RADARSOLO.COM - Trauma sering kali dianggap hanya sebagai luka yang tersimpan dalam ingatan.
Padahal, pengalaman traumatis dapat meninggalkan jejak yang jauh lebih kompleks.
Ketika seseorang mengalami peristiwa yang sangat menakutkan, mengancam, atau menyakitkan, otak tidak sekadar “mengingat” kejadian tersebut.
Sistem otak yang mengatur rasa takut, ingatan, emosi, hingga respons tubuh terhadap bahaya ikut bekerja dan dapat berubah.
Baca Juga: Soroti Plafon SDN Cepoko 2 Ambrol, DPRD Sragen Sentil Validitas Data Renovasi Sekolah
Secara sederhana, trauma dapat membuat otak berada dalam kondisi seperti terus bersiap menghadapi ancaman.
Bahkan ketika situasi sebenarnya sudah aman, sebagian orang masih dapat merasakan seolah-olah bahaya tersebut belum benar-benar berakhir.
Otak mengenali bahaya sebelum kita sempat berpikir
Ketika seseorang menghadapi peristiwa traumatis, salah satu bagian otak yang berperan penting adalah amigdala.
Bagian ini berkaitan erat dengan pemrosesan emosi, terutama rasa takut dan deteksi ancaman.
Saat amigdala menilai sesuatu sebagai berbahaya, tubuh dapat segera masuk ke mode fight or flightmelawan atau melarikan diri.
Detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, otot menegang, dan perhatian diarahkan pada sumber ancaman.
Respons tersebut sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan alami.
Masalahnya muncul ketika sistem alarm tersebut menjadi terlalu sensitif setelah seseorang mengalami trauma.
Akibatnya, suara, tempat, aroma, percakapan, atau situasi tertentu yang mengingatkan seseorang pada peristiwa traumatis dapat memicu kembali respons emosional yang kuat.
Baca Juga: Komplotan Pencuri Tiang WiFi Dibongkar Polisi, Beraksi dari Wonogiri hingga Gunungkidul
Dengan kata lain, otak tidak selalu menunggu seseorang menyadari bahwa dirinya sedang takut. Tubuh dapat memberikan respons terlebih dahulu.
Mengapa Kenangan Traumatis Terasa Nyata?
Salah satu teka-teki terbesar tentang trauma adalah mengapa sebuah kejadian yang telah berlalu bertahun-tahun masih dapat terasa begitu dekat.
Jawabannya berkaitan dengan cara otak menyimpan dan memproses pengalaman traumatis.
Hippocampus, bagian otak yang berperan dalam pembentukan dan konteks memori, bekerja bersama sistem emosi ketika seseorang mengalami peristiwa yang sangat menegangkan.
Baca Juga: 100 Anggota Aslinmas Wonogiri Dikirim Apel Akbar di Jateng
Dalam kondisi stres berat, proses penyimpanan dan pengolahan memori dapat terganggu.
Akibatnya, kenangan traumatis pada sebagian orang dapat muncul dalam bentuk potongan-potongan ingatan, sensasi tubuh, mimpi buruk, atau kilasan kejadian.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang yang mengalami trauma tidak selalu mengingat sebuah peristiwa seperti membaca cerita dari awal hingga akhir.
Kenangan dapat muncul secara tidak berurutan dan terasa sangat emosional.
Hormon Stres Ikut Berperan
Trauma juga berkaitan dengan kerja sistem stres tubuh, termasuk kortisol dan adrenalin.
Baca Juga: Ungkap Penimbunan 2.600 Liter Pertalite di Wonogiri, Kapolres: Polisi Hadir Dengarkan Keluhan Warga
Ketika otak mendeteksi ancaman, tubuh meningkatkan kesiagaan agar seseorang mampu menghadapi keadaan darurat.
Dalam situasi sesaat, mekanisme tersebut sangat berguna. Namun, tekanan yang berlangsung lama dapat membuat sistem respons stres bekerja secara tidak seimbang.
