RADARSOLO.COM – Munculnya istilah super flu kembali menyita perhatian publik seiring meningkatnya laporan kasus influenza berat di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.
Di media sosial, sebutan ini digunakan untuk menggambarkan flu yang terasa lebih parah dari biasanya, berlangsung lebih lama, dan menyebabkan kelelahan ekstrem hingga mengganggu aktivitas harian.
Meski demikian, kalangan medis menegaskan bahwa super flu bukan istilah resmi dalam dunia kesehatan.
Istilah ini merujuk pada infeksi influenza A H3N2 subclade K, varian virus flu yang saat ini banyak dibicarakan karena gejalanya dinilai lebih berat dibanding influenza musiman.
Apa Itu Super Flu?
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Nastiti Kaswandani menerangkan, istilah super flu sebenarnya tidak dikenal dalam praktik kedokteran.
Ia menjelaskan, penyebutan superflu sempat memicu kekhawatiran di masyarakat, padahal istilah tersebut tidak termasuk dalam terminologi medis resmi.
Dalam dunia medis, kondisi yang dimaksud tetap disebut influenza.
Yakni infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza.
“Di medis tidak ada istilah super flu. Yang ada adalah influenza, yaitu infeksi saluran napas akut akibat virus influenza,” kata dr Nastiti.
Dia menambahkan, influenza memiliki beberapa tipe, di antaranya influenza A, B, dan C.
Dari berbagai jenis tersebut, influenza A merupakan tipe yang paling sering menimbulkan gejala berat, termasuk subtipe H3N2.
Varian inilah yang kemudian oleh masyarakat awam kerap disebut sebagai super flu.
Menurutnya, salah satu faktor yang membuat istilah superflu muncul adalah tingginya tingkat penularan influenza.
Satu orang yang terinfeksi dapat menyebarkan virus kepada dua hingga tiga orang lainnya.
Bahkan, penularan dapat terjadi sebelum penderita menyadari dirinya sakit.
“Pada orang dewasa, penularan sering kali sudah terjadi sebelum gejala muncul, sehingga tanpa disadari virus bisa menyebar ke orang lain, termasuk anak-anak yang risikonya lebih besar,” jelasnya.
Andrew Pekosz, PhD, ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menjelaskan, virus flu memiliki kemampuan bermutasi dengan cepat.
Sehingga sebagian varian memperoleh keunggulan untuk menghindari perlindungan imun.
“Virus flu bermutasi dengan cepat, dan mutasi tertentu dapat memberi keuntungan bagi virus tersebut,” kata Pekosz.
Mutasi inilah yang membuat sebagian orang merasakan gejala flu kali ini lebih berat dibandingkan influenza musiman biasa.
Gejala Super Flu Superclade K
Secara umum, gejala super flu mirip dengan influenza A pada umumnya.
Namun, keluhan yang muncul biasanya lebih intens dan datang secara tiba-tiba.
Gejala yang paling sering dilaporkan antara lain:
- Demam tinggi berkepanjangan hingga mencapai 39–41 derajat Celsius
- Panas dingin dan menggigil hebat
- Nyeri otot dan pegal-pegal di seluruh tubuh
- Sakit kepala berat
- Kelelahan ekstrem, bahkan sulit beraktivitas
- Hidung tersumbat atau pilek berat
- Batuk disertai nyeri tenggorokan
Gejala tersebut dapat berlangsung lebih lama dibanding flu biasa, terutama pada anak-anak, lansia, dan individu dengan daya tahan tubuh rendah.
Cara Mencegah Tertular Super Flu Subclade K
Untuk menekan risiko penularan super flu, para ahli kesehatan menyarankan beberapa langkah pencegahan berikut:
- Menjaga daya tahan tubuh dengan asupan makanan bergizi dan cairan yang cukup
- Istirahat cukup dan tidak memaksakan aktivitas saat tubuh lelah
- Rutin berolahraga sesuai kemampuan
- Menjaga kebersihan lingkungan
- Mencuci tangan secara teratur dengan sabun
- Menggunakan masker, terutama saat berada di keramaian atau kontak dengan orang sakit
- Melakukan vaksinasi influenza
- Tidak batuk atau bersin sembarangan saat sakit
- Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin
Editor : Syahaamah Fikria