Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten Jaka Sawaldi mengaku, awalnya BTT yang disediakan Rp 15 miliar. Kemudian ditambah Rp 10 miliar. Namun, baru Rp 15 miliar yang sudah digunakan untuk penanganan Covid-19. Penggunaan BTT berdasarkan tingkat kebutuhan.
“BTT diajukan masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD). Lalu diverifikasi terlebih dahulu. Sebelum akhirnya diajukan ke bupati untuk disetujui. Jika disetujui, langsung bisa dicairkan 1x24 jam,” ungkap Jaka kepada Jawa Pos Radar Solo usai rapat koordinasi di Pendapa Pemkab Klaten, Sabtu (7/8).
Kebutuhan paling mendesak, sebagai penunjang operasional isoter tingkat kabupaten dan kecamatan. Terutama biaya makan dan minum pasien Covid-19 tanpa gejala (OTG) selama isolasi. Jaka berharap, sisa BTT Rp 10 miliar bisa dioptimalkan.
“Anggarannya di Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Klaten. Penanganan bencananya di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten. BTT ini dikeluarkan, jika ada penanganan bencana dan kebutuhan mendesak. Seperti makan dan minum pasien Covid-19 di isoter selama tiga kali sehari,” imbuhnya.
Terkait operasional isoter tingkat desa, tanpa BTT. Sebab, desa sudah optimalkan anggaran 8 persen dari dana desa. “Semoga pasien Covid-19 yang isolasi mandiri di isoter tingkat desa, tetap terjamin kebutuhannya,” bebernya.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Klaten Ronny Roekmito menambahkan, dalam rapat koordinasi, juga dibahas standar harga kebutuhan makan dan minum pasien OTG di isoter. Harus disamakan antara kabupaten dan kecamatan. “Perlu dipembahas dan diverifikasi. Kalau tingkat kabupaten, sehari makan tiga kali, ditambah snack dua kali,” urainya.
Diakui Ronny, selama ini pihak kecamatan masih patungan. Semisal ada warga di desa yang isoter di tingkat kecamatan, hanya disediakan tempat saja. Sedangkan kebutuhan sehari-hari pasien ditanggung pihak desa.
“Semoga dukungan BTT ini bisa meningkatkan jumlah pasien Covid-19 tanpa gejala yang isolasi mandiri di isoter tingkat kecamatan. Sebab selam aini terbilang masih kecil jumlahnya. Dari 863 bed yang tersedia di isoter, baru terisi 32 persen,” paparnya. (ren/fer/dam) Editor : Damianus Bram