Menanggapi wacana simulasi KBM tatap muka pekan depan, orang tua murid sudah tidak sabar. Mereka menghendaki pembelajaran tatap muka di sekolah segera dimulai. Mengingat pembelajaran jarak jauh (PJJ) daring (dalam jaringan) alias online selama ini diklaim menemui banyak kendala.
“Beda sekali, belajar di rumah dengan di sekolah. Kalau di sekolah, pasti siswa nurut sama gurunya. Kalau di rumah, anak saya agak ngeyel. Tidak mau diatur,” keluh Riris Setyani, 35, warga Desa Krakitan, Kecamatan Bayat.
Riris mengaku buah hatinya yang masih duduk di kelas II SDN Jimbung, Kecamatan Kalikotes kurang semangat belajar. Sebab, selama belajar di rumah, tidak bersama teman-temannya.
“Sebagai orang tua, ingin Covid-19 segera hilang. Supaya anak saya segera sekolah lagi. Saya tidak masalah belajar tatap muka di sekolah selama menerapkan protokol kesehatan dengan ketat,” imbuhnya.
Sementara itu, Sarjono, 36, guru SDIT Al Muhsin Wedi mengakui banjir keluhan dari orang tua murid terkait PJJ atau daring. Dia memaklumi hal tersebut. Karena penyerapan materi pembelajaran yang diberikan secara daring hanya 20 persen saja.
“Kelemahan pembelajaran daring itu, pelaksanaannya tidak maksimal. Contohnya belajar matematika materi penjumlahan yang saya berikan melalui video. Saya yakin tidak semua siswa menyaksikan video itu secara keseluruhan. Karena mereka sudah bosan,” ujar guru kelas VI tersebut.
Terkait sinyal maupun kuota internet, bukan masalah berarti selama PJJ daring. Justru kesulitan yang dialami guru, yakni menbuat suasana pembelajaran tetap nyaman. Sebab, siswa sudah mulai bosan menyerap ilmu.
“Sempat saya berikan materi kepada siswa secara berkelompok. Home visit dengan jumlah siswa terbatas di rumah mereka. Sempat berjalan tiga kali. Tapi oleh dinas minta dihentikan terlebih dahulu. Karena kondisinya masih pandemi Covid-19,” terangnya. (ren/fer/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra