Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Taman Bulusan di Desa Jimbung Jadi Wisata Terapi Air

Damianus Bram • Senin, 30 Mei 2022 | 15:15 WIB
REFRESHING: Salah satu sendang di Taman Bulusan, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes yang digunakan untuk terapi bagi pengunjung. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
REFRESHING: Salah satu sendang di Taman Bulusan, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes yang digunakan untuk terapi bagi pengunjung. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN - Sebuah kompleks sendang di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes sejak lama dikenal dengan keberadaan Bulus Jimbung. Hal itu tak bisa dilepaskan dari keberadaan dua bulus yang pernah menghuni sendang tersebut sebelum akhirnya mati puluhan tahun yang lalu. Dua bulus yang dikeramatkan warga itu yakni Kiai Poleng dan Nyai Remeng.

Kini kompleks sendang tersebut Bernama Taman Bulusan yang berada di tengah permukiman padat penduduk. Di dalamnya terdapat dua sendang dengan air begitu jernih yang memiliki kedalaman 1,5 meter dan 2 meter. Ada pula tumbuh pohon randu alas yang menjulang begitu tinggi di pojokan dari kompleks tersebut.

Pengelola Taman Bulusan, Mashuri, 55, mengungkapkan, satu tahun belakangan ini dia sering mendapati bulus di lokasi tersebut, yang jumlahnya tiga hingga empat ekor. Sering terlihat pada pukul 8.00 pagi. mereka memakan apa saja yang dilempar ke sendang, seperti kerupuk hingga aneka gorengan.

Jawa Pos Radar Solo sempat menunggu kemunculan bulus yang dimaksud dengan dipancing dengan kerupuk. Meski sudah ditunggu beberapa menit tapi tak kunjung menampakan ke permukaan air sendang juga. Padahal sedang tidak ada pengunjung yang sedang berendam di sendang tersebut.

Taman Bulusan kini menjelma sebagai tempat terapi bagi wisatawan yang memiliki keluhan pada kesehatannya seperti stroke. Maka tak mengherankan setelah subuh sekitar pukul 05.00 sudah berdatangan pengunjung untuk berendam. Mereka melakukan terapi secara rutin dengan harapan bisa sembuh.

“Memang saat ini sendang lebih banyak digunakan untuk berenang maupun berendam. Terutama mereka yang menderita stroke, biasanya subuh sudah di sini. Rata-rata orang tua yang datang pada pagi hari,” ucap Mashuri saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di Taman Bulusan, Sabtu (28/5).

Lebih lanjut, Mahari menjelaskan, rata-rata pengunjung melakukan terapi secara rutin dengan berendam selama tiga bulan. Diyakini air yang bersumber dari mata air itu membuat mereka yang terapi sembuh dari sakitnya. Termasuk bisa beraktivitas normal kembali.

“Mereka yang terapi disini nyatanya bisa sembuh. Mereka sudah bisa jalan lagi hingga naik sepeda. Itu yang membuat pengunjung lainnya datang untuk terapi,” ucap Mashuri.

Mashuri menjelaskan, jika pagi hari pengunjung didominasi orang tua, tetapi pada siang hingga sore hari adalah para remaja yang datang untuk berenang. Pengunjung yang hendak masuk ke Taman Bulusan cukup membayar Rp 2.000 per orang, yang uangnya dimasukan dalam sebuah kotak di pintu masuk. Pada hari biasa setiap harinya terdapat sekitar 50 orang yang berkunjung, sedangkan akhir pekan bisa lebih dari 100 wisatawan yang datang.

“Sekarang sebagai pemandian umum. Tidak boleh digunakan untuk menggelar ritual dalam bentuk apa pun. Tetapi tetap diperbolehkan untuk mengambil airnya,” ucapnya.

Sementara itu, Slamet, sekretaris desa (Sekdes) Jimbung menegaskan jika Taman Bulusan tidak boleh digunakan untuk ritual dalam bentuk apapun. Terutama sejak dikelola oleh badan usaha milik desa (BUMDes) setempat beberapa tahun ini.

“Kalau kaitannya untuk mistis (sendang), warga tidak setuju karena mengarah ke musyrik. Kedepannya ya lebih ke arah wisata terkait pengembangannya,” pungkasnya. (ren/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Wisata Terapi Air #Taman Bulusan #Bulus Jimbung