Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Saraf Kejepit Nggak Harus Operasi! IPM Bisa Jadi Solusi: RS Indriati Solo Baru Tawarkan Penanganan Tanpa Pembedahan dan Tanpa Rawat Inap

Mannisa Elfira • Selasa, 2 Desember 2025 | 05:04 WIB
Spesialis Neurologi RS Indriati Solo Baru dr. Peter Michel Souisa.
Spesialis Neurologi RS Indriati Solo Baru dr. Peter Michel Souisa.

RADARSOLO.COM - Saraf kejepit tidak selalu berakhir ke meja operasi. Rumah Sakit Indriati Solo Baru menawarkan solusi yang lebih presisi dan minim luka lewat metode interventional pain management (IPM). Sistem yang mengandalkan injeksi terarah tanpa perlu rawat inap.

Lantas, apa sih saraf kejepit itu? Menurut Spesialis Neurologi RS Indriati Solo Baru dr. Peter Michel Souisa, masyarakat kerap menyamakan saraf kejepit dengan low back pain (LBP). Tapi, kedua istilah tersebut sejatinya berbeda.

LBP adalah istilah umum bagi nyeri punggung bawah, yang penyebabnya cukup bervariasi. Bisa berasal dari beberapa sumber, seperti otot, gangguan ginjal dan saluran kencing, hingga gangguan organ dalam lainnya.

"Saraf kejepit itu lebih spesifik. Jadi ada nyeri punggung bawah yang disebabkan oleh penekanan saraf tulang belakang. Biasanya orang-orang menyebutnya dengan sakit boyok," jelas dr. Peter saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di kawasan rumah sakit setempat.

Gejalanya ditandai dengan nyeri menjalar. Dari boyok ke bokong, hingga kaki bila terjadi pada punggung bawah.

Biasanya disertai juga dengan sensasi kesemutan atau kebas. Jika area leher atau servikal, nyeri menjalar dari leher ke lengan

"Nah kalau yang di punggung tengah nanti lain lagi. Akan ada sensasi nyeri seperti diikat atau disabuk," tuturnya.

Lebih dari 50 persen, pasien nyeri datang dengan keluhan punggung bawah atau area boyok. Beberapa di antaranya baru periksa setelah nyeri muncul berulang atau mulai menjalar.

"Kalau di sini yang paling banyak LBP atau nyeri punggung bawah. Nyeri datang dengan penyebab yang bermacam-macam. Kadang nggak sampai yang menjalar. Kadang yang cuman nyeri boyok saja, tidak menjelar. Jadi biasanya cuman disuntik atau diberi obat saja sudah bisa," sebutnya.

Kendati demikian, sebagian masyarakat memilih menunda datang ke dokter. Alasannya bervariasi. Selain tertunda karena sibuk bekerja, ada yang bisa menahannya dengan berpikir, kurang minum saja'.

"Beberapa tidak perlu ke dokter karena biasanya minum obat sudah sembuh. Orang-orang kantoran gitu, banyak posturnya yang tidak benar, nah biasanya mereka cuma minum obat pereda nyeri sudah enakan," terang dr. Peter.

Namun, kondisi yang berkelanjutan dan berulang perlu perhatian khusus. Mereka yang datang ke RS Indriati Solo Baru umumnya sudah memasuki fase kronis. Di mana nyeri lebih dari tiga bulan atau keluhan baru tapi sangat berat.

"Kalau sudah diobati tapi terus kambuh-sembuh sebentar, lalu kumat lagi, atau malah tidak membaik sama sekali. Terlebih bila nyeri tidak hanya menetap di punggung, tetapi menjalar hingga kaki dan disertai kesemutan. Pola seperti itu hampir 100 persen pasti syaraf kejepit," jelasnya.

Pasien yang datang dengan keluhan tersebut memerlukan pemeriksaan lanjutan. Entah itu X-Ray atau Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Nah, dari sinilah kemudian penanganan dengan interventional pain management (IPM) menjadi relevan.

"Interventional pain management atau manajemen intervensi nyeri mempunyai pendekatan yang sifatnya minimal invasif. Jadi ada intervensi berupa suntikan tapi tidak menggunakan sayatan besar. Yang menggunakan prosedur injeksi blok saraf sampai radio frekuensi ablasi," jelas dr. Peter.

Metode ini memaksimalkan panduan seperti USG atau fluroskopi supaya lebih akurat. Harapannya sekali suntik langsung tepat sasaran.

"Kalau tidak pakai panduan, sifatnya blind. Jadi cuma memperkirakan dari perabaan tangan, terus kita suntik. Nah itu akurasinya memang rendah. Tapi biasanya untuk kasus-kasus tertentu yang cuma otot aja itu bisa," lanjutnya.

Selain untuk nyeri boyok, IPM juga dapat digunakan pada kasus nyeri lutut, bahu, jari, ataupun seperti penekanan saraf di pergelangan tangan yang sering disebut CTS (Carpal Tunnel Syndrome).

Metode IPM aman, selama dilakukan oleh dokter yang memiliki kompetensi tambahan di bidang intervensi nyeri. Sebab, untuk menguasai teknik ini dibutuhkan pelatihan khusus dan pengakuan resmi dari perhimpunan terkait.

“Efek samping biasanya hanya sensasi kebas atau sedikit nyeri di bekas tusukan jarum. Jarum yang digunakan juga jarum khusus, jadi tidak menimbulkan risiko kelumpuhan. Dengan panduan tepat kita bisa meminimalisir efek-efek samping yang mengkhawatirkan atau berbahaya," jelasnya.

Prosedur ini bisa untuk semua usia. Baik usia produktif maupun lansia, selama indikasinya tepat. IPM bisa menjadi pilihan karena keunggulan pemulihan cepat. Pasien bisa pulang di hari yang sama, alias tidak perlu mondok.

"IPM tidak memakai bius total. Paling lokal saja, kalau diperlukan. Setelah tindakan, pasien cukup istirahat sebentar, kemudian bisa melakukan aktivitas lagi seperti biasa," paparnya.

Setelah tindakan, ada fase pencegahan dan perawatan lanjutan (maintenance). Pasien harus bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri dengan lebih hati-hati.

dr. Peter pun membagikan beberapa tips pencegahan. Pertama, olahraga menjadi kunci. Bukan sekadar aerobik atau senam ringan, tetapi latihan beban. Tidak harus ke gym, di rumah pun bisa dengan alat sederhana. Yang terpenting ototnya dilatih.

"Pada orang tua, latihan otot juga diperlukan dengan pendampingan orang lain. Karena ada risiko salah gerak itu ada. Selain latihan otot, pola hidup sehat tetap penting," pungkasnya.

Untuk informasi lebih lanjut dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis saraf RS Indriati Solo Baru.

Reservasi melalui whatsapp customer care RS Indriati Solo Baru 08112665352. (nis/nik)

Editor : Niko auglandy
#Masyarakat #saraf kejepit #rs indriati