Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Lagi,Teror Tawon Vespa Affinis Renggut Nyawa, Sudah 10 Orang Meninggal

Perdana Bayu Saputra • Selasa, 21 Januari 2020 | 19:29 WIB
Suasana rumah duka di Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu, Klaten, kemarin
Suasana rumah duka di Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu, Klaten, kemarin
KLATEN – Sengatan ganas tawon vespa affinis kembali menelan korban jiwa di awal tahun ini. Pudyo Raharjo, 76, warga Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu, Klaten, tewas usai terkena sengatan 10 titik di bagian punggung dan kaki, pada Minggu (19/1) sekitar pukul 18.00.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Solo, pada awalnya kakek yang akrab dipanggil Srihono ini mencari kayu di kebun tetangganya yang jarak 100 meter dari rumahnya pada Sabtu pagi (18/1). Kebun yang terdapat rumah kosong itu memang jarang dijamah warga setempat sehingga tidak mengetahui keberadaan sarang tawon itu.

“Saat hendak mencari kayu itu korban tidak tahu jika terdapat tawon di pohon bambu dengan ketinggian sekitar 50 cm dari tanah. Ketika menebang itu tidak tahunya jarak sekitar 2 meter dari berdiri korban itu terdapat sarang tawon dengan diameter 50 cm. Mungkin merasa terganggu itu lantas tawon menyengat korban,” jelas Kepala Desa Tlobong Basuki saat ditemui di ruangannya, Senin (20/1).

Basuki mengatakan, Srihono sebelumnya hendak disengat tawon, dia lantas lari menuju ke rumahnya. Tetapi dalam perjalanan itu di bagian punggung dan tanganya tetap mendapatkan sengatan. Hal ini membuat dia tak berdaya usai mendapatkan serangan itu hingga akhirnya dilarikan ke RSU PKU Muhammadiyah Delanggu.

Srihono sempat mendapatkan perawatan secara intensif pada saat itu. Termasuk dilakukan observasi selama beberapa jam untuk mengetahui dampak dari sengatan tersebut. Srihono kemudian mendapatkan izin untuk menjalani rawat jalan karena keadaannya yang semakin baik.

“Minggu korban masih seperti biasa. Tapi tiba-tiba dia mengalami muntah beberapa kali sehingga langsung dibawa kembali ke rumah sakit. Hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia,” jelasnya.

Basuki mengatakan, serangan tawon memakan korban hingga meninggal di desanya baru kali pertama terjadi. Sebelumnya tidak ditemukan sarang tawon di wilayahnya karena telah meminta ketua RW dan RT untuk mendata. Namun setelah kejadian Srihono itu, ditemukan sarang tawon di lokasi yang memang jarang dijamah.

“Untuk sarang tawon sudah dimusnahkan oleh relawan damkar semalam. Tetapi ke depan akan kami lakukan gotong-royong untuk mengantisipasi keberadaan sarang tawon lainnya,” jelasnya

Saat tawon menyengat Srihono memang tidak ada warga lainnya yang mengetahui kejadian tersebut. Namun, sang anak yang selama ini tinggal serumah sempat mendengarkan keluhan ayahnya akibat kesakitan tersengat tawon.

“Sampai rumah sekitar pukul 12.00, terus merasakan kesakitan pukul 13.00. Lalu saya bawa ke rumah sakit. Sampai rumah sakit diperiksa dan disuntik, saat itu kata dokter tidak apa-apa. Setelah itu dibawa pulang,” ucapnya.

Sabtu (18/1) malam hingga Minggu (19/1) pagi Srihono tidak merasakan apa-apa sebelum akhirnya merasakan muntah-muntah ditambah sesak nafas. Lantas Minggu (19/1) sore dibawa lagi ke rumah sakit hingga akhirnya meninggal dunia.

Korban baru dimakamkan pada Senin (20/1) siang pukul 13.00 di TPU Dusun Turen, Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu. Dia menjadi korban tewas pertama sengatan tawon pada tahun ini. Sebelumnya, pada 2018 terdapat tujuh orang, dan 2019 terdapat dua orang tewas akibat sengatan tawon. (ren/bun)

Data korban meninggal tersengat Vespa Affinis:

Tahun 2018: 7 korban meninggal

Tahun 2019: 2 korban meninggal

Tahun 2020: 1 korban meninggal Editor : Perdana Bayu Saputra
#korban meninggal #sengatan #vespa affinis #delanggu #tawon #mematikan