Total ada 1.000 paket apem yang dibagikan dengan sasaran yang ditentukan pihak panitia. Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan perwakilan Keraton Kasunanan Surakarta.
“Jika biasanya ada kegiatan grebeg apem, tetapi karena pandemi, tidak memungkinkan. Maka itu, bagian dari protokol kesehatan (prokes) melibatkan ojol untuk pembagiannya (apem),” jelas Airlangga.
Ya, tradisi religi Yaa Qawiyyu tidak bisa dilepaskan dari sebaran apem. Dahulu, apem dibagikan Ki Ageng Gribig sebagai oleh-oleh kepada jamaahnya usai pulang dari menunaikan ibadah haji. Tradisi tersebut masih berlangsung hingga 400 tahun lamanya.
“Simbah (Ki Ageng Gribig) telah menciptakan kegiatan ekonomi melalui pembuatan apem. Simbah ini meninggalkan legasi ekonomi rakyat. Membuat apem itu kegiatan ekonomi rakyat, meski beliau sudah tidak bersama kita, tetapi kegiatan ini terus berjalan selama 400 tahun lebih,” ucap Airlangga.
Sekretaris Pengelola Pelestari Peninggalan Ki Ageng Gribig, Moh Daryanta Rekso Budoyo menjelaskan, peringatan Yaa Qawiyyu penuh dengan pesan spiritual dan sosial kemasyarakatan. Ditandai dengan penyebaran apem yang berbentuk bundar terbuat dari tepung beras dengan parutan kelapa di tengahnya.
“Kata apem berasal dari bahasa Arab yakni afwun yang bermakna ampunan. Tujuannya, masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta. Bentuknya yang bulat itu juga memiliki makna agar masyarakat saling bersatu dan tidak terpecah belah,” urainya.
Sebelum pandemi Covid-19, pembagian apem dilakukan dengan cara disebarkan di atas panggung menara Lapangan Klampeyan. Ada pun maknanya agar masyarakat harus selalu saling memaafkan satu dengan yang lain. Tetapi di masa pandemi, pembagian apem melibatkan ojol.
Jarot Renaldi, salah seorang pengendara ojol mengapresiasi pembagian apem Yaa Qawiyyu yang melibatkan ojol. Itu berkah bagi ojol di tengah pandemi Covid-19.
“Pengirimannya di area Jatinom dan Kota Klaten. Kami membagi dari door to door,” kata dia. (ren/wa/dam) Editor : Damianus Bram