RADARSOLO.COM - Waktu adalah nyawa bagi pasien serangan jantung. Dalam kondisi gawat darurat, Rumah Sakit (RS) Indriati Solo Baru menyediakan layanan Primary PCI (Percutaneous Coronary Intervention) sebagai terapi utama dan paling direkomendasikan untuk STEMI, sesuai guideline ESC dan AHA.
Interventional Cardiologist RS Indriati Solo Baru dr. Dian Setiawan, M.Kes., SpJP(K), FIHA, FAPSC, menjelaskan, serangan jantung akut terbagi menjadi tiga kategori. Yakni STEMI, NSTEMI, dan unstable angina. STEMI merupakan bentuk paling berbahaya karena terjadi sumbatan total pada pembuluh darah koroner.
“Pada STEMI, rekaman EKG menunjukkan ST-elevation. Inilah kondisi paling mematikan. Standar internasional — Eropa, Amerika, dan negara maju lainnya — menggunakan Primary PCI sebagai terapi utama bagi RS yang memiliki layanan Cathlab dengan Primary PCI 24/7” jelas dr. Dian saat ditemui Jawa Pos Radar Solo.
Primary PCI adalah prosedur membuka sumbatan pembuluh darah koroner tanpa menunggu obat fibrinolitik. Akses dilakukan melalui pergelangan tangan atau paha, kemudian kateter diarahkan ke pembuluh koroner.
Sumbatan dibuka bisa menggunakan beberapa alat seperti alat penyedot trombus bila diperlukan, obat obatan, balon, pemasangan stent sehingga aliran darah kembali normal.
Tujuan utamanya adalah mengembalikan aliran darah secepat mungkin agar risiko komplikasi seperti gagal jantung, aritmia serius, syok kardiogenik, dan kematian dapat diminimalkan.
“Kami menargetkan door-to-balloon <90 menit, dan sesuai guideline, total waktu dari first medical contact hingga revascularisasi harus ≤120 menit,” ujarnya.
Faktor Keterlambatan: Banyak Pasien Mengira “Masuk Angin”
Menurut dr. Dian, hambatan terbesar di Indonesia adalah keterlambatan pasien sebelum tiba di rumah sakit. Banyak pasien mengira keluhan nyeri dada atau sesak hanyalah “masuk angin.”
“Keluhannya bisa berupa nyeri dada seperti tertindih, sesak napas, keringat dingin, mual, atau rasa tidak enak di ulu hati. Sayangnya banyak pasien terlambat karena menganggapnya ringan,” katanya.
Alih-alih ke IGD, pasien sering dikerok, diberi minyak angin, atau diminta tidur. Ketika akhirnya datang ke rumah sakit, kondisinya sudah berat.
“Berbeda dengan penyakit lain, serangan jantung sangat tergantung waktu. Time is muscle. Setiap menit yang hilang berarti lebih banyak otot jantung rusak,” tegasnya.
Jika terlambat, pasien dapat mengalami gagal jantung, aritmia berbahaya, syok kardiogenik, hingga kematian.
RS Indriati Solo Baru: Layanan Primary PCI 24 Jam
Untuk kebutuhan penanganan STEMI cepat, RS Indriati Solo Baru menyediakan layanan Primary PCI 24/7
Cathlab dapat dibuka dalam hitungan menit. Protokol door-to-ECG <10 menit sudah menjadi standar IGD, didukung pelatihan STEMI Network dan jalur cepat “STEMI Alert.”
“Target kami door-to-balloon sekitar 90 menit sesuai guideline internasional. Sebagian besar kasus dapat kami selesaikan sesuai target” jelasnya.
Namun dr. Dian menekankan bahwa tidak semua kasus dapat berakhir baik.
“Itulah sebabnya kami bekerja secepat dan setepat mungkin. Tim harus solid, komunikasinya jelas, tidak boleh ada keterlambatan dan yang paling penting, doa,” tambahnya.
Waspadai Gejala Awal, Segera ke IGD
dr. Dian mengingatkan masyarakat agar tidak panik, tetapi segera membawa pasien ke IGD rumah sakit yang memiliki layanan Primary PCI 24 jam.
“Lebih baik diperiksa dan ternyata aman, daripada terlambat. Bahkan gejala samar pun harus diwaspadai,” ujarnya.
Serangan jantung kini tidak hanya menyerang usia lanjut. Banyak kasus terjadi pada usia 30–50 tahun, bahkan usia 20-an.
Faktor risikonya meliputi, diabetes, merokok, stres dan kurang tidur, obesitas, kolesterol tinggi, kurang aktivitas fisik, lalu riwayat keluarga meninggal mendadak atau stroke.
“ESC 2023 mencatat tren peningkatan serangan jantung pada pria dan wanita muda,” jelasnya.
Pencegahan: Pemeriksaan Rutin dan Gaya Hidup Sehat
Menurut dr. Dian, serangan jantung dapat dicegah melalui deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko secara optimal.
“Lakukan pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk evaluasi jantung ke dokter jantung. Berhenti merokok, kendalikan tekanan darah, dan pada pasien diabetes usahakan HbA1c <7% — lebih baik lagi bila <6,5%. Lakukan olahraga 150 menit per minggu, konsumsi diet rendah lemak jenuh, tidur cukup, jaga berat badan ideal, serta cek risiko kardiovaskular secara berkala,” paparnya.
Serangan jantung tidak menunggu. Mengenali gejala sejak awal dan datang cepat ke rumah sakit adalah kunci keselamatan. RS Indriati Solo Baru menyediakan layanan Primary PCI 24 jam agar pasien mendapatkan penanganan tercepat sesuai standar internasional.
“Semakin cepat pembuluh darah dibuka, semakin besar peluang hidup dan kualitas hidup yang dapat dikembalikan," tegasnya. (nis)
Editor : Niko auglandy