Seseorang kemudian dapat mengalami berbagai perubahan, seperti sulit tidur, mudah terkejut, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, atau merasa terus-menerus waspada.
Baca Juga: 100 Anggota Aslinmas Wonogiri Dikirim Apel Akbar di Jateng
Pada titik ini, trauma tidak lagi sekadar persoalan “sudah move on atau belum”. Ada proses biologis yang ikut memengaruhi cara seseorang merespons lingkungan di sekitarnya.
Bagian otak yang berpikir rasional juga ikut terpengaruh
Selain amigdala dan hippocampus, korteks prefrontal juga memiliki peran penting.
Bagian otak ini terlibat dalam pengambilan keputusan, pengendalian impuls, perhatian, dan kemampuan menilai suatu keadaan.
Dalam kondisi stres berat, kemampuan otak untuk melakukan pengendalian dan penilaian secara optimal dapat terganggu.
Akibatnya, seseorang mungkin merasa sulit berpikir jernih ketika berhadapan dengan sesuatu yang mengingatkan pada pengalaman traumatis.
Baca Juga: Hendak Wudu Terpeleset, Wanita Paro Baya Tercebur Sumur di Bendosari Sukoharjo
Hal ini menunjukkan bahwa reaksi seseorang terhadap trauma bukan semata-mata persoalan kemauan. Otak memang sedang bekerja dalam kondisi yang berbeda.
Trauma tidak selalu berarti otak “rusak”
Di tengah pembicaraan mengenai trauma, ada anggapan bahwa pengalaman traumatis pasti membuat otak mengalami kerusakan permanen. Pandangan tersebut terlalu sederhana.
Otak memiliki kemampuan yang disebut neuroplastisitas, yaitu kemampuan untuk berubah dan beradaptasi berdasarkan pengalaman.
Karena itu, perubahan yang berkaitan dengan trauma tidak otomatis berarti seseorang tidak dapat pulih.
Lingkungan yang aman, dukungan sosial, tidur yang cukup, serta penanganan profesional ketika diperlukan dapat membantu proses pemulihan.
Terapi psikologis tertentu juga dapat membantu seseorang memproses pengalaman traumatis dan membangun kembali rasa aman.
Dengan demikian, otak bukanlah sesuatu yang berhenti berubah setelah seseorang mengalami trauma.
Bukan lemah, tetapi sedang bertahan
Mungkin inilah bagian yang paling penting untuk dipahami.
Seseorang yang mengalami trauma tidak selalu sedang “berlebihan” ketika merasa takut, cemas, sulit tidur, atau terpicu oleh sesuatu yang tampaknya sederhana.
Baca Juga: RSUD Wonogiri Kini Layani Pemeriksaan Pembuluh Darah dengan Cathlab
Bagi otak, pemicu tersebut bisa menjadi sinyal bahwa ancaman sedang kembali terjadi.
Dalam perspektif sains, banyak respons setelah trauma sebenarnya merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh.
Otak berusaha melindungi seseorang berdasarkan pengalaman yang pernah dianggap berbahaya.
Namun, ketika respons tersebut terus mengganggu kehidupan sehari-hari, pekerjaan, hubungan sosial, atau kualitas hidup, mencari bantuan profesional merupakan langkah yang layak dipertimbangkan.
Pada akhirnya, trauma memang terjadi di masa lalu, tetapi dampaknya dapat terasa di masa kini.
Otak menyimpan pengalaman bukan sekadar sebagai cerita, melainkan sebagai rangkaian ingatan, emosi, dan respons tubuh.
Dan ketika kita memahami apa yang terjadi di dalam otak, satu hal menjadi lebih jelas: memahami trauma bukan berarti membenarkan ketakutan, melainkan memahami bagaimana manusia berusaha bertahan setelah mengalami sesuatu yang berat. (hanin jihan fatkhiyah)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo