Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Tina Farida Moestofa, Bidan Desa yang Peduli Sampah

Damianus Bram • Minggu, 24 April 2022 | 22:00 WIB
MANDIRI: Klinik milik Tina di Kelurahan Buntalan, Klaten Tengah yang memanfaatkan hasil tabungan sampah. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
MANDIRI: Klinik milik Tina di Kelurahan Buntalan, Klaten Tengah yang memanfaatkan hasil tabungan sampah. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN - Berprofesi sebagai bidan desa di Kelurahan Buntalan, Klaten Tengah tidak membasi Tina Farida Moestofa tetap aktif pada pengelolaan bank sampah di lingkungannya. Bahkan menginisiasi pelayanan kesehatan berbayar sampah guna mengedukasi warga melakukan pemilahan sejak dari rumah tangga. Berikut petikan wawancaranya dengan Jawa Pos Radar Solo.

Yang menginspirasi mengelola sampah?

Sampah kalau menumpuk tidak nyaman dilihat. Seandainya ada pengelolaan yang benar, tidak akan seperti itu. Mengingat saya punya klinik desa, lalu terpikir bagaimana caranya menjadi wadah atau menjembatani pengelolaan sampah.

Mulai kapan menjadi pengurus bank sampah?

Bank sampah didirikan dengan terbatas sekali pada 2014. Kenapa terbatas? Karena saat itu belum ada yang peduli dengan pengelolaan sampah. Bank sampah diberi nama tabungan sampah keluarga (Tasaka). Dari situ muncul ide merekrut nasabah dari pasien dengan menghadirkan pelayanan kesehatan berbayar sampah.

Alasan memilih pasien untuk direkrut menjadi nasabah bank sampah Tasaka?

Sebenarnya, selain pasien, saya juga ada kelompok posyandu, lansia, dan balita. Jadi ajakan untuk melakukan pemilahan sampah lebih terarah. Bisa mengedukasi masyarakat lebih efektif karena sudah memiliki kelompok. Setiap kali datang ke klinik desa, mereka membawa sampah seperti botol, kardus hingga kertas duplex. Mereka bisa membawa 2-5 kilogram sampah.

Adakah program lainnya?

Ada tabungan dan sedekah sampah. Jadi nasabah yang mengumpulkan sampah ke kami akan dimasukkan ke rekening mereka. Tabungan sampah ini bisa dalam bentuk kelompok maupun individu. Hasil tabungan sampah dapat disedekahkan mendukung berbagai kegiatan di klinik desa. Misalnya tabungan sampah dari kelompok posyandu bisa dimanfaatkan untuk pemberian makanan tambahan (PMT) balita.

Kenapa sampah perlu dipilah sejak dari rumah tangga?

Kepedulian terhadap pengelolaan sampah bisa berawal dari pemilahan. Soalnya memilah sampah bisa berdampak pada penanganan sampah di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten. Mengingat selama ini sampah hanya dibuang di TPA (tempat pembuangan akhir) maupun TPS (tempat pembuangan sementara) ya, belum sesuai harapan. Maka itu, keluarga perlu memilah sampah dengan menyediakan kantong untuk beberapa jenis sampah. Jika diterapkan sampai di TPA akan luar biasa.

Tantangan mengajak warga memilah sampah?

Meski sudah kami minta memilah sampah sebelum dibawa ke bank sampah, tetap saja ada yang menjadikan satu dalam karung. Padahal kalau dipilah hasil tabungan sampah besar. Maka itu saya edukasi terus menerus. Kadang masih ada yang malas memilah. Memilih menjadikan satu dalam kantong plastik untuk diambil petugas sampah. Sebenarnya bisa dipilah dan dimanfaatkan untuk kompos maupun ditabung di bank sampah.

Adakah sampah yang bisa dikreasikan?

Tentu ada. Seperti plastik yang olah menjadi ecobrick dan pot bunga, hingga tempat handphone. Hasil kreasi sering ditampilkan dalam pameran bank sampah.

Photo
Photo
MENGINSPIRASI: Tina memperlihatkan kreasi dari sampah menjadi sejumlah produk. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Pesan untuk mendukung pemilahan sampah?

Intinya kalau pemilahan sampah sudah dimulai dari rumah tangga serta difasilitasi pemerintah, maka kebiasaan ini bisa berjalan. Imbangi larangan membuang sampah sembarangan. Jika di dalam aturan terdapat denda, ya harus diterapkan. Saya harapkan tidak sekadar tulisan larangan saja, tapi ya direalisasikan. (ren/wa) Editor : Damianus Bram
#Peduli Sampah #Bidan Menginspirasi #Tina Farida Moestofa #Bidan Desa Peduli Sampah