Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Nyari Tiwul yang Menul-menul, ke Kenteng Aja

Damianus Bram • Selasa, 3 Mei 2022 | 21:00 WIB
NYAMLENG: Sajian olahan tiwul di Gubuk Tiwul di Dusun Kenteng, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
NYAMLENG: Sajian olahan tiwul di Gubuk Tiwul di Dusun Kenteng, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN - Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten tidak hanya dikenal sebagai desa cikal bakal angkringan. Tapi ada kuliner khas lainnya yang perlu dicoba. Datanglah ke Kampung Lumpang di Dusun Kenteng RT 09 RW 04. Di sini ada tempat kuliner yakni gubuk tiwul. Berbagai olahan dari ketela pohon atau singkong bisa dinikmati di kampung tersebut.

Ide mendirikan kampung wisata dilontarkan Gunadi, 42, warga setempat pada pertemuan warga di 2020. Dinamakan Kampung Lumpang karena di lokasi setempat terdapat situs batu lumpang.

Wisata kuliner Gubuk Tiwul dibangun secara swadaya oleh warga setempat. Tanah warga seluas 700 meter persegi disulap menjadi tempat kuliner yang dilengkapi gazebo dan fasilitas pendukung lainnya. Seluruhnya merupakan hasil gotong-royong.

Photo
Photo
MENYEJUKKAN: Suasana Gubuk Tiwul di Dusun Kenteng, Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Hingga akhirnya pada akhir Agustus 2021, Gubuk Tiwul beroperasi melibatkan 64 tenaga kerja yang dijadwal secara bergiliran di bawah pengelolaan PKK setempat.

Menunya mulai tiwul sambal bawang, tiwul geprek ayam, tiwul goreng, hingga tiwul manis. Ada juga mi lumpang ditambah tiwul, serta soto kuwali tiwul. Harganya Rp 5 ribu-Rp 12 ribu per porsi.

Sedangkan minumannya mulai dari teh manis, jahe, wedang uwuh, dan wedang tape yang dibanderol Rp 2.500-Rp 5.000. Gubuk tiwul buka mulai pukul 07.00-14.00.

“Pada 12 hari pertama buka, omzet kami mencapai Rp 12,5 juta. Pernah tembus Rp 30 juta per bulan. Desember tahun lalu bisa mencapai Rp 45 juta,” ucap Gunadi.

Pada akhir pekan, pengunjung yang datang bisa mencapai 300 orang. Mereka tidak hanya dari Klaten, tapi juga luar kota yang penasaran dengan olahan tiwul.

Itu membuat Gubuk Tiwul semakin dikenal luas sebagai destinasi wisata kuliner di Desa Ngerangan.

Citarasa kuliner di Gubuk Tiwul selalu dijaga. Gunadi juga ancang-ancang mengembangkan home stay dengan menghadirkan penginapan berbasis masyarakat.

Saat ini baru ada empat rumah milik warga yang bisa digunakan sebagai home stay. Pemasarannya dibantu aplikasi booking tempat penginapan. Tertarik untuk menginap? Cukup Rp 100 ribu per malam sudah mendapatkan tempat istirahat yang nyaman ala budaya Desa Ngerangan.

“Beberapa mahasiswa yang melakukan penelitian di desa kami telah menginap di home stay. Disambut keramahan warga kami. Ditambah welcome drink. Tetapi untuk makan, kami tawari ke Gubuk Tiwul atau beli sendiri. Bisa juga diajak makan bersama tuan rumahnya,” terangnya.

Lebih lanjut diterangkan Gunadi, secara bertahap akan mengembangkan pijat. Mengingat, sejumlah warga memiliki keterampilan dalam pijat.

Siti Rohani, 41, salah seorang pengelola Gubuk Tiwul menerangkan, pengembangan usaha terus dilakukan. Salah satunya dengan cara online, hingga mengantarkan pesanan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

“Gubuk Tiwul ini bagian dari pemberdayaan masyarakat. Warga mendapatkan upah per hari disesuaikan omzet serta posisinya,” kata dia.

Warga juga bisa menitipkan produknya di Gubuk Tiwul. Seperti brownies tiwul, rolade, timus, gatot, hingga keripik bekicot dan sate jamur. Menambah lengkap menu. (ren/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#Gubuk Tiwul di Dusun Kenteng #tiwul #Gubuk Tiwul #Wisata Kuliner Gubuk Tiwul