Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Rowo Jombor Dikembalikan ke Fungsi Irigasi dan Pengendali Banjir

Perdana Bayu Saputra • Selasa, 15 Juni 2021 | 01:00 WIB
REVITALISASI: Kawasan Rowo Jombor yang akan direvitalisasi tahap kedua, salah satunya dikembalikan fungsi sebagai saluran irigasi dan pengendali banjir.
REVITALISASI: Kawasan Rowo Jombor yang akan direvitalisasi tahap kedua, salah satunya dikembalikan fungsi sebagai saluran irigasi dan pengendali banjir.
KLATEN - Sebagai kawasan penyangga pangan nasional, Klaten didukung keberadaan air Rowo Jombor. Melalui program revitalisasi rowo seluas 198 hektare itu, Rowo Jombor akan dikembalikan ke fungsi dasarnya sebagai infrastruktur irigasi guna menopang pasokan air lahan pertanian.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Klaten, Harjaka saat dikonfirmasi kemarin, (14/6) menjelaskan bahwa revitalisasi Rowo Jombor yang terletak di Desa Krakitan, Bayat ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi dasarnya yang sudah mengalami penurunan baik fungsi bangunan, ekonomi maupun sosial.

"Sebagai fungsi irigasi dan pengendali banjir namun kini sudah bergeser ke kepentingan yang lain. Sekarang Rowo Jombor menjadi obyek peternakan ikan karamba, warung apung dan wisata. Harapan ke depan, Rowo Jombor dikembalikan ke fungsi semula dengan revitalisasi," terang Harjaka.

Terkait kondisi terkini Harjaka menerangkan kalau kondisi Rowo Jombor saat ini sudah banyak mengalami sedimentasi. Faktor penyebabnya sangat banyak, salah satunya enceng gondok yang membusuk.

"Kondisi rowo saat ini perlu perhatian serius. Pembusukan enceng gondok, warung apung dan karamba ditengarai menjadi faktor-faktor penting terjadinya sedimentasi. Selain itu juga menyebabkan elevasi atau berkurangnya cakupan luasan permuikaan air,"tambahnya.

Tentunya juga pencemaran sampah dari air yang masuk ke rowo juga berdampak sedimen. Sehingga akan mempengaruhi volume tampungan waduk. Hal ini yang perlu dipahami masyarakat akan pentingnya revitalisasi.

Sementara itu, penggiat sungai Arif Fuad Hidayat, menjelaskan kondisi Rowo Jombor sudah sangat tercemar. Faktor sedimentasi, sampah dan enceng gondok berkontribusi terhadap penurunan kualitas kehidupan hayati di Rowo Jombor.

"Kami bersama relawan terus bergotong-royong membersihkan Rowo Jombor baik dari sampah atau enceng gondok. Saya yakin atas dukungan banyak pihak, rowo terbesar di Klaten ini bisa menjadi destinasi wisata andalan di Klaten,"imbuhnya.

Revitalisasi Rowo Jombor Klaten tahap kedua sendiri menelan anggaran Rp 50 milyar bersumber APBN melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Proyek akan diprioritas pada penguatan bendungan, fasilitas pedestrian jogging track, penataan lingkungan termasuk warung apung dan keramba. (ren/oh) Editor : Perdana Bayu Saputra
#irigasi #fungsi #Rowo Jombor