Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Komitmen Bersama untuk Menjaga Habitat Burung Hantu di Sub DAS Pusur

Damianus Bram • Rabu, 20 Oktober 2021 | 02:15 WIB
SINERGI: Penandatangan komitmen bersama dalam upaya perlindungan habitat burung hantu kawasan sempadan Sungai Pusur. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
SINERGI: Penandatangan komitmen bersama dalam upaya perlindungan habitat burung hantu kawasan sempadan Sungai Pusur. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN – Burung hantu merupakan predator alami untuk pemangsa hama tikus yang selama ini menjadi musuh petani. Untuk itu perlindungan terhadap burung hantu dan habitatnya perlu dilakukan. Terlebih Pemkab Klaten memiliki program peningkatan produktivitas varietas padi rojolele srinar dan srinuk.

Atas latar belakang itu, Pemkab Klaten dengan Institut Pertanian STIPER Jogja dan AQUA Klaten berkolaborasi melakukan penelitian terhadap habitat burung hantu di sepanjang sempadan Sungai Pusur. Meliputi 12 desa di tiga kecamatan yakni Tulung, Polanharjo dan Juwiring.

”Awalnya kami hendak menjadikan Taman Kehati AQUA Klaten di Polanharjo menjadi lokasi penangkaran burung hantu. Tetapi area jangkauan dari burung ini sekitar 12 Km, sehingga taman Kehati yang 4,6 hektare tidak cukup. Maka kami tarik lurus munculah tiga kecamatan itu,” jelas perwakilan dari Institut Pertanian STIPER Jogja, Prasanto Bimantio, saat ditemui usai memaparkan hasil penelitian di Ruang Rapat C2 Setda Klaten, kemarin (19/10).

Bimantio mengungkapkan, dalam penelitiannya belum melakukan sensus terhadap burung hantu di Sub DAS Pusur. Mengingat masih fokus terhadap potensi habitat alami dari burung pemangsa tikus tersebut. Setidaknya ada 10 pohon setiap bioplot dapat dijadikan sarang dari sang burung.

Setidaknya pohon yang bisa dijadikan sarang minimal memiliki tiga meter dengan kondisi sekitarnya begitu rimbun. Terlebih lagi dekat dengan aliran air sehingga bisa dipasang dengan rumah burung hantu dengan ukuran tertentu. Setiap pohon maksimal hanya bisa dijadikan sangkar untuk dua ekor burung hantu saja.

”Memang daerah di sepanjang sepadan Sungai Pusur ini yang perlu dijaga karena kondisinya yang masih rimbun sehingga sebagai habitat alaminya perlu dijaga. Apalagi jika dilihat menggunakan satelit di luar sempadan itu merupakan lahan sawah dan pemukiman penduduk,” ucapnya.

Ada pun jenis pohon yang cocok menjadi habitat alami dari burung hantu seperti trembesi maupun beringin. Keberadaannya untuk jenis pohon tersebut juga bisa mencegah terjadinya erosi sepanjang sungai.

Wakil Bupati Klaten Yoga Hardaya mengapresiasi atas penelitian yang dilakukan terkait habitat alami burung hantu di sepanjang Sub Das Pusur.

”Saya harapkan pengembangan dari burung hantu tidak hanya di sepanjang di Sub Das Pusur di tiga kecamatan saja. Mengingat lahan pertanian Klaten tersebar di 26 kecamatan. Harapannya keberadaan burung hantu ini sebagai upaya pengendalian hama tikus secara alami,” ucapnya.

Kepala Pabrik AQUA Klaten I Ketut Muwaranata menambahkan AQUA Klaten telah berkomitmen dalam upaya perlindungan habitat alami burung hantu untuk mendukung produktivitas pertanian di kawasan Sempadan Sungai Pusur. Apalagi dengan berkembangnya burung hantu tersebut menjadikan petani dalam memberantas hama khususnya tikus tidak lagi menggunakan bahan kimia karena sudah ada predator alaminya.

”Kami juga memiliki Pusur Institute yang bertujuan untuk mengawal sungai sehingga sumber daya air tetap lestaris. Terlebih lagi mendukung kegiatan ekonomi dengan wisata di sekitar sungai serta aktivitas pertanian yang banyak menggunakan sumber air,” jelasnya. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#Menjaga Habitat Burung Hantu di Sub DAS Pusur #aqua klaten #Sempadan Sungai Pusur #Penelitian Habitat Burung Hantu di Sub DAS Pusur #Menjaga Habitat Burung Hantu