Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Kuliner Legendaris Jenang Ayu Niten di Desa Gadungan, Wedi, Klaten

Damianus Bram • Selasa, 19 April 2022 | 12:45 WIB
TURUN TEMURUN: Jenang Ayu Niten eksis selama 94 tahun. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
TURUN TEMURUN: Jenang Ayu Niten eksis selama 94 tahun. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Kecamatan Wedi tak bisa dilepaskan dari kuliner legendarisnya yakni jenang ayu. Terutama di Dusun Niten, Desa Gadungan karena telah berproduksi sejak 1928. Kini dikelola oleh generasi kelima?

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

Menyusuri gang sempit di Dusun Niten justru membawa Jawa Pos Radar Solo pada sebuah rumah tua. Tepat di bagian depan terdapat papan yang memperlihatkan lukisan gambar seorang nenek berkacamata dengan nama NY.YM.Wignyowikarno. Tampak sedang berpose dengan begitu khas memperlihatkan jempol seakan mempersilakan masuk kepada setiap orang yang datang.

Sampai di bagian dapur, terlihat dua orang sedang mengaduk-aduk adonan jenang ayu pada wajan besar. Dua wajan yang terbuat tembaga nyatanya tak pernah tergantikan untuk digunakan mengolah jenang ayu sejak 1928.

Saat memasak jenang ayu mereka menggunakan kayu bakar dengan nyala api yang terus terjaga kestabilannya. Sesekali seorang pria mengecek adonan. Dia adalah Valentinus Relung Adhiatma, 34, generasi kelima yang mengelola usaha jenang ayu tersebut.

Sebagai gambaran, silsilah pendiri jenang ayu niten diawali oleh Simbah Niti pada 1928. Dilanjutkan Marto Tinoyo (generasi kedua), Yusup Maria Wignyo Wikarno (generasi ketiga) yang fotonya kini menjadi logo dalam merk jenang ayu niten. Kemudian Albertus Sukaryanto (generasi keempat). Kini diteruskan oleh pria yang akrab dipanggil Valen. Hampir satu abad lamanya atau tepatnya 94 tahun lalu jenang ini eksis.

Menariknya, ada karyawan yang sudah bekerja di jenang ayu niten sejak generasi kedua. Dia adalah Samiyem, 60, bekerja sejak masih gadis. Dia memiliki tanggungjawab mengiris jenang dalam berbagai ukuran dan pengemasan sebelum akhirnya sampai di tangan pelanggan.

”Jenang ayu niten ini sebagai warisan keluarga. Jadi saya sebagai penerus bertanggungjawab untuk meneruskan usaha ini,” ucap Valen ditemui Jawa Pos Radar Solo beberapa waktu lalu.

Dia masih ingat cerita lintas generasi terkait jenang ayu niten. Terutama produknya pernah ke lintas negara seperti Malaysia dan Amerika Serikat. Awalnya pelanggan membawa ke berbagai daerah karena memang awet hingga tiga bulan lamanya.

Jenang ayu yang diproduksi Valen bersama delapan karyawannya hanya menawarkan rasa original yakni manis. Pelanggannya dari Jogja, Solo, Jakarta, Batam hingga Kalimantan. Jelang Lebaran, kewalahan melayani pesanan yang naik hingga 45 persen dari produksi hariannya.

Sebagai gambaran setiap harinya Valen memproduksi 60 kilogram jenang ayu. Bahkan bisa menyentuh produksi hingga 200 kg. Dibanderol Rp 70.000 per kg atau dalam kemasan 250 gram dijual dengan harga Rp 18.000. (*/adi) Editor : Damianus Bram
#kuliner legendaris #Jenang Ayu Niten #Jenang Ayu