Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Butuh 90 Ton Beras Rojolele untuk Penuhi Kebutuhan ASN Klaten

Syahaamah Fikria • Selasa, 3 Mei 2022 | 02:00 WIB
KOMODITAS: Beras Rojolele Srinuk yang didistribusikan untuk ASN di lingkungan Pemkab Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KOMODITAS: Beras Rojolele Srinuk yang didistribusikan untuk ASN di lingkungan Pemkab Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten memiliki kebijakan untuk mewajibkan aparatur sipil negara (ASN)  membeli beras Rojolele Srinuk maupun Srinar. Hal itu sebagai bentuk dukungan pemkab terhadap pengembangan varietas baru Rojolele. Dalam hal ini Perusahaan Daerah (Perusda) Aneka Usaha ditunjuk untuk memfasilitasi pesanan dari ASN di lingkungan Pemkab Klaten.

Berdasarkan perhitungan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten, dengan jumlah ASN yang mencapai sekitar 9.000 pegawai, dibutuhkan 90 ton beras Rojolele setiap bulannya. Adapun luas tanam yang dibutuhkan untuk bisa memenuhi kebutuhan ASN mencapai 300 hektare. Tapi dari klaim DKPP, berdasarkan perhitungan benih sampai awal tahun ini, untuk luasan tanam padi Rojolele baru sekitar 250 hektare.

“Untuk bisa menyediakan konsumsi bagi ASN itu ya dibutuhkan sekitar 300 hektare. Maka itu, kami dorong para petani untuk menanam padi Rojolele. Untuk saat ini padi Rojolele yang ditanam di Klaten seluruhnya merupakan varietas Srinuk,” jelas Kepala DKPP Klaten Widiyanti kepada Jawa Pos Radar Solo.

Upaya mendorong petani untuk menanam padi Rojolele terus digiatkan. Untuk benih padi Rojolele varietas baru itu ditangkarkan di Agro Techno Park (ATP) Klaten milik pemkab. Bagi petani di Klaten pun bisa mendapatkan benih dengan membeli di tempat tersebut.

Jika pada akhirnya luasan tanam padi Rojolele di Klaten melebihi 300 hektare, maka para petani tak perlu khawatir terkait serapan gabah hingga produksi berasnya. Tak harus diserap oleh komando strategi penggilingan padi (Kostraling) yang telah ditunjuk oleh Perusda Aneka Usaha, tetapi bisa membangun jejaring secara mandiri karena peluang masih terbuka lebar.

“Kalau nanti sampai terjadi euforia, maka yang harus dipikirkan adalah terkait jejaring pasarnya di masyarakat. Beberapa petani secara mandiri sudah ada yang membangun ke jaringan pasarnya. Ada yang di Solo, Jogja, dan dengan instansi lainnya,” ucapnya.

Widiyanti menjelaskan, jika pasar dari beras Rojolele tidak hanya ASN di lingkungan Pemkab Klaten. Beras premium itu memiliki pasar yang luas, tetapi perlu diperkuat dengan promosi pula. Meski begitu, DKPP siap untuk memfasilitasi petani dengan mitra lainnya, sehingga terbentuk jejaring pasar yang baru.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan, Hortikultural dan Perkebunan DKPP Klaten Lilik Nugraharja menjelaskan, respons atas lahirnya varietas baru padi Rojolele cukup tinggi. Terutama para petani di luar Klaten yang menanyakan pembelian benihnya.

“Untuk saat ini penangkaran benih pada Rojolele di ATP dengan memanfaatkan lahan seluas 3 hektare. Setiap hektare-nya mampu menghasilkan benih 4 ton. Kalau standarnya ditanami 25 kg per hektare, tetapi kenyataan petani kita membutuhkan 35 kg per hektare,” ucap Lilik.

Lebih lanjut dia menegaskan, pembelian benih padi Rojolele Srinuk diawasi secara ketat. Mengingat hanya petani di Klaten saja yang boleh menanamnya. Maka dari itu, petani yang hendak membeli wajib menyertakan syarat KTP, nomor telepon, hingga data lokasi penanaman. Hal itu sebagai bagian dari pemantauan oleh DKPP, sekaligus memudahkan konstraling dalam mencari lokasi penyerapan gabah. (ren/nik/ria)

  Editor : Syahaamah Fikria
#asn #srinar #srinuk #beras rojolele #pemkab klaten #petani #delanggu