RADARSOLO.COM - Nyeri perut pada anak menjadi salah satu topik penting untuk diketahui masyarakat. Mengingat sebagian orang tua menganggap kejadian tersebut hal sepele, yang akan mereda dengan sendirinya.
Padahal, kondisi ini bisa menjadi salah satu tanda gangguan serius pada pencernaan anak, bahkan hingga membutuhkan tindakan operasi.
Topik ini mengemuka dalam seminar kesehatan anak yang digelar di RS Hermina Solo, Sabtu (11/4).
Wakil Direktur Medis RS Hermina Diandra Bayu Jiwandhani mengungkapkan, masih banyak orang tua belum teredukasi tentang nyeri perut pada anak.
“Edukasi tentang nyeri perut pada anak ini masih banyak yang belum terpapar di masyarakat. Kebanyakan orang tua mengira hanya sakit perut biasa, padahal terapinya bisa saja bedah maupun non-bedah,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, tidak sedikit pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah terlambat karena minimnya deteksi dini.
"Karena itu, RS Hermina berkomitmen memberikan layanan tidak hanya kuratif, tetapi juga promotif dan preventif, khususnya bagi masyarakat di wilayah Solo Raya. Kami ingin masyarakat, terutama orang tua sebagai gerbang utama di rumah,” tegasnya.
Baca Juga: Waspada Ruam di Belakang Leher! Pakar Kesehatan Ingatkan Risiko Kematian Akibat Penyakit Campak
Sementara itu, dalam sesi seminar, dokter spesialis anak Evi Rokhayati menjelaskan, nyeri perut pada anak memiliki beragam penyebab.
Mulai dari sembelit, alergi, infeksi, hingga faktor stress. Namun, kasus yang sering ditemukan, anak-anak kesulitan menjelaskan apa yang dirasakan.
“Anak-anak itu kalau ditanya sakitnya di mana, sering tidak bisa menunjuk dengan jelas. Ini menjadi tantangan bagi dokter,” katanya.
Evi juga mengingatkan sejumlah tanda bahaya yang harus segera dilarikan ke rumah sakit. Ketika anak merasakan nyeri hebat, muntah kehijauan atau kekuningan, berat badan tidak bertambah, serta kondisi kesehatan yang semakin memburuk.
"Kalau gejala itu muncul, segera bawa anak ke dokter,” jelasnya.
Seminar tersebut juga dilengkapi oleh dokter bedah RS Hermina Thomas Ariwibowo. Ia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat sebagai langkah preventif. Menurutnya, seminar kesehatan menjadi salah satu sarana efektif untuk meningkatkan pemahaman orang tua.
Ia mengungkapkan, sekira 17-40 persen kasus usus buntu pada anak datang ke rumah sakit dalam kondisi usus sudah pecah akibat keterlambatan penanganan.
“Kebanyakan anak hanya bisa menangis tanpa mengerti rasa sakitnya, sehingga sering terlambat dibawa ke rumah sakit,” ungkapnya.
Untuk penanganan, tindakan operasi seperti apendektomi dapat dilakukan, baik secara terbuka maupun dengan metode laparoskopi yang lebih minimal invasif.
“Laparoskopi memungkinkan operasi dengan sayatan kecil, nyeri lebih minimal, dan masa rawat lebih singkat,” jelasnya.
Baca Juga: Hipnoterapi bagi Kesehatan Tubuh, Membantu Mengelola Stres dan Gangguan Psikosomatis
Selain itu, ia menjelaskan, RS Hermina juga telah menghadirkan layanan endoskopi untuk pemeriksaan saluran dalam tubuh dengan menggunakan kamera. Hal ini memberikan diagnosis yang lebih akurat karena dapat diamati secara langsung.
"Laparoskopi dan endoskopi menjadi salah satu wujud nyata komitmen RS Hermina dalam memberikan pelayanan kesehatan secara optimal. Kita akan terus tingkatkan fasilitas dan pelayanan yang ada," tegasnya.
Melalui seminar ini ia berharap, masyarakat semakin sadar bahwa nyeri perut pada anak tidak boleh dianggap sepele, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat serta mencegah risiko komplikasi serius. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto