Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten Sri Nugroho mengaku, masih menunggu petunjuk satgas penanganan Covid-19. Terbaik turunnya izin pemakaian GOR untuk berolahraga.
“Belum dulu. Karena sewaktu-waktu bisa saja GOR Gelarsena digunakan kembali untuk isolasi terpusat (isoter) tingkat kabupaten,” ucap Sri Nugroho, Sabtu (3/10).
Terakhir kali, GOR Gelarsena digunakan sebagai isoter, dua pekan lalu. Saat ini, pasien isolasi sudah dialihkan ke Panti Semedi. Kendati demikian, bilik beserta tabung oksigen di GOR Gelarsena masih dipertahankan. Sebagai antisipasi jika terjadi lonjakan kasus lagi.
“Kondisi di dalam GOR tidak diubah sama sekali. Masih kami pertahankan. Semoga kekhawatiran kami akan prediksi gelombang kasus Covid-19 di Desember nanti tidak terjadi,” bebernya.
Sri Nugroho menambahkan, kegiatan olahraga di Kota Bersinar sudah diperbolehkan. Kecuali di GOR Gelarsena. Namun, wajib menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat. Salah satunya pembatasan maksimal 50 persen dari kapasitas gedung olahraga.
“Event olahraga dalam skala besar belum diizinkan. Monumen Juang 45 di belakang GOR Gelarsena sudah kami buka sedikit-sedikit. Tetapi ini terbatas. Belum berani untuk kegiatan sosial dan seni budaya, sesuai aturan yang ada,” imbuhnya.
Sementara itu, Tim Ahli Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Klaten Ronny Roekmito mempertahankan status GOR Gelarsena sebagai isoter. “Isoter sudah kosong, baik di tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa. Kecuali Panti Semedi, masih ada pasien isolasi. Isoter kami pertahankan untuk mengantisipasi lonjakan kasus,” ujarnya. (ren/fer/dam) Editor : Damianus Bram