Ternyata Isi Piring Bisa Ikut Mengatur Mood, Kok Bisa?

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 07:45 WIB
Hubungan usus dan otak melalui gut-brain axis membuktikan bahwa makanan memengaruhi suasana hati.
Hubungan usus dan otak melalui gut-brain axis membuktikan bahwa makanan memengaruhi suasana hati.

RADARSOLO.COM – Pernah merasa lebih bersemangat setelah makan makanan tertentu? Atau justru merasa gelisah setelah terlalu banyak minum kopi? Ternyata, hubungan antara makanan dan suasana hati tidak sesederhana urusan lapar dan kenyang.

Apa yang kita makan dapat berhubungan dengan kondisi otak melalui sebuah mekanisme yang dikenal sebagai gut-brain axis, yakni komunikasi dua arah antara sistem pencernaan dan otak.

Hubungan tersebut membuat kondisi saluran pencernaan tidak hanya berkaitan dengan proses mencerna makanan. Mikroorganisme yang hidup di dalam usus juga dapat menghasilkan berbagai senyawa yang berinteraksi dengan sistem tubuh, termasuk jalur yang berhubungan dengan fungsi otak dan suasana hati.

Baca Juga: Kimpul Naik Daun, Ini Umbi-Umbian Lokal Lain yang Tak Kalah Menarik

Salah satu hal yang sering dibicarakan dalam hubungan antara usus dan otak adalah serotonin. Sebagian besar serotonin tubuh memang diproduksi di saluran pencernaan. Namun, bukan berarti serotonin yang berada di usus dapat begitu saja masuk ke otak. Sistem saraf pusat memiliki mekanisme penghalang tersendiri.

Yang lebih penting, kesehatan usus dan proses metabolisme di dalamnya dapat memengaruhi berbagai jalur biologis yang berkaitan dengan fungsi otak.

Karena itu, pola makan menjadi salah satu bagian yang mulai banyak diperhatikan dalam pembahasan kesehatan mental.

Bukan Berarti Makanan Jadi Obat

Buku This Is Your Brain on Food karya psikiater nutrisi Uma Naidoo ikut mempopulerkan pembahasan mengenai hubungan antara makanan, otak, dan kesehatan mental. Gagasan besarnya adalah makanan dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung kesehatan otak, meskipun bukan satu-satunya penentu kondisi psikologis seseorang.

Baca Juga: Kimpul Viral di TikTok, Umbi Lokal Ini Disulap Jadi Seblak hingga Arancini

Penelitian mengenai pola makan dan kesehatan mental juga menunjukkan bahwa pola makan secara keseluruhan lebih penting daripada mengandalkan satu jenis makanan tertentu. Pola makan yang banyak mengandung sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, serta sumber serat umumnya dikaitkan dengan kesehatan yang lebih baik.

Sebaliknya, konsumsi makanan ultra-proses, gula tambahan, dan lemak tertentu secara berlebihan perlu dibatasi sebagai bagian dari pola hidup sehat.

Lalu bagaimana dengan kopi?

Kafein memang dapat meningkatkan kewaspadaan dan membantu seseorang merasa lebih berenergi. Namun, efeknya berbeda pada setiap orang. Konsumsi kafein dalam jumlah besar atau terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu kualitas tidur dan pada sebagian orang dapat memperburuk rasa gelisah.

Jadi, bukan berarti kopi harus langsung masuk daftar musuh kesehatan mental. Persoalannya lebih kepada berapa banyak dan kapan kita mengonsumsinya.

Hal serupa berlaku pada makanan fermentasi seperti tempe, kimchi, atau yogurt. Tempe memang merupakan produk fermentasi dan mengandung berbagai komponen nutrisi yang bermanfaat. Namun, belum tepat jika langsung menyimpulkan bahwa semua makanan fermentasi pasti memberikan efek yang sama terhadap suasana hati.

Baca Juga: Pecel, Rujak, hingga Lodeh, Kenapa Sulit Dicari Padanan Bahasa Inggrisnya?

Artinya, tidak ada satu makanan ajaib yang bisa membuat seseorang langsung bahagia.

Yang lebih masuk akal adalah melihat pola makan secara keseluruhan sebagai salah satu bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan tubuh dan otak.

Menariknya, hubungan tersebut membuat aktivitas sederhana seperti memilih menu makan siang memiliki konteks yang lebih luas. Kita tidak hanya sedang menentukan makanan yang membuat perut kenyang, tetapi juga menyediakan energi dan zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi.

Pada akhirnya, makanan memang bukan obat untuk semua persoalan mental. Kecemasan, depresi, gangguan tidur, atau kondisi lainnya tetap membutuhkan penanganan yang sesuai jika sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.

Namun, dari sepiring makanan yang kita pilih setiap hari, ada satu hal yang semakin jelas, kesehatan otak ternyata tidak sepenuhnya terpisah dari apa yang terjadi di dalam perut. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa pola kesederhanaan makanan otak