Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

RehaDex System, Alat Deteksi Otot Karya Mahasiswa UMS Raih Medali Perak International Science Fair

Alfida Nurcholisah • Jumat, 1 Mei 2026 | 16:42 WIB
Mahasiswa UMS bersama prototipe RehaDex System yang meraih medali perak ajang International Science Fair yang digelar di UIN Sunan Kalijaga Jogja, belum lama ini. (DOK. PRIBADI)
Mahasiswa UMS bersama prototipe RehaDex System yang meraih medali perak ajang International Science Fair yang digelar di UIN Sunan Kalijaga Jogja, belum lama ini. (DOK. PRIBADI)

RADARSOLO.COM - Pasien fraktur (patah tulang) sangat membutuh rehabilitasi pascaoperasi, untuk pemulihan fungsi gerak, kekuatan otot, dan mobilitas melalui fisioterapi intensif.

Proses tersebut biasanya butuh alat bantu pengukuran otot. Nah, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) baru saja ciptakan prototipe alat itu, namanya: RehaDex System.

Kebutuhan akan alat ukur kekuatan otot yang lebih akurat di dunia fisioterapi, mendorong lahirnya inovasi RehaDex System.

Sebab selama ini, metode pengukuran yang digunakan masih bersifat subjektif dan manual. Sehingga hasil penilaian antartenaga medis sering berbeda. 

Baca Juga: Preeklampsia, Komplikasi Kehamilan Serius: Kenali Gejala, Penyebab, Dan Pengobatannya

RehaDex hadir sebagai alat deteksi kekuatan otot berbasis real time, yang lebih objektif dan terukur. Inovasi ini dikembangkan tim yang diketuai Tsannina Saida Lathifa.

Tak sendirian, ia didampingi Najwa Citamajida, Dinaya Ulfah, dan Tutut Setya Linda Mahandini. Mereka di bawah bimbingan dosen Adnan Faris Naufal.

Najwa Citamajida menjelaskan, RehaDex System dirancang untuk mengukur kekuatan otot. Cara kerjanya melalui ekstensor jari, dengan pendekatan berbasis data.

Baca Juga: Waspadai Nyeri Perut Pada Anak, Bedah Atau Non-Bedah?

Alat ini mampu menampilkan hasil secara langsung, sehingga meminimalkan subjektivitas dalam proses penilaian otot pascaoperasi fraktur.

“Biasanya pengukuran otot pakai metode manual muscle testing (MMT) yang sifatnya subjektif. Sehingga penilaian setiap fisioterapis bisa berbeda. Inilah yang mendasari kami untuk mengembangkan RehaDex, yang mampu mengubah penilaian subjektif menjadi objektif,” bebernya, Jumat (1/5).

Najwa menambahkan, alat ini bekerja dengan memanfaatkan sensor untuk menangkap kekuatan otot. Kemudian diolah menjadi data yang dapat dipantau secara real time.

Dengan demikian, perkembangan kondisi pasien pasca operasi faktur radius dapat dievaluasi secara lebih konsisten dan terukur.

“Alat ini kami prioritaskan untuk orang dewasa, karena kekuatan otot jarinya lebih mudah diukur,” beber Najwa.

Sejatinya, ide pengembangan RehaDex berawal dari tugas mata kuliah pediatri (cabang kedokteran yang fokus pada kesehatan anak). Namun, Najdwa dkk melihat adanya kebutuhan nyata di lapangan. Terutama dalam proses rehabilitasi pasien pascaoperasi fraktur.

“Dari situ kami mencoba menghadirkan solusi berbasis teknologi, agar terapi rehabilitasi bisa lebih akurat,” ujarnya.

Baca Juga: Waspada Ruam di Belakang Leher! Pakar Kesehatan Ingatkan Risiko Kematian Akibat Penyakit Campak

Najdwa berharap inovasi ini bisa digunakan berbagai kalangan. Mulai dari peneliti hingga tenaga medis.

“Alat ini bisa dipakai oleh researcher, dokter, fisioterapi, ataupun tenaga rumah sakit. Bahkan peneliti yang membutuhkan data konkret berupa angka kekuatan otot, juga bisa pakai alat ini. Bisa menjadi solusi memudahkan penelitian,” bebernya.

Dalam proses pengembangannya, Najdwa dkk sempat menghadapi kendala teknis. Bahkan, alat mengalami error akibat korsleting, sehari sebelum kompetisi berlangsung.

“Korsleting H-1 sebelum presentasi. Sampai nggak bisa tidur. Alhamdulilah sebelum presentasi kembali normal,” jelasnya.

Kompetisi diawali dengan pengumpulan artikel ilmiah. Dilanjutkan presentasi dan penjurian langsung melalui pameran prototipe.

“Kami dapat berbagai masukan untuk penyempurnaan produk, terutama terkait validitas dan pengujian lanjutan. Ini yang akan kami tingkatkan lagi,” urai Najwa.

Sementara itu, RehaDex berhasil meraih medali perak ajang International Science Fair yang digelar di UIN Sunan Kalijaga Jogja, belum lama ini. Ke depan, RehaDex akan dikembangkan dengan integrasi berbasis web, tanpa meninggalkan versi offline.

“Kami ingin alat ini fleksibel dan inklusif. Bisa dimanfaatkan di berbagai fasilitas kesehatan,” hemat Najwa. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#International Science Fair #alat pengukur otot #inovasi #UMS