Saat Asam Urat Tak Hanya Menyerang Lansia, Kenali Gejala Dan Penyebabnya

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 18:37 WIB
Ilustrasi penderita penyakit asam urat. (AI GENERATED)
Ilustrasi penderita penyakit asam urat. (AI GENERATED)

RADARSOLO.COM - Anggapan bahwa penyakit asam urat hanya menyerang orang lanjut usia (lansia) perlu diluruskan.

Penyakit yang ditandai nyeri dan peradangan pada sendi tersebut juga dapat dialami kelompok usia produktif, remaja, bahkan anak-anak yang memiliki faktor risiko tertentu.

Dokter Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dr. Oryzafira Gayatri mengatakan, penyakit asam urat atau gout arthritis terjadi akibat penumpukan kristal asam urat (monosodium urate) pada persendian.

Kondisi tersebut terjadi ketika kadar asam urat dalam darah terlalu tinggi, hingga kemudian mengendap di jaringan sendi.

Baca Juga: Perkuat Layanan Ibu dan Anak, BRI Peduli Resmikan Posyandu Matahari di Desa Brilian Hargobinangun Sleman

“Serangan asam urat biasanya muncul secara tiba-tiba dengan nyeri yang sangat hebat, terutama pada malam hari atau saat bangun tidur. Sendi yang terkena akan tampak bengkak, kemerahan, terasa hangat, dan sangat nyeri, bahkan hanya karena sentuhan ringan,” jelasnya, Senin (10/8).

Bagian tubuh yang paling sering terkena adalah pangkal ibu jari kaki.

Namun, serangan juga dapat terjadi pada lutut, pergelangan kaki, pergelangan tangan, dan siku.

Dalam kondisi tertentu, asam urat bahkan dapat menyerang bahu, pinggul, hingga tulang belakang.

Menurut Oryzafira, perjalanan penyakit asam urat dapat berlangsung dalam beberapa tahap.

Awalnya, kadar asam urat seseorang sudah tinggi tetapi belum menimbulkan gejala.

Kondisi kemudian dapat berkembang menjadi serangan akut berupa nyeri dan peradangan sendi.

Setelah serangan mereda, penderita memasuki fase tanpa gejala.

Kendati demikian, risiko kekambuhan tetap ada.

Jika tidak dikendalikan, penyakit dapat berkembang hingga terbentuk benjolan akibat penumpukan kristal asam urat atau tophi.

Pada tahap tersebut, kerusakan sendi dan frekuensi serangan dapat semakin meningkat.

Oryzafira menjelaskan, asam urat terbentuk dari proses pemecahan purin di dalam tubuh.

Baca Juga: Efek Suhu Ekstrem bagi Kesehatan, Bisa Picu Heat Stroke dan Gagal Ginjal

Purin banyak ditemukan dalam sejumlah makanan, seperti daging merah, jeroan, makanan laut, dan kerang.

Selain pola makan, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko.

Di antaranya riwayat keluarga, obesitas, diabetes, hipertensi, dehidrasi, stres, efek kemoterapi atau operasi, hingga penggunaan obat-obatan tertentu.

Untuk memastikan penyakit asam urat, pemeriksaan tidak cukup hanya berdasarkan kadar asam urat dalam darah.

Dokter perlu melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium.

Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan cairan sendi maupun pencitraan seperti sinar-X juga dapat dilakukan.

“Kadar asam urat yang tinggi tidak selalu berarti seseorang menderita gout. Sebaliknya, ada pasien yang mengalami serangan gout meskipun kadar asam uratnya sedang normal saat diperiksa. Karena itu, diagnosis harus dilakukan secara menyeluruh oleh dokter,” terangnya.

Meski tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, penyakit asam urat dapat dikendalikan.

Penderita perlu mengonsumsi obat sesuai resep dokter dan tidak melakukan pengobatan sendiri tanpa pengawasan tenaga medis.

Baca Juga: Angka Imunisasi Di Solo Versi Pusdatin Tinggi, Tapi Data Provinsi Malah Terendah

Perubahan gaya hidup juga menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit.

Penderita dianjurkan membatasi makanan tinggi purin, menghindari alkohol, memperbanyak minum air putih, serta mengistirahatkan sendi ketika sedang mengalami peradangan.

Jika tidak ditangani dengan baik, asam urat dapat memicu berbagai komplikasi.

Mulai dari kerusakan sendi permanen, keterbatasan gerak, terbentuknya tophi, hingga batu ginjal dan penyakit ginjal kronis. 

Sebab itu, pencegahan perlu dilakukan sejak dini.

Masyarakat disarankan membatasi makanan dan minuman tinggi gula serta tinggi purin, menjaga berat badan, rutin berolahraga sesuai kemampuan, dan memenuhi kebutuhan cairan.

Penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi juga perlu dikendalikan.

Pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi tubuh dan mendeteksi faktor risiko lebih awal.

Oryzafira mengingatkan masyarakat tidak mengabaikan nyeri sendi yang muncul secara mendadak, terutama jika terjadi pada malam hari atau ketika bangun pagi.

“Semakin dini penyakit asam urat dikenali dan ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien,” ujarnya. (alf/bun)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
penyebab asam urat apa itu asam urat gejala asam urat lansia