Afip Amrizal Basri, 25, pemuda Desa Bono mengaku pengolahan limbah ini berawal dari keresahan warga. Karena limbah tersebut hanya dibuang begitu saja hingga menumpuk dan menimbulkan bau tak sedap.
Inisiatif menyulap limbah menjadi pupuk organik tersebut, mendapatkan dukungan penuh dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Menerjunkan peneliti untuk pendampingan dan pelatihan pengolahan limbah. Sasarannya lima pemuda Desa Bono, bahkan sekarang sudah ada investor yang menanamkan modalnya.
Hanya dalam kurun setahun, produksi pupuk organik terus berkembang. Dari awalnya hanya 800 kg per bulan, sekarang bisa memproduksi 6 ton pupuk organik per bulan. Itu pun belum bisa memenuhi seluruh permintaan pasar.
“Penjualannya kami fokuskan langsung ke petani. Per sak 20 kg harga Rp 30 ribu. Target selanjutnya bisa didistribusikan ke toko pertanian maupun reseller,” imbuh Afip.
Proses pengolahannya, bahan baku berupa limbah seperti kotoran ternak, dedaunan, jerami, hingga media tanam jamur dikumpulkan. Lalu ditata sesuai komposisi yang telah ditentukan dan difermentasi. Proses fermentasi menggunakan sekam dan mikroba.
“Medianya di lahan yang kering dan diberi peneduh supaya tidak terkena sinar matahari langsung maupun kehujanan. Proses waktunya selama 14 hari, sudah bisa digunakan sebagai pupuk,” paparnya.
Kendala yang dihadapi, yakni ketergantungan petani terhadap pupuk kimia olahan pabrik. Solusinya, para pemuda ini rajin memberikan edukasi dan sosialisasi kepada petani.
“Pupuk organik bisa menyehatkan kembali tanah yang sakit karena pupuk kimia berlebihan. Ini menjadikan peluang usaha pupuk organik terbuka lebar,” ujarnya.
Rekan Afip, Aji Rahman Widiyanto, 21, mengaku tertarik bergabung mengolah pupuk organik. “Kebetulan saya di bagian pemasaran. Media tanam jamur saya usul untuk ditambahkan, karena bisa menyeburkan tanah,” ungkapnya. (ren/fer/dam) Editor : Damianus Bram