RADARSOLO.COM – Gelombang panas yang menyelimuti Solo Raya dalam beberapa pekan terakhir bukan sekadar membuat warga gerah.
Di balik suhu udara yang mencapai 37 hingga 40 derajat Celsius, ancaman serius terhadap kesehatan mengintai, mulai dari dehidrasi, gangguan ginjal, hingga heat stroke yang dapat berujung fatal.
Di siang hari, jalan raya tampak berkilau diterpa terik matahari. Aspal memantulkan gelombang panas yang terasa menyengat hingga ke kulit.
Termometer di sejumlah kendaraan yang terparkir di ruang terbuka menunjukkan suhu mencapai 37 derajat celsius. Di beberapa titik tanpa naungan, hawa panas bahkan terasa mendekati 40 derajat celsius.
Kondisi tersebut membuat banyak warga memilih berlindung di ruangan berpendingin udara. Namun, menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen dr. Sri Subekti, cuaca panas ekstrem tidak boleh dianggap sekadar musim kemarau biasa.
"Ancaman paling awal yang harus diwaspadai adalah dehidrasi. Tubuh kehilangan cairan lebih cepat dibandingkan asupan yang masuk. Jika berlangsung terus-menerus, organ vital seperti ginjal akan bekerja lebih berat dan berpotensi mengalami gangguan fungsi," ujarnya.
Sri menjelaskan, banyak orang baru menyadari dirinya mengalami dehidrasi saat rasa haus muncul. Padahal, tubuh biasanya telah memberikan sejumlah sinyal lebih awal.
Mulut kering, pusing, kram otot, tubuh terasa lemas, hingga perubahan warna urin menjadi kuning pekat merupakan tanda-tanda yang perlu diwaspadai.
Bahkan, ketika elastisitas kulit mulai berkurang dan tampak berkerut saat dicubit, kondisi dehidrasi bisa jadi sudah memasuki tahap yang lebih serius.
Menurutnya, kelompok yang paling rentan terdampak adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan jantung.
Bahaya terbesar dari cuaca panas ekstrem adalah heat stroke atau sengatan panas. Kondisi ini terjadi ketika suhu tubuh meningkat hingga sekitar 40 derajat Celsius dan sistem pengatur suhu tubuh gagal bekerja.
Baca Juga: Sragen Utara Mulai Krisis Air, BPBD Kirim Bantuan Perdana ke Gesi
"Heat stroke merupakan kondisi darurat medis. Korban bisa mengalami penurunan kesadaran, kejang, hingga kegagalan organ yang dapat mengancam nyawa," tegas Sri.
Fenomena tersebut kerap terjadi pada individu yang terpapar panas dalam waktu lama tanpa perlindungan memadai atau kekurangan cairan tubuh.
Tak hanya berdampak pada kesehatan fisik, suhu udara yang tinggi juga memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Sri menyebut, cuaca panas berkorelasi dengan meningkatnya tingkat stres dan ketidakstabilan emosi. Warga cenderung lebih mudah marah, sulit berkonsentrasi, merasa gelisah, hingga mengalami gangguan tidur pada malam hari.
Baca Juga: Dikira Hanyut di Jembatan Jurug, Remaja asal Karanganyar Ternyata Terekam CCTV Pergi Jalan Kaki
"Temperatur yang tinggi membuat tubuh sulit beristirahat secara optimal. Akibatnya kualitas tidur menurun dan emosi menjadi lebih mudah terpancing," katanya.
Bagi penderita penyakit penyerta seperti diabetes dan jantung, kondisi cuaca panas juga dapat memperberat pengendalian penyakit serta meningkatkan risiko munculnya keluhan mendadak seperti nyeri dada.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan selama cuaca panas masih berlangsung.
Langkah paling sederhana adalah membiasakan minum air putih secara berkala tanpa menunggu rasa haus muncul. Warga juga disarankan selalu membawa botol minum saat beraktivitas.
Baca Juga: Donasi Rp 901 Juta Warga Sragen Berwujud Tiga Balai Rakyat di Aceh Tamiang
Selain itu, penggunaan topi, payung, pakaian lengan panjang berbahan ringan, serta tabir surya menjadi penting untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari dan radiasi ultraviolet (UV).
"Bila harus bekerja di luar ruangan, gunakan pakaian yang longgar dan mudah menyerap keringat. Kalau memungkinkan, bawa baju ganti agar tubuh tetap nyaman," ujar Sri.
Dia juga mengingatkan masyarakat untuk segera menghentikan aktivitas dan mencari tempat teduh apabila mulai merasakan pusing, jantung berdebar cepat, atau tubuh terasa sangat lemah.
"Jangan memaksakan diri. Ketika tubuh sudah memberi sinyal, segera beristirahat dan penuhi kebutuhan cairan. Itu langkah paling penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius," ujarnya. (din/bun)
Editor : Adi Pras