Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

FK UNS Turunkan Tim Dokter Spesialis ke Desa, Latih Kader Posyandu Gunung Kidul DIY Jadi Garda Terdepan Deteksi Hipertensi

Tri wahyu Cahyono • Senin, 22 Juni 2026 | 16:29 WIB
Research Group Biologi Molekuler, Imunologi dan Complementer (RG BIMOLI.COM) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) Surakarta menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk "Pemberdayaan dan Pelatihan Kader Kesehatan Desa Karang Asem, Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul dalam Mencegah dan Mengatasi Hipertensi." (DOK.FK UNS)
Research Group Biologi Molekuler, Imunologi dan Complementer (RG BIMOLI.COM) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) Surakarta menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk "Pemberdayaan dan Pelatihan Kader Kesehatan Desa Karang Asem, Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul dalam Mencegah dan Mengatasi Hipertensi." (DOK.FK UNS)

RADARSOLO.COM-Pendapa Sutra Buwana di Desa Karang Asem, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, DIY Sabtu pagi itu penuh sesak.

Puluhan ibu-ibu kader posyandu dan kader kesehatan desa duduk berbaris rapi, sebagian membawa buku catatan, sebagian lagi tampak berbisik-bisik penuh antusias.

Mereka tidak datang untuk rapat biasa. Tapi belajar tentang penyakit yang diam-diam mengintai warga mereka setiap hari — dan tidak selalu memberikan tanda.

Research Group Biologi Molekuler, Imunologi dan Complementer (RG BIMOLI.COM) Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (FK UNS) Surakarta menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk "Pemberdayaan dan Pelatihan Kader Kesehatan Desa Karang Asem, Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul dalam Mencegah dan Mengatasi Hipertensi."

Baca Juga: PGPAUD FKIP UNS Gelar Fun Holiday Program: Inovasi Edukatif Mengisi Liburan Anak Usia Dini

Kegiatan yang tercatat resmi dalam Surat Tugas LPPM UNS Nomor 1310/UN27.22/PT.01.04/2026 dengan nomor kontrak 463/UN27.22/PT.01.03/2026 ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset UNS (PKM HGR-UNS) skema Non-APBN 2026.

Mengapa Hipertensi, dan Mengapa Kader?

Indonesia menghadapi beban hipertensi yang besar. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat satu dari tiga orang dewasa Indonesia menderita hipertensi — dan sebagian besar tidak menyadarinya.

Di wilayah pedesaan seperti Gunung Kidul, jarak ke fasilitas kesehatan, keterbatasan waktu, dan rendahnya kesadaran untuk periksa menjadi tantangan nyata.

Di sinilah peran kader posyandu menjadi tidak tergantikan.

Mereka ada di tengah-tengah masyarakat setiap hari. Menjadi yang pertama kali bisa mendeteksi, mengedukasi, dan merujuk — jauh sebelum warga sampai ke meja dokter.

"Kami tidak bisa menjangkau setiap warga. Tapi kalau kader yang terlatih ini bisa menjangkau puluhan warga di sekitar mereka setiap bulan, dampaknya jauh lebih besar dari yang bisa kami lakukan sendiri dari balik dinding rumah sakit," ujar Dr. dr. Dwi Surya Supriyana, M.Kes., Sp.Ak., selaku Ketua Tim Pengabdian.

Dua Pembicara Utama: Spesialis dari FK UNS Turun Langsung

Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara utama yang keduanya merupakan dokter spesialis dari FK UNS. Yakni

dr. Agus Jati Sunggoro: Kenali Hipertensi Sebelum Terlambat, dan dr. Agus Jati Sunggoro, Sp.PD., Subsp.HOM(K), FINASIM, Konsultan Hematologi-Onkologi RSUD Dr. Moewardi sekaligus dosen FK UNS membuka sesi pertama dengan materi yang langsung menyentuh inti persoalan.

Ia memaparkan definisi dan klasifikasi tekanan darah secara sederhana, siapa saja yang berisiko, gejala yang perlu diwaspadai, cara mengukur tekanan darah yang benar.

Hingga kapan seorang warga harus segera dibawa ke puskesmas atau IGD. Seluruh materi disampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami, jauh dari istilah medis yang rumit.

Baca Juga: KSM Radiologi RSUD Moewardi dan FK UNS Gelar Layanan USG Gratis di CFD Solo

Yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika dr. Agus Jati menjelaskan konsep silent killer.

"Hipertensi itu silent killer — pembunuh diam-diam. Banyak warga yang tidak pusing, tidak ada keluhan, tapi tekanan darahnya sudah sangat tinggi. Kader adalah orang pertama yang bisa menangkap ini sebelum terlambat. Bukan menunggu warga pusing dulu baru periksa," tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa tugas kader bukan mendiagnosis atau memberi obat, melainkan mengukur, mencatat, mengedukasi, dan merujuk tepat waktu — empat fungsi sederhana yang jika dilakukan konsisten dapat mencegah komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal.

Prof. Dr. Ida Nurwati: Pencegahan Dimulai dari Meja Makan dan Ujung Jari

Prof. Dr. Ida Nurwati, dr., M.Kes., Sp.Ak., Ketua RG BIMOLI.COM sekaligus Guru Besar FK UNS, melanjutkan dengan sesi yang tidak kalah padat.

Ia membahas tiga pilar pencegahan dan pengelolaan hipertensi berbasis komunitas.

Pertama, DASH Diet — pola makan yang dirancang untuk menurunkan tekanan darah, diadaptasi dengan contoh bahan makanan lokal yang tersedia di desa seperti pisang, singkong, bayam, tempe, dan tahu.

Kedua, akupresur mandiri — teknik menekan titik-titik tertentu di tangan dan kaki yang dapat diajarkan kader kepada warga sebagai terapi pendamping, dilengkapi panduan lokasi titik dalam bahasa awam.

Ketiga, kepatuhan minum obat — yang Prof. Ida tegaskan sebagai poin paling kritis di lapangan.

Baca Juga: Grup Riset Bimoli.com FK UNS Gandeng RS dr. Oen Solo Baru Gelar Seminar Edukasi Peningkatan Kapasitas Dokter Layanan Primer Deteksi Dini Kanker

"Kami sangat sering menemui pasien yang berhenti minum obat begitu tensinya turun dan merasa tidak pusing. Padahal tekanan darah normal saat minum obat bukan berarti sembuh — obat sedang bekerja. Begitu berhenti, tekanan darah bisa naik lagi kapan saja, bahkan lebih tinggi. Ini yang harus kader sampaikan ke warga," ujar Prof. Ida.

Ia juga menegaskan bahwa buku saku yang dibagikan hari itu sengaja ditulis dalam bahasa yang paling sederhana, jauh dari istilah teknis kedokteran.

"Karena kader yang ada di lapangan setiap hari, bukan kami yang ada di rumah sakit."

Sesi Tanya Jawab: Pertanyaan yang Lahir dari Lapangan

Sesi tanya jawab berlangsung hangat dan jauh lebih interaktif dari yang mungkin dibayangkan.

Para kader tidak segan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat praktis dan kontekstual — jenis pertanyaan yang hanya bisa lahir dari orang yang benar-benar berhadapan langsung dengan warga setiap hari.

Pertanyaan yang muncul antara lain: bagaimana menghadapi warga yang menolak minum obat karena takut ketergantungan?

Bagaimana menjelaskan kepada warga yang lebih percaya jamu daripada obat dokter?

Apa yang harus dilakukan jika menemukan ibu hamil dengan tekanan darah tinggi, hingga bagaimana cara mengisi logbook pemantauan dengan benar?

Tim FK UNS menjawab satu per satu dengan sabar, diselingi analogi dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga desa, membuat suasana semakin cair dan akrab.

Baca Juga: FKOR UNS Gencar Lestarikan Olahraga Tradisional

Praktik Langsung: Delapan Dokter Spesialis Dampingi Satu Per Satu

Momen yang paling dinantikan — dan paling ramai — adalah sesi praktik langsung pengukuran tekanan darah.

Para kader secara bergantian mencoba menggunakan tensimeter digital. Mulai dari cara memasang manset yang benar, posisi lengan yang tepat, hingga cara membaca angka dan mencatatnya.

Yang membuat sesi ini istimewa adalah kehadiran delapan dokter anggota RG BIMOLI.COM yang turun langsung mendampingi sebagai instruktur pelatihan:

1. *Dr. dr. Dwi Surya Supriyana, M.Kes., Sp.Ak.* — Ketua Tim Pengabdian
2. *Dr. Muthmainah, dr., M.Kes.*
3. *Jarot Subandono, dr., M.Kes.*
4. *Danus Hermawan, dr., M.Biomed*
5. *Dra. Dyah Ratna Budiani, M.Si.*
6. *Dr. Selfi Handayani, dr., M.Kes.*
7. *Fikar Arsyad Hakim, dr., Sp.PA*

Dengan rasio pendamping yang memadai, setiap kader mendapat perhatian langsung — memastikan tidak ada satu pun yang pulang dengan teknik pengukuran yang salah.

Tim juga secara khusus memperkenalkan logbook pemantauan hipertensi, sebuah buku catatan terstruktur yang dirancang oleh RG BIMOLI.COM untuk membantu kader mendokumentasikan hasil pengukuran tekanan darah warga setiap bulan.

Logbook ini memuat register kunjungan posyandu bulanan dengan kapasitas 20 warga per sesi, kartu pantau khusus untuk warga berisiko tinggi, tabel rekapitulasi tahunan.

Hingga kolom tanda tangan petugas puskesmas pendamping — menjadikannya sebuah instrumen pemantauan yang serius, bukan sekadar buku catatan biasa.

Baca Juga: Program PPDS Berbasis Hospital Based dan University Based Bikin Timpang, 9 Guru Besar FK UNS Serukan Ini

KKN Recognisi: Saat Ruang Kelas Berpindah ke Desa

Keistimewaan lain dari kegiatan ini adalah keterlibatan enam mahasiswa FK UNS melalui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) Recognisi— program yang mengakui keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat sebagai bagian dari pemenuhan beban studi akademik.

Keenam mahasiswa tersebut adalah

Muhammad Andria Rusyidi

Theresa Gloria

Naraja Khaufandra

Ghinaa Allaamah

Lubna Zulfa Karimah

Rambu Yolan Triayu Pura Tanya.

Mereka terlibat aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan — dari persiapan materi, pendampingan sesi praktik, distribusi buku dan leaflet, hingga dokumentasi kegiatan.

Bagi mereka, ini bukan sekadar memenuhi syarat akademik. Ini adalah pengalaman berhadapan langsung dengan persoalan kesehatan nyata yang tidak ditemukan di dalam ruang kuliah.

Memahami bagaimana menjelaskan tekanan darah kepada ibu-ibu yang belum pernah mendengar istilah sistolik dan diastolik.

Baca Juga: Ingin Sehat dan Bahagia? Coba Rutin Lari, Begini Penjelasan Pakar FKOR UNS

Bagaimana meyakinkan warga yang skeptis terhadap pengobatan modern, dan bagaimana sistem kesehatan komunitas bekerja dari tingkat paling bawah.

Buku Saku dan Leaflet: Ilmu yang Bisa Dibawa Pulang

Seluruh peserta membawa pulang dua materi edukasi dari RG BIMOLI.COM.

Buku Saku untuk Kader "Peduli Hipertensi"* — dengan judul lengkap "Panduan dalam Deteksi Dini, Pencegahan, dan Pemantauan Tekanan Darah" — merupakan buku yang disusun bersama oleh sembilan dosen dan sepuluh mahasiswa FK UNS.

Buku setebal belasan halaman ini memuat materi lengkap: definisi dan klasifikasi hipertensi, faktor risiko, gejala, cara mengukur tekanan darah manual dan digital.

Panduan DASH Diet dengan contoh makanan lokal, teknik akupresur beserta lokasi titik dalam bahasa awam, mitos dan fakta hipertensi yang sering beredar di masyarakat, panduan kepatuhan minum obat, peringatan khusus untuk ibu hamil, glosarium istilah, dan daftar referensi ilmiah.

Selain buku saku, peserta juga menerima leaflet edukasi — ringkasan visual ringkas yang dapat ditempelkan di meja posyandu atau dibagikan langsung kepada warga.

Baca Juga: Prodi Radiologi FK UNS Sambut International Day of Radiology 2024 dengan Pengabdian Masyarakat

"Buku dan leaflet ini adalah perpanjangan tangan kami. Setelah hari ini kami kembali ke Surakarta, buku ini yang menemani kader di lapangan," ujar Prof. Dr. Ida Nurwati.

Dari Pendapa ke Posyandu: Harapan yang Dibawa Pulang

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama yang meriah — para kader, delapan instruktur dokter, enam mahasiswa KKN Recognisi, dan seluruh tim FK UNS berdiri bersama di bawah atap pendapa kayu berukir yang tinggi, masing-masing mengacungkan jempol dan membentuk gestur hati dengan tangan.

Sebuah gambar sederhana yang merangkum sesuatu yang tidak sederhana: pertemuan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.

Antara ruang akademik dan pendapa desa, antara dokter spesialis dan ibu-ibu kader yang setiap harinya berjalan dari rumah ke rumah demi menjaga kesehatan tetangga mereka.

Dr. dr. Dwi Surya Supriyana menutup kegiatan dengan harapan yang tegas.

"Kami berharap setelah pelatihan ini, setiap kader mampu mendeteksi hipertensi lebih awal, mengedukasi warga dengan benar, dan merujuk tepat waktu. Karena satu kader yang terlatih bisa menyelamatkan puluhan nyawa di desanya," jelas Dr. dr. Dwi Surya.

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini merupakan bagian dari Program Hibah Grup Riset UNS (PKM HGR-UNS) Tahun 2026, dilaksanakan oleh RG BIMOLI.COM Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret dengan dukungan LPPM UNS. (*)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#diy #kader Posyandu #hipertensi #FK UNS #gunung kidul