Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kisah Masjid Majasem di Desa Pakahan yang Dibangun Empat Wali

Damianus Bram • Selasa, 12 April 2022 | 15:30 WIB
MASJID TUA: Jamaah selesai ibadah di Masjid Majasem. (RENDY/RADAR SOLO)
MASJID TUA: Jamaah selesai ibadah di Masjid Majasem. (RENDY/RADAR SOLO)
KLATEN Masjid Baitul Makmur atau lebih dikenal Masjid Majasem di Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan merupakan salah satu yang tertua di Klaten. Dibangun oleh empat wali pada 1385, yakni Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, dan Sunan Bonang. Menariknya, masyarakat percaya air sumur di masjid ini memiliki khasiat bagi kesehatan.

Dulu sebelum direnovasi menjadi Masjid Majasem, keempat waliyullah mendirikan langgar yang dinamai Kalimasada. Terakhir kali renovasi dilakukan pada 2001.

“Nama Baitul Makmur diberikan seorang mubaligh dari Mlinjon. Singkat cerita pada 2003, Masjid Baitul Makmur diubah namanya oleh Pakubuwana (PB) XII menjadi Al Makmur. Masjid ini telah menjadi bagian dari situs purbakala,” kata Takmir Masjid Majasem Sugimin, 69, Senin (11/4).

Meskipun telah berkali kali mengalami trasformasi, namun tidak mengubah keaslian bangunan masjid. Dari luar, arsitektur masjid terlihat seperti rumah limasan. Di depannya terdapat dua pohon belimbing, yang dipercaya ditanam oleh Sunan Kalijaga. Sekaligus menjadi inspirasi pembuatan tembang Lir Ilir. sedangkan di serambi masjid, terdapat bedug, ketongan, dan prasasti.

“Bangunan utama masjid ditopang 16 pilar. Yang empat pilar di tengah, dibangun Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, dan Sunan Bonang dari kayu jati. Semuanya masih asli,” imbuh Sugimin.

Di kompleks Masjid Baitul Makmur juga terdapat makam Pangeran Murawan beserta keluarganya. Tepatnya di sisi barat masjid. Peziarah yang datang, berasal dari berbagai daerah.

“Masjid ini tiap hari selalu dipenuhi jamaah. Selama Ramadan ini dimanfaatkan untuk belajar membaca Alquran, musyawarah, buka bersama, dan pengajian akbar,” beber Sugimin.

Masjid Baitul Makmur juga memiliki sumur. Letaknya di sisi barat bangunan utama. Dilengkapi kamar mandi dan tempat wudhu. Tiap Jumat, banyak yang berkunjung ke sini untuk mandi. Karena air sumur tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

“Paling sering memandikan bayi. Kebanyakan bayi yang belum bisa jalan. Masyarakat percaya, setelah bayinya dimandikan di sini, tak lama langsung bisa jalan sendiri. Tapi ada juga yang airnya di bawa pulang,” lanjut Sugimin.

Photo
Photo
BIAR CEPAT JALAN: Bayi dimandikan oleh jamaah di Masjid Majasem. (RENDY/RADAR SOLO)

Sementara itu, Titik Siswanti, 59, asal Klaten sengaja mengajak anak dan cucunya ke Masjid Baitul Makmur. Setiba di sana, dia segera memandikan cucunya di air kran tempat wudhu.

“Sebenarnya bayi ini belum waktunya jalan. Saya mandikan di sini biar cepat jalan. Dulu kakaknya bayi ini juga saya mandikan pas usianya 10 bulan. Tak lama langsung bisa jalan. Terpenting niat, percaya, dan berdoa,” ujarnya. (mg5/mg7/fer) Editor : Damianus Bram
#Kisah Masjid Majasem #Masjid Majasem #Masjid Baitul Makmur