Peserta yang hadir dalam lomba panahan tradisional tersebut berasal dari 20 kota di Jawa, Madura dan Bali. Lomba tersebut digelar dengan gaya mataraman atau memanah dengan posisi duduk bersila serta bandulan sebagai sasarannya.
“Setiap peserta diwajibkan mengenakan pakaian adat dari daerah masing-masing. Bagi peserta dari Jawa mengenakan surjan dan kain jarik lengkap dengan ikat kepala atau blangkon. Begitu juga kain kemen serta udeng untuk peserta dari Bali,” ucap Ketua Panitia, Agung Kritantana, kemarin.
Lebih lanjut, Agung menjelaskan, untuk pemanah perempuan yang ambil bagian dalam ajang tersebut mengenakan kebaya dan kain jarit maupun kemen. Mengingat hal itu menjadi syarat wajib peserta dalam mengenakan pakaian adat tersebut. Gelaran jemparingan gaya mataraman itu menjadi lomba panahan tradisional terbesar selama pandemi Covid-19.
Penyelenggaraan Gladhen Ageng Jemparingan gaya mataraman mendapatkan apresiasi dari Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten. Kepala Disbudporapar Klaten, Sri Nugroho menilai gelaran tersebut menjadi upaya masyarakat dalam melestarikan budaya.
“Tentu hal ini akan sangat berarti bagi generasi selanjutnya. Lewat ajang ini, generasi penerus diajak mengenal budaya sekaligus kegiatan olahraga yang dilestarikan secara turun temurun,” ucapnya.
Menurutnya, jemparingan gaya mataraman juga merupakan identitas bangsa yang harus terus dijaga. Terlebih lagi para peserta yang ikut andil dalam ajang tersebut diajak untuk bangga dengan budaya yang dimilikinya.
“Seperti mengenakan pakaian adat oleh seluruh peserta ini sebagai representative latar belakang budaya dari daerah masing-masing. Tentu ini merupakan upaya yang luar biasa. Kami berharap kegiatan semacam ini terus dibudayakan oleh masyarakat agar tidak tergerus oleh budaya asing,” ucapnya.
Gladhen Ageng Jemparingan tersebut menjadi salah satu kegiatan dari total 109 kegiatan untuk memeriahkan rangkaian Hari Jadi ke-218 Klaten. Masih terdapat berbagai rangkaian kegiatan lainnya yang hendak digelar. Seperti wayangan, sholawat hingga pentas musik.(ren/dam) Editor : Damianus Bram