Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

DKPP Klaten: Antisipasi Antraks, 1.000 Sapi Bakal Divaksin

Damianus Bram • Jumat, 4 Februari 2022 | 15:30 WIB
TETAP DIPANTAU: Jual beli ternak di Pasar Hewan Prambanan belum terdampak melonjaknya antraks di Gunungkidul. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
TETAP DIPANTAU: Jual beli ternak di Pasar Hewan Prambanan belum terdampak melonjaknya antraks di Gunungkidul. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten antisipasi penularan penyakit antraks di wilayah perbatasan. Hal ini menyusul mencuatnya kasus antraks di Kapanewon, Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul. Direncanakan 1.000 ekor sapi di sejumlah kecamatan perbatasan Gunungkidul divaksin.

”Besok kami akan sosialisasikan kepada peternak dengan mengundang camat dan kepala desa (kades). Minggu selanjutnya baru dilaksanakan vaksinasi,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Klaten Triyanto, kemarin (3/2).

Triyanto menjelaskan, DKPP telah memiliki ketersediaan vaksin yang cukup untuk 1.000 ekor sapi di wilayah perbatasan. Ada pun sasaran ternak sapi yang divaksin di Desa Gentan dan Karangturi, Kecamatan Gantiwarno, Desa Kaligayam, Kecamatan Wedi, Desa Karangasem dan Burikan, Kecamatan Cawas serta Desa Bogem, Nengahan dan Ngerangan, Kecamatan Bayat.

Di samping itu, antisipasi juga dilakukan di pasar hewan di perbatasan terutama di Kecamatan Prambanan dan Wedi. Maka itu pihaknya telah melakukan koordinasi dengan petugas pemantauan kesehatan ternak besar unggas di kedua wilayah tersebut. Terutama datangnya ternak sapi dari Gunungkidul maupun luar kota lainnya.

”Ciri-ciri ternak sapi yang terkena antraks itu jika mati mendadak. Kemudian mengeluarkan ingus yang berlendir darah dari pori-pori tubuhnya. Bisa menular ke manusia jika bersentuhan langsung, makan daging yang terinfeksi antraks dan menghirup udara yang terdapat spora dan bakteri di sekitar ternak yang terinfeksi itu,” jelasnya.

Triyanto menambahkan, disamping sosialisasi dan vaksinasi ke ternak sapi, pencegahan dilakukan dengan mendorong tingkat kebersihan kandang. Termasuk pemantauan terhadap mobilitas ternak sapi di wilayah perbatasan.

Sementara itu, Petugas Pemantauan Kesehatan Ternak Besar Unggas Kecamatan Prambanan Margito menjelaskan, sampai saat ini belum ada larangan ternak sapi asal Gunungkidul ke Pasar Hewan Prambanan. Meski begitu, sejumlah langkah telah disiapkan untuk mengantisipasi penularan antraks di pasar hewan.

”Kami rencanakan untuk dilakukan penyemprotan disinfektan. Kemudian dilakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Jika ditawari hewan ternak dari Gunungkidul dengan gejala keluar darah dari perlubangan dan mati mendadak jangan dibeli,” ucapnya.

Dia mengatakan, meski kasus antraks Gunungkidul tengah mengganas belum mempengaruhi jumlah sapi yang diperjualbelikan di Pasar Hewan Prambanan. Setiap penanggalan Jawa Pon dan Legi bisa sampai 245 ekor hingga 350 ekor. Sedangkan yang laku antara 25 ekor hingga 50 ekor yang pedagangnya berasal dari Klaten, Sleman, Gunungkidul dan Kulonprogo. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#Kasus Antraks di Gunungkidul #Sapi Bakal Divaksin #DKPP Klaten #Antisipasi Antraks