RADARSOLO.COM - Kedokteran nuklir menjadi salah satu cabang kedokteran yang berperan penting dalam deteksi dini berbagai penyakit, terutama kanker.
Berbeda dengan pemeriksaan radiologi konvensional yang menampilkan gambaran anatomi, kedokteran nuklir lebih menitikberatkan pada gambaran fisiologis atau aktivitas metabolisme tubuh.
Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir RS Indriati Prima Hari Pratama menjelaskan, teknologi FDG PET Scan (Fluorodeoxyglucose Positron Emission Tomography Scan) mampu mendeteksi aktivitas sel tubuh melalui metabolisme glukosa.
Pemeriksaan ini menggunakan radiofarmaka yang diberikan langsung kepada pasien, sehingga membutuhkan pengawasan dan penanganan khusus.
“Berbeda dengan CT scan atau radiologi lain yang radiasinya berasal dari alat,” jelasnya.
PET scan yang digunakan saat ini merupakan hybrid imaging, yaitu penggabungan PET scan dengan CT Scan (Computed Tomography Scan). CT scan berfungsi untuk menentukan lokasi kelainan secara presisi, sementara PET scan menampilkan aktivitas metabolisme sel.
“Kelebihannya, kami bisa melihat dua hal sekaligus, gambaran metabolisme tubuh dan gambaran struktur anatomi. Secara umum PET scan bisa melakukan skrining dari ujung kepala hingga ujung kaki dan mampu mendeteksi sel kanker meskipun ukurannya masih sangat kecil,” ujarnya.
Hal ini menjadi keunggulan dibandingkan CT scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) yang umumnya hanya memeriksa bagian tubuh tertentu. Meski MRI tidak menggunakan radiasi, pemeriksaan tersebut memiliki keterbatasan, terutama pada pasien dengan implan logam seperti pen atau ring.
Menurut dr. Prima, PET scan saat ini paling banyak digunakan untuk skrining kanker, meskipun secara umum juga dapat dimanfaatkan untuk pemeriksaan jantung dan penyakit lainnya.
Deteksi dini dinilai sangat krusial karena penanganan akan jauh lebih optimal jika kanker ditemukan sebelum menimbulkan gejala.
“Melalui PET scan, sel kanker dalam bentuk paling awal pun bisa terdeteksi. Kanker tidak pernah diistilahkan sembuh, tetapi terkontrol. Semakin dini terdeteksi, peluang pengendalian penyakit akan semakin baik,” tegasnya.
Meski melibatkan radiasi, dr. Prima memastikan dosis radiasi pada PET scan tergolong kecil dan aman bagi pasien. Namun, pemeriksaan ini tidak dianjurkan dilakukan setiap tahun, kecuali bagi pasien dengan riwayat kanker atau kebutuhan evaluasi terapi lanjutan.
“PET scan dilakukan dalam beberapa tahap, mulai dari skrining awal, evaluasi di tengah terapi untuk melihat respons obat, menilai keberhasilan terapi, hingga evaluasi lanjutan,” katanya.
Untuk persiapan, pasien hanya perlu berpuasa satu hari dan memastikan kondisi tubuh dengan istirahat yang cukup dan tidak melakukan aktivitas berlebih.
RS Indriati sendiri menjadi pusat layanan PET scan pertama di Jawa Tengah dan DIY, sehingga masyarakat tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan ke luar negeri.
“Kami berharap dengan adanya PET scan di RS Indriati, pencegahan dan deteksi kanker bisa dilakukan jauh lebih awal. Jika kanker sudah menyebar, yang bisa dilakukan hanya perbaikan kondisi, bukan penyembuhan,” jelas dr. Prima.
Saat ini, dr. Prima berpraktik di RS Indriati setiap Senin hingga Jumat pukul 08.00 pagi hingga 16.30 sore. Pasien yang ingin berkonsultasi dapat memanfaatkan layanan telemedis terlebih dahulu.
Sebagai bentuk layanan tambahan, RS Indriati juga menyediakan berbagai fasilitas dan promo pemeriksaan PET scan, mulai dari layanan antar-jemput dari bandara, guest house bagi pasien luar kota, hingga free medical check up senilai Rp1,3 juta bagi pasien di wilayah Solo Raya. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy