Salah satu pelopor soto garing ada di Delanggu. Yakni warung soto Bu Yati. Lokasinya berdekatan dengan pasar tradisional Delanggu di antara gang pemukiman di Dusun Jogosatron, Desa Sabrang, Kecamatan Delanggu, Klaten. Isi soto garing yang disajikan sama seperti soto pada umumnya, bedanya tidak dilengkapi kuah.
Sudiman, 72, pemilik warung ini yang mencetuskan sajian soto tanpa kuah sejak 1973. Hingga akhirnya digemari pelanggannya yang berasal dari berbagai kota seperti Surabaya dan Jakarta.
Sebenarnya Sudiman juga menyediakan soto ayam dengan kuah di atas piring. Tetapi inovasinya dari mencoba-coba, membuat menu soto garing dia langsung menjadi primadona pelanggannya.
Menariknya, soto yang disajikan oleh Sudiman menggunakan piring. Padahal pada umumnya soto disajikan dengan mangkok. Namun hal itu yang justru menjadi ciri khasnya.
Dalam satu porsi piring berisi nasi serta toge, seledri dan suwiran ayam. Bedanya ditambah kecap asin yang dituangkan di atasnya. Kemudian dibasahi kuah kaldu dari perpaduan daging ayam jawa dan sapi yang bening kekuningan.
”Kecap asin dan kuah kaldu sebenarnya juga bagian dari bumbu soto garing ini. Saya gunakan kecap asin tertentu, sempat saya ganti justru diprotes dengan pelanggan. Jadi kecap asin dan kuah kaldu ini menjadi kuncinya,” ucap Sudiman saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di warungnya, kemarin (11/2).
Menikmati soto garing itu bisa dengan jeroan sapi maupun gorengan. Dia mengungkapkan, masa kejayaan soto garing pada era 1980-an saat pabrik karung di Delanggu masih beroperasi, para pekerjanya sering sarapan di warungnya. Bahkan saat itu dalam sehari bisa menghabiskan beras 1 kuintal hingga babat sampai 25 kilogram. Tetapi seiring berjalannya waktu pelanggannya bergeser ke pelaku perjalanan jarak jauh maupun warga seusai pulang ibadah dari masjid dan gereja di sekitarnya.
”Dulu ketika masih berjualan di dalam Pasar Delanggu pelanggan datang silih berganti. Bahkan belum selesai makan sudah ditunggu pelanggan lainnya. Kalau saat ini 100 porsi dalam sehari ada,” ucap Sudiman.
Warung Sudiman buka sejak pukul 05.00-14.00. Melayani pelanggan yang hendak sarapan dengan soto ayam menggunakan kuah maupun tanpa kuah.
”Untuk soto garing satu porsi hanya Rp 6.000. Sedangkan untuk lauknya seperti jeroan sapi berkisaran Rp 4.500. Sedangkan untuk gorengan mulai dari Rp 500 hingga Rp 1.000,” ucapnya.
Kini berkat kepopuleran soto garing milik Sudiman, menjamur menu yang sama di warung soto lainnya. Baik di wilayah Delanggu hingga Klaten. Sudiman bertekad terus mempertahankan cita rasa soto garing yang dirintis bersama istrinya itu. Apalagi saat ini sudah lanjut usia sehingga akan menyerahkan tiga warung sotonya untuk dikelola oleh anak-anaknya sebagai penerusnya. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram