Ada pun besaran donasi yang terkumpul sebesar Rp 16.341.000. Seluruhnya digunakan untuk membantu pengobatan dan perawatan Kayla Geby Sifabella. Balita berumur satu tahun itu terlahir dengan kelainan anus buntu, paru-paru, dan langit-langit mulut yang berlubang.
”Pada awalnya orang tua Sifa mendatangi LazisNU Klaten untuk meminta bantuan pengobatan anaknya. Mengingat kondisi anak terlahir seperti itu, sehingga dibutuhkan dana yang cukup besar. Maka itu kami buatkan program peduli Sifa dengan menawarkan kepada para donatur,” jelas Ketua NU Care-LazisNU Kabupaten Klaten Muhammad Cahyanto kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (26/1).
Lebih lanjut Cahyanto menjelaskan, program peduli Sifa dibuka sejak Oktober 2021 yang berlangsung selama tiga bulan lamanya. Hingga akhirnya terkumpul Rp 16,3 juta. Diharapkan dengan bantuan itu bisa meringankan orang tua Sifa untuk biaya pengobatan dan perawatan anaknya tersebut.
”Kami ingin membantu karena kondisi orang tua Sifa hanya sebagai buruh bangunan. Padahal membutuhkan perawatan, karena setiap minggunya Sifa harus kontrol ke rumah sakit. Belum lagi kebutuhan lainnya seperti susu,” ucapnya.
Sifa terlahir prematur di usia kandungan 37 minggu dengan berat kurang dari 2 kilogram. Kondisi paru-parunya yang bermasalah membuat Sifa sempat berada di inkubator hingga dua minggu dari kelahirannya. Bahkan Sifa terpaksa harus melakukan tindakan operasi di bagian perut sebagai jalan keluar untuk buang air besar (BAB).
Dilanjut saat Sifa umur enam bulan terdapat tindakan pembuatan anus. Lalu empat bulan kemudan dilakukan tindakan penutupan di bagian perut. Sayangnya, operasi tidak berjalan lancar karena ada penyempitan usus. Bahkan sampai masuk ke ruang ICU selama tiga hari hingga perawatan di rumah sakit selama dua minggu lamanya.
”Walaupun sudah dioperasi, untuk kondisi Sifa saat ini masih belum pulih. Kami harapkan dengan kepedulian dan donasi ini bisa membantu Sifa untuk bisa pulih dan normal kembali,” ucapnya.
Sementara itu, orangtua Sifa Agnes Restu Yunani, 25, menjelaskan sang anak juga memiliki kelainan pada bagian langit-langit atas di mulutnya. Kondisi tersebut membuat makannya terkadang keluar melalui hidung. Dia mendapatkan penjelasan dari dokter jika kondisi itu juga menyebabkan Sifa akan telat berbicara.
”Kata dokter kelainan itu (palatum) bakal membuat Sifa telah bicara juga dan harus segera dilakukan tindakan operasi sebelum umurnya dua tahun. Padahal operasi perut dan anusnya juga belum selesai,” ucap Agnes.
Penghasilan sebagai buruh proyek bangunan yang diandalkan orang tua Sifa tentunya belum mencukupi kebutuhan keluarga dan pengobatan anaknya tersebut. Kini Agnes dan suaminya, Maulana harus tinggal bersama neneknya di Desa Jombor, Kecamatan Ceper. Hal itu dipilih agar tidak jauh ketika harus melakukan perawatan rutin di rumah sakit yang berada di Kota Klaten.
”Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para dermawan yang telah memberikan kepedulainnya berupa donasi. Semoga bermanfaat dan barokah,” tandasnya. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram