KLATEN - Keberadaan perahu wisata hingga speed boat di Rowo Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat sempat menarik wisatawan untuk berkunjung. Bahkan setiap akhir pekan membuat arus lalu lintas di sekitar kawasan waduk terjadi kemacetan. Tetapi selama satu minggu terakhir ini kondisinya berubah menjadi sepi.
“Kalau sepinya sendiri sudah mulai dirasakan mulai minggu kemarin. Seperti perahu wisata yang bisa mendapatkan Rp 1 juta dalam sehari kini sekitar Rp 170 ribu saja,” jelas Ketua Paguyuban Perahu Wisata Rowo Jombor, Sutomo, Sabtu (13/11).
Lebih lanjut, Sutomo mengungkapkan, ada sejumlah faktor yang membuat wisata di kawasan Rowo Jombor mulai sepi. Salah satunya masifnya informasi terkait pembongkaran warung apung yang merupakan bagian dari proses revitalisasi. Menurutnya, hal itu sangat mempengaruhi keputusan wisatawan untuk mengunjungi waduk tersebut.
“Adanya pembongkaran warung apung memang sangat mempengaruhi kunjungan wisatawan. Biasanya yang datang ke Rowo Jombor otomatis juga ingin wisata kuliner di warung apung. Tetapi karena warung apung dibongkar menjadikan jumlah pengunjung menurun ,” ucapnya.
Sutomo mengungkapkan, pada akhir pekan khususnya Sabtu-Minggu yang lalu mulai terlihat penurunannya. Pengunjung yang sepi juga dipengaruhi dari peristiwa terkait adanya seorang pemancing yang tenggelam di waduk tersebut beberapa waktu lalu. Menurutnya juga memberikan dampak terutama dalam mempengaruhi keputusan wisatawan untuk berkunjung ke Rowo Jombor atau tidak.
“Penurunan pengunjung juga dirasakan oleh pengelola wahana speed boat. Biasanya pada akhir pekan bisa sampai 20 kali putaran dalam sehari. Tetapi akhir pekan kemarin hanya empat sampai lima kali putaran saja dalam sehari,” imbuhnyanya.
Seperti diketahui di Rowo Jombor juga terdapat wahana speed boat yang tengah naik daun. Lewat perahu cepat itu wisatawan bisa mengelilingi waduk seluas 180 hektar. Ada pun harga tiket untuk satu kali putaran Rp 50.000. Bisa mengelilingi bersama keluarga maupun teman terdekat maksimal lima orang.
Sementara itu, pengelola perahu wisata di Rowo Jombor lainnya, Arifin mengungkapkan penurunan pengunjung tidak hanya disebabkan adanya aktivitas pembongkaran warung apung sebagai bagian dari proses revitalisasi semata. Tetapi juga dipengaruhi faktor cuaca yang saat ini Klaten sudah mulai memasuki musim penghujan.
“Ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan pengunjung ke Rowo Jombor. Pertama karena faktor cuaca terutama pada sore hari yang mulai sering hujan deras. Kemudian kegiatan pembongkaran warung apung, ditambah kejadian orang yang tenggelam meninggal di rowo sehingga membuat pengunjung agak ketakutan untuk berkunjung,” ucapnya.
Diakuinya, sudah satu minggu ini pengunjung di Rowo Jombor mulai sepi. Bahkan dirinya hanya memperoleh pendapatan dari pengelolaan perahu wisata dalam sehari hanya Rp 40 ribu. Padahal sebelum sepi bisa meraup Rp 500 ribu hingga Rp 1 Juta dalam sehari. Dirinya pun hanya bisa pasrah dengan kondisi yang dialaminya itu.
“Sabtu-Minggu memang beroperasi tetapi sepi. Lalu saya memilih untuk meliburkan beberapa hari terlebih dahulu,” pungkasnya.(ren/dam)
Editor : Damianus Bram