Prosesi di awal dari Candi Lumbung menuju ke altar utama tepat di depan Candi Sewu dengan mengelilingi candi searah jarum jam sebanyak dua kali. Peserta terdiri dari pembawa bendera merah putih dan buddhis. Kemudian terdapat pembawa api obor serta sarana puja seperti dupa, lilin, pelita, bunga, buah dan manisan. Dalam prosesi itu juga diikuti oleh anggota sangha serta pembawa gunungan tumpeng dan hasil bumi.
Ada pun detik-detik Waisak jatuh pada pukul 11.15 dengan melaksanakan puja bakti dan meditasi. Setelah itu dilanjutkan dengan pesan Waisak oleh sangha dan menyanyikan lagu malam suci waisak hingga berkat waisak. Diakhiri dengan pemercikan air berkah oleh sangha kepada para umat Buddha yang hadir.
Dalam penyelenggaraan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat. Mulai dari pembatasan umat yang hadir hingga kewajiban dalam menggunakan masker. Mengingat saat ini masih dalam masa pandemi.
“Hari Raya Waisak kali ini mendapatkan izin dari satgas sekitar 700 umat. Mereka yang hadir berasal dari Jepara, Pati, Boyolali, Wonosobo, Gunungkidul dan Kota Jogja. Termasuk berbagai komunitas dari berbagai daerah yang mengikuti ritual Waisak di Candi Sewu,” ujar panitia detik-detik Waisak di pelataran Candi Sewu, Sugeng Riyanto.
Sugeng mengungkapkan, melalui tema yang diangkat itu menekankan pada kebersamaan yang berlandaskan cinta kasih. Baik dalam perkataan maupun perbuatan di tengah kebhinekaan dengan harapan seluruh mahkluk berbahagia. Terlebih lagi penyelenggaraan detik-detik Waisak pada tahun ini lebih longgar sehingga dengan kehadiran umat bisa memupuk persaudaraan sesama.
“Kenapa ritual Waisak dilaksanakan di Candi Sewu karena semangat nenek moyang kita dahulu sebagai dasarnya. Kita generasi perlu mengingat sejarah masa lampau candi ini yang sangat luar biasa. Terutama terkait kekuatan spritualnya,” ucapnya.
Salah satu umat Buddha yang mengikuti detik-detik Waisak di Candi Sewu, Katman Daman Nanda, 48, menyambut bahagia dan sukacita dalam memperingati Hari Raya Waisak. Meski masih adanya pembatasan dalam ritual akibat pandemi.
“Sebelum Waisak ini mulai 16 April kami berpuasa selama 30 hari. Ada pula tradisi saling berkunjung dengan memberikan penyambutan terbaik terhadap tamu usai hari raya ini,” ujar Katman asal Boyolali ini. (ren/bun/dam) Editor : Damianus Bram