Dulu sebelum direnovasi menjadi Masjid Majasem, keempat waliyullah mendirikan langgar yang dinamai Kalimasada. Terakhir kali renovasi dilakukan pada 2001.
“Nama Baitul Makmur diberikan seorang mubaligh dari Mlinjon. Singkat cerita pada 2003, Masjid Baitul Makmur diubah namanya oleh Pakubuwana (PB) XII menjadi Al Makmur. Masjid ini telah menjadi bagian dari situs purbakala,” kata Takmir Masjid Majasem Sugimin, 69, Senin (11/4).
Meskipun telah berkali kali mengalami trasformasi, namun tidak mengubah keaslian bangunan masjid. Dari luar, arsitektur masjid terlihat seperti rumah limasan. Di depannya terdapat dua pohon belimbing, yang dipercaya ditanam oleh Sunan Kalijaga. Sekaligus menjadi inspirasi pembuatan tembang Lir Ilir. sedangkan di serambi masjid, terdapat bedug, ketongan, dan prasasti.
“Bangunan utama masjid ditopang 16 pilar. Yang empat pilar di tengah, dibangun Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, dan Sunan Bonang dari kayu jati. Semuanya masih asli,” imbuh Sugimin.
Di kompleks Masjid Baitul Makmur juga terdapat makam Pangeran Murawan beserta keluarganya. Tepatnya di sisi barat masjid. Peziarah yang datang, berasal dari berbagai daerah.
“Masjid ini tiap hari selalu dipenuhi jamaah. Selama Ramadan ini dimanfaatkan untuk belajar membaca Alquran, musyawarah, buka bersama, dan pengajian akbar,” beber Sugimin.
Masjid Baitul Makmur juga memiliki sumur. Letaknya di sisi barat bangunan utama. Dilengkapi kamar mandi dan tempat wudhu. Tiap Jumat, banyak yang berkunjung ke sini untuk mandi. Karena air sumur tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
“Paling sering memandikan bayi. Kebanyakan bayi yang belum bisa jalan. Masyarakat percaya, setelah bayinya dimandikan di sini, tak lama langsung bisa jalan sendiri. Tapi ada juga yang airnya di bawa pulang,” lanjut Sugimin.
Sementara itu, Titik Siswanti, 59, asal Klaten sengaja mengajak anak dan cucunya ke Masjid Baitul Makmur. Setiba di sana, dia segera memandikan cucunya di air kran tempat wudhu.
“Sebenarnya bayi ini belum waktunya jalan. Saya mandikan di sini biar cepat jalan. Dulu kakaknya bayi ini juga saya mandikan pas usianya 10 bulan. Tak lama langsung bisa jalan. Terpenting niat, percaya, dan berdoa,” ujarnya. (mg5/mg7/fer) Editor : Damianus Bram