KHC terbentuk 2018 lalu. Berawal dari grup aplikasi WhatsApp (WA) yang berisikan para guru pengajar mata pelajaran sejarah hingga pegiat sejarah. Hingga akhirnya diwadahi oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten menjadi sebuah komunitas yang dideklarasikan pada 31 Juli 2019.
Meski baru satu tahun berjalan, tetapi upaya penyelamatan terhadap ODCB tak bisa dipandang sebelah mata. Komunitas yang beranggotakan sekitar 35 orang ini begitu aktif melakukan blusukan. Mencari sisa kejayaan Kerajaan Mataram Kuno yang masanya diawali pada abad 7 hingga 10.
Setiap kali blusukan KHC ke ODCB, mereka bersinergi dengan Disparbudpora hingga Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Mereka menyadari sebagai sebuah komunitas memiliki keterbatasan dalam kewenangan. Maka itu hanya bisa melakukan pendataan dan mendorong upaya penyelamatan pihak terkait.
Belum lama ini, KHC mengajak Jawa Pos Radar Solo meninjau ODCB di dua desa. Yakni Desa Mranggen dan Jemawan, Kecamatan Jatinom. Diawali ke Dusun Kroman, Desa Mranggen untuk melihat 11 batu yang menyerupai gong.
Bentuknya batu dipahat halus dan berserakan pada gundukan tanah. Memiliki ukuran yang seragam dengan tinggi masing-masing 35 centimeter (cm) dengan diameter 65 cm. Dari belasan batu, ada yang menyerupai bagian kemuncak (puncak atap candi). Ada pula batu yang menyerupai tatakan saron yang diperkirakan jaladwara (batu saluran air pada candi atau patirtan). Oleh warga setempat dikenal dengan nama Watu Sigong.
“Watu Sigong ini merupakan peninggalan pada era Mataram Kuno antara abad ke-9 dan ke 10. Kami juga melakukan pencarian batu-batu lainnya di sekitar lokasi yang dimungkinkan berkaitan dengan Watu Sigong. Tapi sejauh ini kami belum menemukan,” ucap pegiat KHC Harry Wahyudi.
Di Desa Jemawan, Kecamatan Jatinom, tidak hanya kemuncak yang ditemukan. Tetapi juga batu bata yang sudah disusun oleh warga menjadi pagar rumah.
Begitu juga patung sapi tanpa kepala yang ada di pinggir jalan perkampungan tersebut. Ada pula lingga patok diperkirakan sebagai tempat batas wilayah. Seluruhnya diperkirakan dari era Mataram Kuno.
”Untuk ODCB yang ada di Klaten banyak yang kami temukan. Mulai dari arca, prasasti, batu yoni dan situs yang kondisi sebagiannya masih terpendam. Tapi yang paling banyak ditemukan di Klaten itu batu yoni. Tidak ada tandingannya di Indonesia,” ucap Harry.
Di Desa Pondok, Kecamatan Karanganom terdapat sebuah batu yoni di tengah kampung. Begitu juga gedung kantor desanya yang bangunannya seperti khas kolonial Belanda. Tetapi dahulunya menjadi gedung pertunjukan ketoprak dengan memainkan berbagai lakon.
”Kalau saya lebih pada peristiwa kesenian yang ternyata erat dengan cagar budaya yang berjalan beriringan. Senang sekali cerita kejayaan masyarakat lalu dengan nilai-nilai kebersamaan dan gotong-royong yang berkorelasi dengan cagar budaya. Seperti gedung Kantor Desa Pondok ini,” ucap anggota KHC Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kristian Apriyanta.
Apri menjelaskan jika cagar budaya pasti beriringan dengan peristiwa kesenian terutama di tempat ibadah pada zaman dahulu. Contohnya seperti ritual tari, teater hingga wayang. Pihaknya mendorong adanya pamong budaya yang ada di setiap desa di Klaten. Mereka menjadi tangan panjang di bidang kebudayaan. Mulai dari menjaga, menyelamatkan hingga mengelola potensi sesuai kemampuan masing-masing. Apalagi perlunya museum maupun taman budaya untuk menyimpan sekaligus sarana edukasi mengenai cagar budaya yang ada di Klaten.
KHC sendiri memang terus berkomitmen melakukan blusukan ke berbagai daerah di Klaten untuk melakukan pendataan secara terstruktur dan masif terhadap sebaran ODCB. Diharapkan ada upaya penyelamatan dari pihak terkait sehingga terhindari dari potensi pencurian. (ren/adi) Editor : Perdana Bayu Saputra