Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Merapi Siaga, Puluhan Warga Mulai Tidur Malam di Barak Pengungsian

Perdana Bayu Saputra • Sabtu, 7 November 2020 | 23:09 WIB
Sejumlah warga, terutama lansia, anak-anak, dan ibu hamil asal Desa Tegalmulyo tidur malam di barak pengungsian.
Sejumlah warga, terutama lansia, anak-anak, dan ibu hamil asal Desa Tegalmulyo tidur malam di barak pengungsian.
KLATEN - Puluhan warga yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang mulai memanfaatkan barak pengungsian sejak Jumat (6/11) malam. Mereka terutama dari kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil hingga anak-anak sebanyak 75 orang.

Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi bahaya erupsi Merapi yang bisa terjadi pada malam hari. Sehingga paa warga tersebut lebih memilih tidur di aula desa hingga gedung PAUD maupun TK setempat.

“Memang ada peningkatan status Merapi dan warga sebenarnya sudah terbiasa. Tetapi mulai malam tadi untuk kelompok rentan yang berada di KRB III mulai kami turunkan. Termasuk bagi mereka yang tidak berani tidur malam di rumah, bisa ke barak pengungsian,” jelas Kepala Desa Tegalmulyo Sutarno, Sabtu (7/11).

Lebih lanjut Sutarno menjelaskan, warga KRB III yang datang ke barak pengungsian hanya untuk tidur malam saja. Selepas itu, pada pagi harinya sudah kembali beraktivitas ke rumah masing-masing. Pasalnya, mereka harus mencari pakan untuk ternaknya. Sehingga barak pengungsian tampak sepi pada pagi hingga sore hari.

Dengan tidur malam di barak pengungsian, warga tidak begitu khawatir lagi ketika terjadi erupsi. Mengingat barak pengungsian yang berada di radius lebih dari 5 km dinilai lebih aman. Apalagi jika kelompok rentan sudah menjadi satu dalam barak pengungsian, proses evakuasi akan lebih mudah ketika erupsi terjadi.

“Total warga yang ada di KRB III sekitar 300 jiwa. Cukup ditampung di tempat evakuasi sementara (TES) yang kami sediakan ini. Soalnya selain aula dan gedung PAUD dan TK, juga ada gedung kesenian dan SD serta rumah warga yang kosong dengan menerapkan protokol kesehatan,” jelasnya.

Terkait logistik bagi warga yang mengungsi, setiap malamnya sudah disuplai oleh BPBD Klaten berupa bahan mentah. Pihak desa pun mendirikan dapur umum dengan dukungan relawan siaga bencana berbasis masyarakat (SIBAT). Mereka yang mengolah bahan menjadi makan siap saji bagi para pengungsi.

Sementara itu, salah satu warga Dusun Canguk yang mengungsi sekaligus relawan desa setempat, Juli, 26, mengatakan, dirinya tetap mengikuti arahan dari pemerintah desa (pemdes). Oleh karena itu, Juli bersama ibunya, Paini, 65, mengungsi di barak pengungsian pada Jumat (6/5) malam.

“Kita mengikuti anjuran pemerintah dengan turun sekitar pukul 19.15. Kemarin, sejumlah surat-surat berharga, pakaian dua stel hingga selimut saya bawa turun. Soalnya jarak kediaman saya hanya sekitar 3,8 km,” jelas Juli.

Diakui dia, beberapa hari belakangan ini terdengar suara gemuruh dari arah Gunung Merapi. Tetapi secara visual tidak tampak awan panas maupun lava pijar. Oleh karena itu, dirinya terus meningkatkan kewaspadaan jika sewaktu-waktu terjadi erupsi.

“Kalau saya tengah malam kembali ke rumah karena masih ada tiga ekor sapi. Tetapi untuk saat ini memang belum saya evakuasi. Mengingat untuk tempat evakuasi ternak belum siap juga,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris BPBD Klaten Nur Tjahjono Suharto mengungkapkan, dari tiga desa yang masuk ke KRB III, baru warga Desa Tegalmulyo yang memanfaatkan barak pengungsian untuk tidur malam. Sedangkan warga di Desa Balerante dan Sidorejo belum ada yang mengungsi.

“Ini untuk mengantisipasi apabila terjadi sesuatu dengan Merapi pada malam hari mereka sudah aman di barak pengungsian. Tapi siangnya mereka bisa kembali di rumah. Untuk Balerante dan Sidorejo sudah kami konfirmasi belum ada warga yang diturunkan,” jelasnya.

Nur mengungkapkan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan para relawan dari Balerante dan Sidorejo untuk tetap memberikan sosialisasi dan peringatan. Ketika ada peningkatan aktivitas Merapi, bisa langsung dilakukan evakuasi mandiri sewaktu-waktu. (ren/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra
#barak pengungsian #warga rentan #Desa Tegalmulyo #tidur malam #gunung merapi siaga #kawasan rawan bencana