalcer yang kini tengah menjamur di Kabupaten Klaten.
Tetapi di tengah semangat mengejar rekor pribadi dan mengikuti berbagai event kompetitif, kesehatan seringkali terabaikan.
Lantas, bagaimana para pelari yang baru memulai hingga rutin berkompetisi bisa memastikan jantung mereka tetap aman saat memacu kemampuan fisiknya?
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dr. Muhammad Agi Ramadhani, Sp. JP, membagikan tips dan imbauan pentingnya.
Ia meminta pelari untuk mewaspadai terjadinya potensi cedera.
Ia menyebut, bahwa tingginya jam terbang dan tingkat pelatihan tidak menjamin pelari sepenuhnya aman dari risiko medis.
“Tidak peduli seberapa terlatih, tidak peduli seberapa sering berlari, potensi mengalami cedera itu tetap ada,” ujar dr. Agi kepada Radarsolo.com saat ditemu beberapa waktu lalu.
Ia mencontohnya kejadian fatal yang pernah terjadi pada salah satu event lari besar pada tahun ini yang menelan korban jiwa.
“Memang kalau kita hitung secara statistic, satu dari sekian puluh ribu peserta itu tidak bermakna. Tapi bagi kami menekuni profesi dokter jantung, one case itu too many,” tambahnya.
Bagi para pelari yang memiliki niat untuk berkompetisi dan memacu kemampuan tubuh hingga batas maksimal, dr. Agi memberikan satu pesan utama. Lakukan medical check up (MCU) minimal sekali seumur hidup.
Menurutnya, tujuan dari MCU adalah untuk memastikan bahwa niat awal berolahraga yaitu menjadi sehat tidak berakhir tragis.
“Minimal MCU dan pemeriksaan lainnya diperlukan untuk memastikan kondisi dasar kesehatan, terutama jantung. Sebelum tubuh dipaksa bekerja keras. MCU dapat dilakukan di fasilitas kesehatan terdekat,” ujar Agi.
Dalam dunia lari, mengetahui batas maksimal tubuh adalah kunci untuk mencegah bahaya.
Dokter Agi memaparkan dua indikator utama yang dapata dijadikan tand bahaya saat berlari.
Ia mengungkapkan, jika batas maksimal kemampuan fisik dapat diukur menggunakan denyut nadi.
Dicontohkan jika seseorang berusia 30 tahun, maka detak nadi maksimal adalah 190 kali per menit.
“Cara menghitungnya 220 dikurangi usia. Jadi kalau sudah 188 kali, apalagi sudah lewat 190 kali, nah itu merupakan tanda bahaya. Saya sarankan para pelari memanfaatkan smartwatch untuk memantau untuk memantau HR atau detak jantung secara real time. Tentunya agar bisa segera menyesuaikan dengan batasan usia masing-masing,” ujar Agi.
Sedangkan untuk indikator yang bisa dirasakan langsung oleh tubuh meliputi merasakan tidak nyaman atau nyeri di area dada.
Begitu juga sesak napas seperti terengah-engah dan tidak sanggup lagi bernapas dengan baik.
Jika kedua indikator ini muncul, dr. Agi menyarankan agar pelari segera menurunkan intensintas lari dan jangan memaksanakannya terus menerus.
Menurut dr. Agi, niat untuk menjalani hidup sehat, harus dibarengi dengan kesadaran akan kondisi tubuh.
Seperti melakukan pemeriksaan kesehatan MCU hingga memperhatikan batas maksimal detak jantung.
Jika hal itu diperhatikan, para pelari kalcer dapat terus menikmati aktivitas larinya denga naman dan terhindar dari risiko fatal. (ren/adi)
Editor : Adi Pras