RADARSOLO.COM – Dunia kesehatan kembali diingatkan akan ancaman penyakit zoonosis menyusul temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait keberadaan virus Nipah pada kelelawar di Indonesia.
Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo menegaskan, meski belum ada kasus pada manusia, kewaspadaan tinggi tetap menjadi harga mati.
Berdasarkan hasil surveilans nasional periode 2023-2024, material genetik (RNA) virus Nipah ditemukan pada 4 dari 305 sampel kelelawar buah (codot) yang diambil di wilayah Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa reservoir virus tersebut sudah ada di tanah air.
"Pemerintah memang belum pernah mengumumkan adanya kasus pada manusia di Indonesia hingga hari ini. Namun, kita harus tahu bahwa virus ini sudah ada di Indonesia lewat kelelawar buah, meski belum menyeberang ke manusia," jelas Windhu.
Windhu menyoroti bahwa ancaman utama virus Nipah terletak pada tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) yang sangat ekstrem, yakni berkisar antara 45 hingga 80 persen. Angka ini jauh melampaui fatalitas COVID-19.
Gejala awal infeksi sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam dan nyeri tubuh. Namun, yang membedakan adalah kemampuan virus Nipah dalam memicu ensefalitis atau radang otak yang dapat menyebabkan pasien mengalami koma hingga kematian dalam waktu singkat.
"Karena belum ada vaksinnya, kuncinya adalah deteksi dini. Puskesmas dan rumah sakit harus jeli memonitor peningkatan kasus demam dengan ISPA berat atau ensefalitis," tambahnya.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) guna menjaga imunitas tubuh. Windhu juga memberikan peringatan khusus terkait kebiasaan masyarakat mengonsumsi buah-buahan liar.
"Jangan makan buah 'codotan' (buah sisa gigitan kelelawar) dulu. Biasanya orang suka karena rasanya manis, tapi risikonya besar. Kalau ada buah jatuh dalam kondisi berlubang atau krowok, jangan dimakan, langsung buang saja," tegasnya.
Dalam konteks pencegahan pandemi di masa depan, Windhu menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyuplai bukti ilmiah melalui riset dan edukasi. Ia menekankan bahwa penanganan ancaman virus Nipah tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja.
"Perguruan tinggi bertugas membantu komunikasi risiko melalui pengabdian masyarakat. Harus ada kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan masyarakat untuk mencegah virus ini melompat ke manusia," pungkasnya. (bun)
Editor : Kabun Triyatno