Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Mengenal Super Flu: Apakah Sudah Masuk Indonesia? Ini Kelompok yang Paling Rentan Tertular

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 30 Desember 2025 | 20:51 WIB
Ilustrasi flu.
Ilustrasi flu.

RADARSOLO.COM-Dunia medis global tengah menaruh perhatian serius pada munculnya varian baru influenza yang disebut sebagai Subklade K.

Virus yang mulai mendominasi kasus di Inggris, Jepang, hingga Amerika Serikat ini disebut "Super Flu" karena kecepatan penularannya yang luar biasa dan kemampuannya untuk sedikit mengecoh sistem imun yang sudah divaksinasi.

Amesh A. Adalja, M.D., peneliti senior dari Johns Hopkins Center for Health Security, mengungkapkan, Subklade K merupakan cabang mutasi terbaru dari virus Influenza A (H3N2) yang mulai terdeteksi secara masif pada Juni 2025.

Sejak saat itu, virus ini menyebar dengan akselerasi yang signifikan.

Mengapa Disebut "Super Flu"?

Ada dua alasan utama mengapa varian ini mendapatkan perhatian khusus dari para pakar penyakit menular:

1. Ketidakcocokan dengan Vaksin Lama: Dr. Adalja menjelaskan bahwa strain Subklade K telah bermutasi cukup jauh dari strain influenza yang biasanya terkandung dalam formula vaksin flu musiman. Hal ini meningkatkan risiko seseorang tetap jatuh sakit meskipun sudah mendapatkan vaksinasi.

2. Mutasi yang Lebih Agresif: Thomas Russo, M.D., profesor penyakit menular dari University Buffalo, menyebutkan adanya mutasi spesifik pada Subklade K yang membuatnya jauh lebih mudah berpindah antar-manusia dibandingkan varian H3N2 sebelumnya.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Masa inkubasi virus ini berkisar antara 3 hingga 4 hari setelah terpapar. Gejala umumnya meliputi:


• Batuk dan Sakit Tenggorokan.
• Hidung berair atau tersumbat.
• Nyeri otot atau nyeri badan yang hebat.
• Sakit kepala dan kelelahan (fatigue) ekstrem.

Langkah Pencegahan dan Mitigasi

Baca Juga: Gagal Menanjak, Truk Masuk Parit di Jalan Wisata Tawangmangu

Meskipun efektivitas vaksin terhadap penularan Subklade K sedang diuji, para ahli sepakat bahwa vaksinasi tetap menjadi benteng pertahanan utama.

“Vaksin mungkin tidak 100% mencegah Anda tertular, tetapi sangat efektif dalam mengurangi risiko rawat inap dan mencegah dampak buruk atau kematian,” tegas Dr. Russo.

Selain vaksin, penggunaan masker di ruang tertutup yang ramai tetap disarankan.

Pakar juga mengimbau masyarakat yang mengalami gejala segera melakukan tes laboratorium.

Hal ini penting karena gejala Subklade K sangat mirip dengan COVID-19, sementara prosedur pengobatannya berbeda secara klinis.

Sementara itu, anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp. Respi(K) menjelaskan, bahwa risiko komplikasi serius membayangi dua kelompok usia ekstrem.

Kelompok Usia Risiko Tinggi

Menurut dr. Nastiti, infeksi ini tidak boleh disepelekan jika menyerang kelompok usia berikut:

• Balita: Anak di bawah lima tahun memiliki sistem imun yang masih berkembang.

• Lansia: Kelompok usia lanjut yang mengalami penurunan daya tahan tubuh secara alami.

“Pada kelompok ini, infeksi influenza bisa menimbulkan keparahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok pasien lainnya,” ujar dr. Nastiti dalam konferensi pers daring IDAI, Senin (29/12/2025).

Faktor Komorbid yang Memperburuk Kondisi

Selain faktor usia, IDAI menyoroti individu dengan penyakit penyerta atau komorbid sebagai kelompok yang paling terancam.

Baca Juga: Kenapa Guru Nur Aini Dipecat dari ASN? Viral Curhat Jarak Mengajar 114 Km PP dari Rumah Berujung Sanksi Berat

Infeksi subklade K berpotensi memperburuk gangguan medis yang sudah ada, seperti:

• Penyakit jantung dan jantung bawaan pada anak.

• Kanker dan infeksi HIV.

• Gangguan autoimun dan penyakit rematik.

• Pasien yang mengonsumsi obat penekan sistem imun (imunosupresan).

Ketua Umum IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso menekankan agar orang tua yang memiliki anak dengan penyakit bawaan untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra.

“Pada anak dengan komorbid, dampak influenza tipe A ini bisa jauh lebih berat,” tegasnya.

Global Alert: Belum Masuk Indonesia

Istilah “Super Flu” mencuat setelah varian ini menyebabkan lonjakan kasus luar biasa di Amerika Serikat, terutama di New York yang sempat mencatat 71 ribu kasus dalam sepekan.

Namun, para ahli menegaskan istilah "super" lebih merujuk pada kecepatan penularan, bukan tingkat keganasan virus yang bermutasi secara radikal.

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan varian ini belum terdeteksi masuk ke wilayah Indonesia, namun langkah antisipasi dan edukasi terus diperkuat. (wa)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#kelompok rentan #tertular #Super Flu #penanganan #Menular #antisipasi